Thursday, July 25, 2019

Jika Saya Tertarik Membahas Keburukan Orang Lain Artinya Saya Masih Buruk


Salam Damai,

Orang berkata bahwa tidak ada manusia yang sempurna, apalagi sekarang. Pikiran ini pikiran manusia dan ini benar adanya. Tetapi, jika kita mau belajar tentang pikiran Tuhan, maka kita akan diberitahu bahwa ada beda yang jelas antara pikiran manusia dan pikiran Tuhan. Biasanya, kita lebih percaya dan mengikuti pikiran manusia dibanding pikiran Tuhan. Lalu, apa pikiran Tuhan tentang kesempurnaan?

Saat ini memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi bukan berarti manusia tidak bisa mencapai kesempurnaan. Tuhan ingin kita kembali menjadi sempurna. Karena kita pernah sempurna. Pada awal penciptaan, manusia ada pada puncak kesempurnaan. Manusia sempurna hanya ada ketika dunia ini adalah Surga. 

Nah, jika kita ingin kembali ke sana, tidak ada jalan lain kecuali mencapai kesempurnaan. Mencapai kesempurnaan artinya, bebas dari kekurangan, kelemahan, kejelekan dan kesia-siaan. Menjadi bersih, menjadi diri yang asli/sejati.

Walaupun banyak orang tidak percaya bahwa manusia bisa kembali mencapai kesejatiannya, tetapi Tuhan meyakinkan bahwa itu bisa dicapai dan pada akhirnya, harus dicapai, bila ingin kembali. Campuran besi berkarat harus dihilangkan. Bagaimana caranya?

Hal utama adalah memeriksa diri dan bertanya kepada diri sendiri: “Sejauh mana saya telah meninggalkan keaslian saya? Seberapa kadar kontaminasi di dalam diri saya. Keaslian artinya, saya yang aslinya/awalnya diciptakan, yaitu saya yang berkarakter love, peace, happy, pure and truth.

Apa tanda-tanda bahwa diri sudah menjadi palsu?

Palsu artinya tercampur-campur, tidak lagi asli. Emas yang awalnya 24 karat, telah tercampur-campur dengan tembaga dan besi. Bukan hanya tercampur, tapi bahkan didominasi oleh bahan berkarat. Emas hanya tinggal sebagai pelapis/sepuhan, sementara di dalamnya, terkandung campuran kepalsuan.

Jiwa menjadi palsu melalui kehilangan kemuliaan/keaslian. Ia didominasi oleh kenegatifan.

Tanda bahwa saya didominasi negatifitas/kejelekan adalah, saya cenderung tertarik kepada kekurangan, kelemahan, kejelekan dan kesia-siaan orang lain. Saya gagal menemukan kebaikan atau kepositifannya. Saya tertarik membahas kekurangan, kelemahan, kejelekan dan kesia-siaan orang lain. Inilah pertanda bahwa dalam diri saya, masih banyak mengandung kejelekan. Ini memang sangat-sangat halus.

Saya hanya akan mendekat kepada orang yang punya kecocokan dengan saya. Anda juga akan mendekat kepada orang yang punya kecocokan dengan Anda, bukan?

Dalam contoh lain, apabila saya dijanjikan dijemput oleh sahabat saya di Bandara, karena saya telah lama bersahabat dengannya, maka saya yakin saya bisa mengenalinya. Walaupun ia ada ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang tidak saya kenal, dengan hanya melihat mata, hidung atau wajahnya, saya tertarik mendekat kepadanya. Hanya saya yang dapat mengenali dia. Saya, dengan menggunakan mata saya, akan mencari-cari dia. Demikian juga, dia pun akan mencari-cari saya. Karena kami saling mencari, dari kejauahan ketika kami berpandang-pandangan, kami bisa saling mengenali dan kemudian saling mendekat.

Nah...demikian juga dengan karakter diri saya. Di dalam saya sekarang ini, ada kenegatifan dan kepositifan.

Bagian negatif diri saya, jika saya aktifkan, ia akan tertarik ketika ada kenegatifan muncul atau dimunculkan oleh jiwa lain. Sebaliknya, bagian positif diri saya, jika saya aktifkan, ia  pun akan hanya tertarik dengan hal-hal positif diluar sana. Kalaupun ia bisa mengenali kenegatifan atau kekurangan atau keburukan orang lain, ia tidak akan tertarik.

Hanya yang saling kenal dan saling tertarik, yang bakal saling menyambut dan bergandeng tangan, bukan?

Jadi, jika saya mampu melihat, lalu tertarik dan masih terpengaruh oleh kekurangan orang lain, artinya, saya masih memiliki kekurangan yang sama. Saya masih hidup dalam kepalsuan. Menjauh dari keaslian keillahian.

Salam Damai...

No comments:

Post a Comment