Sunday, August 23, 2020

"Mbak, Hidup Saya Tidak Bahagia"

 "Bersama dengan membaca, jangan lupa ingat Tuhan"

Dear Pembelajar,

Itu adalah satu kalimat curhat yang disampaikan oleh seorang brother. Agak istimewa sih ketika yang menyampaikan itu adalah seorang brother, sebab biasanya yang merasa tidak bahagia dan berani curhat adalah para sisters

Tetapi setelah saya renungkan dalam-dalam, brother atau sister hanya “kulit” atau “kostum”. Apa yang terbungkus dalam kostum itu sama, yaitu “sang jiwa”, ruh, yang wajah aslinya adalah titik cahaya (niskala), sosok ruhani.

Mengapa hidup saya tidak bahagia?

Karena sang saya tidak otentik. Karena sang saya mengambil alih sifat yang bukan sifat asli. Sifat asli setiap jiwa adalah sifat yang sangat dekat dengan Tuhan. Jika sulit menerima kenyataan, maka saya tinggal mengingat-ingat bagaimana kondisi saya ketika bayi, atau melihat wajah bayi. Innocent, suci, full of love, happy, tenang, damai. Semua sifat Tuhan, ada pada dirinya.

Bahagia adalah power yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap jiwa sejak awal kelahirannya. Sedang penderitaan dan kesengsaraan adalah power yang dianugerahkan oleh selain Tuhan.

Tuhan adalah Sang Pemberkah Kebahagiaan dan Penghapus Kesengsaraan. Jadi Beliau BUKAN Pemberkah kesengsaraan/penderitaan.

Gelar lain dari Tuhan adalah the Comforter of the heart. Jadi bagaimana mungkin memberi penderitaan/kesengsaraan?

Apa artinya jika saya tidak bahagia? 

Artinya, ada yang kurang akurat dengan pemahaman saya akan diri saya yang sebenarnya. Saya lupa ada hubungan istimewa apa antara saya dan Tuhan sebagai “sosok” yang saya yakini sebagai Pencipta (diri) saya.

Setiap ciptaan Tuhan pasti high quality. Kebahagiaan adalah kualitas illahi, sedang ketidakbahagiaan adalah kualitas diluar itu.

Jadi penyebab ketidakbahagiaan hanya satu, yaitu, saya lupa kualitas asli saya. Saya lupa diri saya dan saya lupa siapa Creator saya. Situasi yang buat saya tak bahagia, hanyalah trigger (pemicu) saja.

Tuhan adalah Sang Samudra Kebahagiaan. Beliau adalah Tempat dimana saya bisa mengambil power kebahagiaan, karena Beliau adalah Sang Penghibur Hati.

Saat saya bersedia menyadari hal ini, maka saya pasti akan mengalami pengalaman istimewa.

Saya sadari bahwa sejatinya, pernah ada hubungan yang intim dan istimewa antara saya dengan Tuhan. Saya harus menyalakan kembali tali relasi yang telah padam itu. Saya ingat Beliau dan segera terhubung dengan Beliau.

Hanya saya dan Tuhan, tak ada pihak ke tiga. Saya duduk di hadapan Beliau dan bicara berdua, dari hati ke hati. Saya menyerahkan seluruh diri saya, termasuk persoalan yang sedang saya hadapi. Saya biarkan Tuhan menyelesaikan semuanya, karena saya percaya Tuhan. Saya percayakan itu semua kepada Beliau.

Kemudian...

Seperti HP kehabisan batre dan saya harus menghubungkan dengan sumber listrik agar batre terisi kembali...demikian juga dengan diri saya yang lemah, bersedih karena kehabisan power of happiness. Saya tinggal charging batre diri saya.

Saya tinggal terhubung dengan Sang Sumber Kebahagiaan, Sang Penghibur Hati dan arus kekuatan kebahagiaan (power of happiness) itu otomastis mengalir dalam diri saya.--------- Inilah meditasi.

Terima kasih Tuhan. Terimakasih kepada Anda yang sudah membaca. Salam damai dan hormat selalu.💖

No comments:

Post a Comment