Sunday, July 5, 2020

"Ingin Bisa Meditasi"


"Bacalah dengan tetap mengingat Tuhan"
Dear pembelajar,
“Meditasi itu seperti apa? Saya ingin bisa meditasi, tapi takut tersesat”. “Iya..kalau takut, baiknya jangan...”. Inilah biasanya yang saya katakan kepada mereka yang senang/tertarik kala melihat orang bermeditasi, ingin bisa meditasi tetapi takut tersesat. Disisi lain, untuk menghilangkan rasa takut dibutuhkan power of brave (kekuatan keberanian) dan power ini bisa didapat 'hanya' melalui kekuatan meditasi.

Beda pengalaman, beda pula cara memaknai meditasi. Walaupun arti kata sebenarnya adalah healing (penyembuhan), tetapi orang per orang, komunitas per komunitas punya definisi beragam tentang meditasi.

Namun demikian, satu hal yang sama yang dilakukan para meditator ketika mereka bermeditasi adalah, bahwa mereka tengah menghubungkan dirinya dengan Sang Sumber, Sumber Energi Tertinggi, Sumber Energi Tersuci, Yang Maha Suci, Yang Maha Agung, Yang Maha Esa, Sang Samudra Kasih, Sang Samudra Pengetahuan, Sang Pencipta,---yang diwakili satu kata, yaitu Tuhan. 

Bagi yang telah menjadikan meditasi sebagai the way of life, mereka tidak selalu bermeditasi secara formal dengan duduk diam. Setiap gerakannya menjadi meditatif. Karena sudah menjadi kebiasaan yang natural, maka bisa jadi orang tidak mengenali bahwa mereka sedang dalam meditasi.

Makna lain meditasi adalah remembrance, yaitu, mengingat Tuhan. Yang dimaksud dengan "mengingat" di sini adalah  terhubung secara live dengan Tuhan. Apakah ini sulit? Atau mudah?

Tergantung!

Apakah mengingat itu sesuatu yang sulit? 

Memang mengingat sosok yang tidak penting bukan hal mudah. Mengingat sosok yang dengannya saya tidak pernah terkesan adalah sesuatu yang amat sulit. Lain halnya dengan sosok yang berkesan, sosok yang saya cintai dan prioritaskan, mengingat dia pasti secara otomatis terjadi. Saya mau apa saja ingat dia. Secara otomatis.

Nah, meditasi juga begitu. Meditasi menjadi sulit ketika saya tidak menempatkan Tuhan sebagai sosok yang paling  prioritas dalam keseharian saya. Meditasi menjadi sangat sulit manakala saya tidak pernah menempatkan Tuhan sebagai sosok yang saya cintai dan kasihi dengan sangat.

Jika saya tidak pernah terkesan dengan perilaku Tuhan, bagaimana mungkin saya bisa konstan dan kontinyu mengingat Beliau?

Tetapi jika saya buat diri saya jatuh cinta pada Tuhan, jika saya memampukan diri saya untuk terkesan kepada Tuhan, mengasihi Tuhan dengan benar, maka otomatis, dalam setiap perbuatan, sosok Beliau pasti terus terbayang-bayang dalam pelupuk mata saya. Apapun aktivitas yang saya lakukan, mental saya selalu tertuju ke arah Tuhan.

Itulah meditasi.

Jika kondisi ini sudah dialami, maka kemanapun jiwa itu bergerak, maka pikirannya, kata-katanya dan tindak tanduknya akan selalu diwarnai oleh warna Tuhan, warna illahi.

Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa ingat Tuhan. Semoga selalu damai sejahtera dan salam hormat.

1 comment: