Thursday, July 9, 2020

"Merenungkan Ayat-ayat Tuhan"


"Bersama dengan membaca, jangan lupa ingat Tuhan"
Dear pembelajar,
Setiap hari Tuhan mengajar kita begitu banyak poin pengetahuan keillahian. Beliu memberi petunjuk kepada kita. Sebagian orang menyebut firman, sebagian lainnya menyebut ayat-ayat, dan sebagian lain menyebut sebagai maha vakya (ayat-ayat luhur).


Saya senang menggunakan istilah ayat-ayat luhur, sebab tujuan disampaikannya ayat-ayat adalah agar bisa menjadikan pendengar atau pembelajarNya menjadi manusia yang luhur (elevated).

Jadi, jika sudah lama (sering) saya mendengar petunjuk luhur Tuhan,  tetapi karakter saya tidak berubah menjadi luhur, maka pasti ada “sesuatu” yang salah.

Bagi saya, Tuhan adalah Sang Pengajar Sejati. Setiap hari Beliau hadir mengajar-menyampaikan ayat-ayat nan luhur, tetapi tidak setiap jiwa menyadari ini. Ada yang sadar dan ada yang tidak sadar bahwa Beliau sedang mengajar.

Salah satu metode mencerna dan meresapkan petunjuk Tuhan yang saya suka adalah membangun kesadaran bahwa Tuhan secara pribadi sedang menasehati diri saya.

Maka, saya perlu memeriksa diri.

Ketika saya mendengarkan ayat-ayat luhur yang disampaikan Tuhan saat pagi hari (tidak peduli siapapun yang membacakan), apakah saya mampu membangkitkan perasaan bahwa Tuhan sedang mengajar saya secara pribadi?

Mengapa saya harus menyadari bahwa Tuhan sedang mengajar saya secara pribadi?

Sebab, jika saya tidak mampu memunculkan kesadaran bahwa Tuhan sedang mengajar/menasehati saya secara pribadi, jika saya tidak sadari bahwa nasehat itu spesial untuk saya, maka pikiran saya akan cenderung lari kemana-mana.

Biasanya saya mengira bahwa ajaran yang sedang dibacakan ini lebih cocok untuk si Anu atau si Anu. Intellect saya lantas menganalisis perilaku si Anu dan si Anu. Walhasil, saya pasti berpikir yang perlu berubah adalah si Anu dan bukan diri saya.

Tuhan mengajarkan ayat-ayat luhur, memberi petunjuk lewat ayat tersebut untuk mengubah saya menjadi pribadi yang luhur dari tidak luhur. Tetapi ini hanya akan menjadi realita jika saya mau/bersedia mengalami menjadi itu. Inilah yang dikatakan sebagai menjadi perwujudan (becoming embodiment).

Jadi, saya musti memeriksa ....Ketika saya membaca/diperdengarkan ayat-ayat luhur Beliau, apakah saya merasakan atau mengalami relasi antara Guru-Murid ini, hidup?

Ajaran Tuhan adalah pikiran Tuhan, harapan Tuhan, berkah Tuhan, petunjuk Tuhan. Jika ketika mendengarkan petunjuk Tuhan, pikiran saya lari kepada orang lain dan bukan berfokus kepada diri saya, maka saat itu juga saya gagal. Saya merasa orang lain yang harus berubah dan bukan diri saya yang harus berubah.

Ada beda yang jelas antara petunjuk Tuhan dengan petunjuk selain Tuhan.

Petunjuk Tuhan pasti membawa saya “menaik”- elevated – menjadi luhur, artinya saya tidak jalan di tempat, sifat-sifat saya, karakter saya mengalami kemajuan, yakni mendekat kepada sifat-sifat Tuhan. Sementara petunjuk selain Tuhan membuat saya mengalami kemerosotan (marah, emosi negatif, ego, merasa tidak dihargai dsb)

Jika saya sudah biasa dibacakan, diperdengarkan petunjuk Tuhan, tetapi saya stagnan, pikiran-kata-perbuatan saya tidak bergerak mendekati sifat Tuhan Yang Maha Luhur, maka, walau saya mendengar, tetapi yang saya ikuti adalah petunjuk dari  selain Tuhan. Bisa jadi saya sedang mengikuti petunjuk diri saya sendiri atau petunjuk orang-orang lain.

Terima kasih Tuhan..terima kasih sudah membaca. Semoga selalu damai dan Salam hormat.

No comments:

Post a Comment