Tuesday, June 16, 2020

Menghapus Rasa Tidak Suka kepada Seseorang


Bacalah dengan mengingat Tuhan...
Dear Pembelajar
Salah satu butir permata pengetahuan Tuhan yang saya sukai adalah adalah bahwa setiap jiwa adalah aktor yang sedang berlakon, memainkan cerita Drama di atas panggung bernama dunia.


Saya pernah tidak suka dengan seseorang karena sikap dan perilakunya. Dia pandai berkata-kata manis di depan orang banyak, namun di belakang “panggung”, perilakunya sangat kontradiktif. Oleh karenanya, saya malas mendengarkan dia bicara. Karena yang ada dalam pikiran saya hanya satu, yaitu “lain di bibir lain di hati”. Belakangan saya dipahamkan Tuhan, bahwa sikap saya itu adalah wujud dari kesombongan halus.

Walaupun Tuhan mengajar saya bahwa setiap jiwa adalah aktor, saya selalu gagal untuk meresapkan ini. Masih saja ada rasa tidak suka dengan orang tersebut.

Sampai suatu ketika, saya kembali diingatkan oleh Tuhan, bahwa pelajaran apapun yang saya terima dari Beliau, jika tidak saya resapkan, itu artinya saya belum paham.

Pelajaran adalah teori. Sepanjang saya belum menjadi perwujudan atas butir-butir pelajaran yang saya terima,---ini tidak bisa disebut sebagai saya telah berhasil meresapkan.

Meresapkan berarti menjadi perwujudan. Menjadi perwujudan berarti memahami. Belajar bukan bercerita tetapi eksperimen dan mengalami.

Apa yang dikatakan Tuhan, pasti selalu benar.

Maka, ----Ketika Tuhan memberitahu bahwa semua jiwa bersaudara, itu pasti benar, bukan bohong-bohongan. 

Ketika  Tuhan berkata bahwa setiap jiwa adalah aktor, itu pasti benar. Jika Tuhan beritahu bahwa jiwa adalah titik cahaya, itu pasti benar. Jika Tuhan berkata bahwa setiap jiwa adalah istimewa, itu juga pasti benar. Jika Tuhan katakan bahwa pada dasarnya setiap jiwa adalah baik, itu juga pasti bukan bohongan, itu pasti benar.

Tak ada kata-kata Tuhan yang tidak benar. Tinggal saya mampu meresapkan/merealisasi poin mutiara-mutiara itu atau tidak. Jika saya tidak melakukan eksperimen atas semua kata-kata Tuhan, saya pasti tidak mengalami apa-apa. Jika saya tidak mengalami, maka saya tidak akan menjadi perwujudan. Ini artinya, saya tidak belajar apa-apa dari Tuhan.

Baiklah...saya akhirnya bereksperimen dengan kebenaran yang Tuhan katakan.

Suatu saat saya mendengarkan seseorang yang tidak saya sukai itu, bicara. Kali itu saya percaya apa yang Tuhan katakan bahwa dia adalah aktor dan saya adalah aktor yang sama-sama sedang memainkan peran masing-masing. Saya fokus kepada itu.

Dalam kesadaran saya adalah aktor dan dia adalah aktor, saya tidak lagi berfokus kepada kelemahan/kekurangan jiwa ini. Mata pikiran saya tidak tertuju kepada kekurangan dia, tetapi saya fokuskan kepada titik cahaya yang ada di tengah dahi dia (titik ajna).

Saya melihat dia, titik cahaya, sebagai aktor sedang bekerja mengajarkan hal-hal baik dan benar kepada saya.

Saya melihat dia yang asli, dia yang otentik,---adalah titik cahaya yang punya karakter istimewa. Saya ingat pesan Tuhan bahwa setiap jiwa adalah cantik, istimewa dan bersinar. Jika saya melihat keredupan itu pasti bukan dia yang asli. Itu pasti ilusi. Dia adalah titik cahaya yang cantik dan istimewa.

Saya berfokus kepada sang jiwa, sang titik cahaya dan saya mendengarkan setiap kata-katanya dengan khidmat sebagai pelajaran yang bermanfaat buat saya. 

Hasilnya?

Perasaan saya terhadapnya berubah. Saya mengalami perasaan berterimakasih yang sangat dalam, dan saya menemukan dia betul-betul cantik dan istimewa...bukan hanya berhenti di situ...saya punya good wishes...doa-doa terindah buat dia, yaitu....agar dia selalu cantik dan istimewa, seperti ini...seperti "Pencipta"nya.

Kesadaran yang demikian telah saya uji berulang-ulang kepada beberapa jiwa yang dengannya saya pernah bermasalah.

Dahulu, saya masih punya rasa tidak suka kepada mereka yang tidak sepaham dengan saya dan tidak mengerti bagaimana menyembuhkan penyakit ini. 

Sejak mengenal Tuhan lebih dekat lagi dan sejak Tuhan mengajarkan bagaimana cara memahami pelajaran-pelajaran Beliau, ketidaksukaan berubah menjadi cinta kasih. Tak ada kebencian, tak ada ketidaksukaan, tak ada kepalsuan. Yang ada hanya belas kasih, cinta kasih dan do’a-do’a terbaik.

Tuhan mendorong saya untuk bereksperimen dan mengalami sendiri kebenaran yang Beliau katakan. Bahwa jiwa-jiwa bersaudara, bahwa jiwa adalah sopir dari kendaraan bernama badan, bahwa jiwa adalah titik cahaya niskala, bahwa setiap jiwa aslinya baik, cantik dan istimewa.

Saya adalah titik cahaya, Anda adalah titik cahaya dan kita, jiwa-jiwa adalah titik-titik cahaya. Panggung dunia ini, bukan rumah kita. Rumah jiwa adalah alam jiwa. Alam cahaya. 

Oleh karena itu penting untuk kembali menjadi otentik, apa adanya, natural, realistis.
Sadari diri sebagai jiwa yang sedang berlakon dengan menggunakan badan sebagai pendukung menjalankan lakonan.

Ketika saya sadari bahwa saya adalah jiwa, titik cahaya, maka saya akan terhubung dengan Tuhan, Sang Titik Cahaya. Saya akan terbangun, terjaga dan menyadari tugas pencahayaan yang telah saya abaikan begitu lama.

Kerja pencahayaan dari sang titik cahaya, tidak pernah dan tidak mungkin mengenal batas. Ia pasti melampaui segala yang terbatas, ....melampaui sekat-sekat, nama, wujud dan label-label lainnya yang terbatas.

Terimakasih sudah membaca. Salam damai dan jangan lupa ingat Tuhan.

No comments:

Post a Comment