Friday, February 7, 2020

Esensi dan Tujuan Meditasi


Bacalah dengan mengingat Tuhan saja,
"Remember ME alone and your sins will be absolved" (HE Himself)
Dear pembelajar,
Judul hari ini adalah Esensi dan Tujuan Meditasi. Esensi meditasi adalah terhubung dengan Tuhan, dan walaupun penjabarannya bisa luas, tujuan tertinggi dari meditasi bisa diringkas dalam hanya satu kata, yaitu Kesucian.

Salah satu makna dari kata suci adalah terbebas dari penyakit. Bukan penyakit raga, tetapi penyakit jiwa.

Yang disebut sebagai penyakit jiwa adalah seluruh penyakit yang menyerang jiwa, seperti amarah, nafsu, keserakahan, keterikatan, ego, kecerobohan, kesombongan dsb.

Ketika seseorang bermeditasi, saat itu sang jiwa terhubung dengan Sang Maha Jiwa (Tuhan). Saat inilah terjadi kenikmatan rohani yang bukan merupakan teori tetapi pengalaman diri sendiri. Persis seperti kegiatan charging, men-charge batrei yang lemah agar memperoleh power kembali. Arus mengalir dari Sang Sumber.

Inilah sebabnya ketika banyak orang bertanya tentang bagaimana bermeditasi, maka para meditator agak kesulitan menjelaskan dengan kata-kata. Karena meditasi tidak bisa dipelajari melalui membaca tentang teori meditasi, tetapi meditasi itu dialami.

Contoh pengalaman adalah ketika satu hari dalam pelajaran spiritual, Tuhan mengatakan, “Nak, SAYA, Ayah-mu dan Ayah bagi seluruh jiwa, SAYA tidak meminta apa-apamu, termasuk uangmu. SAYA hanya meminta engkau melepas perhiasan sifat-sifat burukmu. Sebab perhiasan-perhiasan itu milik Rahwana, bukan milikmu. Tak pantas engkau kenakan itu. Tanggalkan mereka, berikan kepada SAYA dan jangan lagi mengenakannya.”

Saya jatuh cinta pada satu pelajaran ini. 
Mengapa? Saya mengalami bahwa Tuhan ternyata begitu baik dan maksudNya juga tersangat baik. Tuhan tidak menginginkan apapun dari saya. Beliau bahkan tidak memberikan kesulitan apapun. Beliau hanya menginginkan sesuatu yang bernilai jerami, tetapi sebagai penggantinya, Beliau berikan permata-permata illahi.

Saya hitung-hitung tentang apa yang Beliau minta dari saya. 

Hmm..Hanya sifat-sifat buruk. Hanya amarah, nafsu, keserakahan, kemelekatan dan ego. Sifat-siat inilah yang menyulitkan kehidupan saya. Sifat-sifat inilah yang membuat saya tidak bahagia. Dan sekarang Beliau meminta itu untuk diserahkan kepada Beliau. Bukan harta, bukan uang, bukan kekayaan. Hanya sesuatu yang bernilai jerami. (jerami adalah istilah Beliau yang dipakai sbg pembanding kata ‘permata’)

Saya resapkan pelajaran....

Manakala saya rela menanggalkan semua sifat buruk yang selama ini saya kenakan sebagai perhiasan. Saya bayangkan ketika saya rela memberikan sifat-sifat buruk saya kepada Tuhan. Jika ini berhasil, lalu sifat-sifat seperti apa yang akhirnya tersisa di dalam saya?

Tuhan bilang sifat otentik saya akan muncul. Dan saya percaya apa yang Tuhan katakan. Karena apa yang Tuhan katakan selalu benar.

Setelah penanggalan dilakukan, maka yang tersisa hanya sifat-sifat saya yang otentik, yang illahi, yang asli dari Tuhan, yaitu love, peace, happy, pure and truth. Yaitu, cinta kasih, damai, bahagia, suci dan benar. Inilah perhiasan diri yang asli diberikan Tuhan saat pertama kali saya dan Anda dilahirkan.

Walau pelan tetapi akhirnya saya mengerti pengajaran Beliau. Hanya Tuhan, Sang Guru Sejati yang metode penjelasan dalam pengajaran-Nya tidak bisa ditiru oleh siapapun.  

Thank God, Guru and my Guide.

Setetes pengetahuan spiritual ini diambil dari pengalaman pembelajaran di BKWSU (Brahma Kumaris World Spiritual University)

1 comment:

  1. In my view, the main aim of meditation is to relax and feel the atmosphere of your own body and soul. Will you agree with that?

    ReplyDelete