Tuesday, December 21, 2021

Syarat Mengalami Kedamaian adalah Kesucian

Salam Damai,

Jika tulisan ini dibaca dalam kondisi terhubung dengan Tuhan,  Anda akan mendapatkan manfaat darinya,..

Dear pembelajar,

Kita, masing-masing memiliki pengalaman yang berbeda tentang Tuhan, tentang pengenalan terhadap Beliau dan tentang apa-apa yang Beliau telah perbuat untuk kita. Faktor inilah yang berpengaruh terhadap seberapa kuat atau lemahnya cinta kasih kita kepada Beliau. 

Cinta kasih kita kepada Tuhan, dapat kita ketahui dari seberapa banyak kita ingat Beliau. Apakah kita selalu mengingat Beliau dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, atau hanya kadang-kadang saja,--kadang ingat dan kadang lupa. Lantas, siapa yang bisa mengetahui seberapa besar cinta kasih seseorang kepada Tuhannya? Jawabannya adalah ia sendiri. Jadi, kita tidak bisa men-judge orang lain tentang bagaimana dan seberapa kuat cinta kasih orang tersebut kepada Tuhannya. 

Yang mengerti seberapa banyak saya mengingat Tuhan adalah diri saya sendiri. Yang mengerti seberapa banyak Anda mengingat Tuhan, adalah Anda sendiri dan yang mengerti seberapa banyak mereka mengingat Tuhan adalah diri mereka sendiri.

Namun demikian, tanda-tanda fisik yang bisa dilihat adalah bahwa mereka yang benar-benar mengasihi Tuhan, otomatis mengasihi ciptaan Beliau. Kasih sayang mereka tampak dalam perlakuan mereka terhadap seluruh umat Tuhan (tanpa kecuali) dan seluruh ciptaan Beliau. Kasih sayang ini tak terbatas, sehingga mereka menjadi sosok yang polos seperti Tuhan. 

Polos? Ya! Salah satu gelar/sebutan Tuhan yang saya kagum adalah bahwa Beliau adalah  innocent Lord  (Tuan yang polos). 

Beliau sangat polos. Artinya, seberapa banyak dosa yang telah Anda lakukan, jika Anda datang sekarang dan bertaubat, Anda pasti dibantu untuk berhenti berbuat dosa. Seberapa berat beban hidup akibat dosa-dosa yang telah Anda lakukan, jika Anda datang sekarang , mengakui semua dengan jujur dan bertaubat, Beliau mengampuni dan mengambil alih beban itu. Itulah kepolosan Beliau. Past is over. Yang terpenting adalah sekarang, datang kepada Tuhan, kenali Tuhan lebih mendalam dan berjalan bersama Tuhan dalam sisa usia kelahiran ini., hingga detik akhir saatnya meninggalkan dunia tua ini.

Pembelajar yang saya hormati, 

Kembali kepada topik tulisan hari ini, yaitu tentang kedamaian. Hari ini, Tuhan memberitahu bahwa hari ini, setiap jiwa menginginkan kedamaian, namun kedamaian adalah hal yang mustahil diperoleh, kecuali ada kesucian. Pesan Tuhan adalah, bahwa kedamaian itu, hanya bisa dicapai melalui kesucian. Tanpa kesucian, tidak akan ada kedamaian. Apa ya, maksud Tuhan? Apakah Anda menangkap sesuatu, dibalik ajaran/nasehat Beliau ini?

Okay. Setelah merenungkannya, saya memaknainya begini... 

Tanpa kesucian, tak ada kedamaian. Kedamaian adalah soal perasaan, dan yang merasakan adalah jiwa. Mental dan pikiran ada di wilayah jiwa. Pikiran mempengaruhi perasaan. Jika ada sesuatu yang tidak suci di dalam mental/pikiran saya, maka ini secara otomatis mempengaruhi perasaan saya. 

Jika saya merasa tidak damai, itu pasti karena mental/pikiran saya tidak suci, yaitu tidak bersih dari pikiran negatif dan sia-sia. Contoh pikiran sia-sia, misalnya, kekhawatiran atau ketakutan terhadap hal-hal yang belum terjadi. Menyedihi atau menyesali apa yang sudah terjadi atau terlanjur terjadii, juga merupakan hal sia-sia. Dalam kondisi ini, kedamaian pasti lenyap.  

Namun, jika pikiran kita suci, bersih, tak ada kecemasan, tak ada pikiran sia-sia, tak ada pikiran berdosa, maka kita bisa merasakan kedamaian dalam hati. Itulah sebabnya, Tuhan memberitahu bahwa tidak akan ada kedamaian, tanpa kesucian. Kesucian adalah ibu dari Kedamaian dan Kebahagiaan. 

Nah, Anda pasti memiliki pengalaman yang berbeda tentang nasehat-nasehat Tuhan yang menarik dan berkesan bagi Anda, bukan? Menjadi lebih baik dimulai dari merenungkan nasehat-nasehat Tuhan, melatih diri/mempraktikkannya, dan menjadi perwujudan dari nasehat-nasehat Beliau.

Terima kasih sudah membeca

Salam hormat.  

No comments:

Post a Comment