Tuesday, May 19, 2020

Manusia dan Penderitaan


Jangan lupa ingat Tuhan dalam pembelajaran
Dear pembelajar,
Saya telah membaca semua catatan kisah penderitaan/kesedihan yang pernah kalian alami. Terimakasih sudah berbagi.


Sebagian besar adalah kisah kehilangan orang-orang yang Anda sayangi, sebagian lainnya adalah kenangan pengalaman pahit sebagai konsekwensi dari berbohong kepada orang tua, dan ada juga yang pernah mengalami penderitaan karena penganiayaan dan penyakit. Bagaimanapun saya bersyukur, karena Anda telah menyadari semua itu dan bergerak maju ke arah yang lebih baik.


Saudara....inilah yang perlu Anda renungkan.

Mengapa saya menderita? Pada hakikatnya penyebab penderitaan adalah :

Pertama, Saya lupa siapa sejatinya saya. Saya lupa bahwa saya adalah kreasi Tuhan. Kreasi Tuhan pastilah baik dan indah. Kalaupun kondisinya hari ini saya tidak baik dan tidak indah, saya harus yakin bahwa situasi penderitaan yang  tengah saya hadapi, pasti ditujukan untuk pembelajaran. Tujuannya adalah,  agar saya menjadi kembali baik dan kembali indah. 

Maksud dari "kembali baik dan kembali indah"?

Yaa..! Kembali bagus dan kembali indah, karena memang aslinya setiap ciptaan Tuhan adalah demikian, baik, indah, cantik, sempurna.

Karakter asli dari kreasi Tuhan pasti love, peace, happy, pure and truth. (Ingat materi tentang jiwa!)

Jadi...jika tidak ada kasih dalam diri saya, jika saya tidak damai, jika saya tidak bahagia, itu artinya saya sedang lupa diri saya yang sebenarnya. Saya sedang menyangkal kesejatian/keaslian saya. Saya telah menjadi palsu. Menjadi palsu karena kontaminasi karakter yang diberikan oleh selain Tuhan.

Ketika saya menderita, itu artinya ada ketidaksucian di dalam diri saya. Saya bisa memeriksa apakah lima karakter palsu yang diberikan oleh selain Tuhan, yaitu amarah, nafsu, keserakahan, keterikatan dan ego, ada di dalam diri saya.

Ketika saya menderita, itu pasti karena saya sedang diserang amarah, diserang nafsu, diserang kerakusan/keserakahan, diserang keterikatan atau pun sedang diserang ego.

Orang yang marah, ia pasti sedang menderita. Orang sedang bernafsu, ia menderita. Orang serakah, ia menderita. Orang melekat/terikat kepada apa dan siapa, ia pasti menderita. Demikian juga, orang yang egois, ia bergumul dengan penderitaan.

Penyebab ke dua mengapa saya menderita adalah karena, saya lupa Tuhan. Saya telah melupakan apa yang Tuhan katakan. Saya juga lupa keyakinan saya. Saya sering menasehati orang-orang, saya juga sering menasehati diri sendiri bahwa segala sesuatu di muka bumi ini adalah milik Tuhan, tetapi begitu milik Tuhan itu kembali atau sedikit bergeser ganti posisi, atau berlaku tidak sesuai harapan saya, maka  saya menjadi marah, sakit hati, kecewa dan menderita.

Kata-kata saya menjadi kata-kata kosong tak ada makna. Pikiran dan keyakinan saya hanya berhenti pada “kata-kata”. Saya tidak bisa menjadi perwujudan dari kata-kata saya.

Saudara....
Apa yang menyebabkan gap antara kata-kata dan perbuatan? Apa yang menyebabkan gap antara pikiran dan kata-kata? Mengapa saya berpikir A tapi saya melakukan B? Mengapa saya berkata A, tetapi saya melakukan B?

Ada satu hal yang hilang di sana, diantara pikiran dan perbuatan, diantara kata dan perbuatan, yaitu “pengalaman”.

Saya menghilangkan experience (pengalaman). Untuk menyamakan antara pikiran, kata dan perbuatan, saya harus mengalami apa yang saya pikirkan dan saya harus mengalami (membuat menjadi nyata), apa yang saya katakan.

Demikian semoga menjadi lebih jelas. Apa yang sudah Anda baca memerlukan perenungan yang mendalam.

Terimakasih telah membaca, jaga diri baik-baik dan jangan lupa ingat Tuhan.



No comments:

Post a Comment