Friday, July 12, 2019

Hari ini Tuhan Mengajar Tentang Dua Ayah


Om shanti.

Om shanti artinya, saya (sang jiwa), damai. Bagi saya, mantra ini sederhana, tetapi ia bekerja dahsyat dalam diri saya. Utamanya, dalam menempuh perjalanan mencari Tuhan dalam sisa umur saya. Tuhan adalah Sang Titik Cahaya, Sang Penerang dan Pensuci, Sang Samudra Pengetahuan, sosok yang dipuja dan dipuji begitu banyak orang. 

Bahkan begitu banyak orang merindukan kehadiran Beliau. Setiap hari, dari waktu ke waktu, kalimat-kalimat suci digemakan dimana-mana. Hanya untuk satu atau beberapa tujuan, antara lain, agar...: Tuhan datang untuk menyelamatkan, Tuhan datang untuk mengubah dunia yang rusak/tua menjadi kembali baru, Tuhan datang untuk menghancurkan yang batil dan menegakkan yang hak, Tuhan datang untuk menunjukkan jalan pulang, Tuhan datang untuk membawa manusia pulang ke Surga, Tuhan datang untuk mensucikan yang tidak suci menjadi suci dan Tuhan datang untuk mensucikan dunia.

Dimana-mana, air mata kasih meleleh, tercurah dan terlimpah untuk Tuhan. Seolah seisi dunia tua ini tidak lagi tahan dengan penderitaan, bencana dan kesengsaraan yang terpampang dan sambung menyambung.

Tetapi yang menarik hari ini adalah Tuhan mengajarkan agar jiwa-jiwa mengingat kembali bahwa ia mempunyai dua ayah. Ayah fisik dan Ayah Ruhani (spiritual). Ayah fisik memberi warisan terbatas sedang Sang Ayah Ruhani memberi warisan yang tak terbatas. Ayah fisik mewariskan hal-hal yang sifatnya fisik dan terbatas, sementara Tuhan, Sang Ayah Ruhani, mewariskan warisan yang tidak terbatas.

Apakah warisan dari Sang Ayah Ruhani? 
Salah satunya adalah Nilai-nilai luhur atau Nilai-nilai Illahiah. Nilai-nilai luhur itu antara lain adalah perasaan cinta kasih, perasaan damai, perasaan kebahagiaan, perasaan bersih dan suci, dan kebenaran. Ini adalah warisan. Ini adalah Warisan yang diwariskan oleh Sang Ayah Ruhani kepadan anak-anak ruhani (sang jiwa).

Lalu apa hubungannya antara warisan ruhani, warisan bernilai spiritual ini dengan keadaan seluruh jiwa yang mengalami kesulitan, kesengsaraan dan penderitaan hari ini?

Anak-anak (Ruhani) membutuhkan Nilai-nilai tersebut untuk menghadapi situasi dan kondisi yang sarat kesengsaraan pada hari ini.

Nilai-nilai itu umpama “senjata” yang diperlukan anak-anak Tuhan dimanapun berada. Sang Ayah mengerti apa kebutuhan anak-anak Beliau pada saat ini. Inilah perhiasan sekaligus senjata yang bisa menyelamatkan anak-anak dari kesengsaraan dan penderitaan yang sewaktu-waktu bisa datang di hadapan setiap anak. 

Nilai-nilai illahi itu telah begitu melemah setelah setiap jiwa menempuh perjalanan hidup yang begitu panjang dan melelahkan. Itulah sebabnya, Beliau mengingatkan setiap jiwa, anak-anak Beliau dimanapun berada tentang “Dua Ayah”.

Nilai-nilai spiritual hanya bisa diajarkan oleh Sang Ayah Spiritual. Nilai-nilai Illahi hanya bisa diajarkan oleh Sang Ayah Illahi. Sang Ayah Illahi, bukan ayah fisik, melainkan Ayah Ruhani.

Hari ini, anak-anak Tuhan, banyak yang mengalami kebingungan tentang mengapa sesuatu bisa terjadi seburuk ini.

Anak-anak (ruhani) Tuhan juga banyak mengalami ketakutan akan kemiskinan, perang, bencana, kriminal, kejahatan, takut kehilangan kekuasaan, kehilangan pasangan dan keluarga, takut terjadi perselingkuhan, takut ditimpa penyakit, takut tersesat, takut mati dll.

Ini didengar Tuhan melalui doa yang diucapkan dan air mata yang dicurahkan. Itulah sebabnya, Beliau mengingatkan bahwa masih ada satu Ayah, yang terlepas dari memori. Masih ada satu Ayah, yaitu Ayah yang selama ini dilupakan. Yaitu, Beliau sendiri. Anak-anak telah lupa. Atau berfluktuasi, kadang lupa dan kadang ingat.

Bingung dan takut bukanlah penyakit fisik/jasmani yang bisa diobati melalui cara medis. Bingung dan takut adalah penyakit ruhani. Itulah peran Sang Ayah Ruhani mengingatkan, bahwa setiap jiwa dahulu dibekali dengan Nilai-nilai Illahi nan luhur yaitu cinta kasih, damai, bahagia, suci dan benar. Tetapi hari ini perhiasan itu hilang tak berbekas. Nilai-nilai itu adalah warisan. Warisan hanya bisa diperoleh melalui menjadi hak waris. 

Seorang anak akan otomatis menjadi ahli waris dari ayahnya. Demikian juga dalam level/wilayah ruhani. Setiap anak ruhani punya hak (waris) atas kekayaan Sang Ayah Ruhani.

Maka, wahai jiwa-jiwa dimanapun berada, agar warisan itu terus mengalir, ingatlah Sang Ayah Ruhani (Tertinggi), ingatlah Tuhan tanpa jeda.

Karena yang demikian, akan membebaskanmu dari kesendirian. Yang demikian akan menjaga arus illahiah terus mengalir dalam diri sang jiwa.

Jika ruh terkoneksi dengan Ruh Tertinggi, jika sang jiwa senantiasa terkoneksi dengan Sang Jiwa Tertinggi, jika titik cahaya selalu terkoneksi dengan Sang Titik Cahaya, apa yang akan terjadi?

Terang dan hanya terang. Apa yang terjadi jika setiap jiwa menyala terang? Kegelapan sirna, kebingungan dan ketakutan hilang.

Om shanti. Saya (jiwa) damai.

No comments:

Post a Comment