Tuesday, July 16, 2019

God is the Remover of Sorrow and the Bestower of Happiness


Om shanti...
Tuhan adalah Sang Penghapus Kesengsaraan dan Sang Pemberkah Kebahagiaan. Demikian  mahavakya (Sabda Luhur dan Universal) yang Beliau ajarkan dalam Gita, hari ini. 

Gita adalah studi spiritual dan makna spirit adalah ruh/atma/soul/jiwaMaka studi ini hanya akan dapat dipahami jika pembelajarnya memahami, dan mengalami bahwa dirinya sejatinya adalah jiwa (bukan raga), sosok ruhani (bukan jasmani), anak Sang Ayah Ruhani.

Menerima kenyataan sebagai anak Tuhan, bisa merupakan pengalaman termanis, juga bisa menjadi fakta yang terpahit dalam hidup yang sekarang. Tergantung dari banyak faktor, termasuk faktor pengalaman itu sendiri.

Ini bisa dipahami. Dalam cerita dunia fisik saja, jika seorang anak sejak bayi telah diadopsi oleh keluarga lain, maka ia akan terkejut ketika suatu saat bertemu dengan seseorang yang mengaku dan menjelaskan bahwa seseorang tersebut adalah orang tuanya yang asli/sejati. Sang anak ini pasti berontak dan sulit untuk menerima kenyataan. Bahkan walaupun orang tua asuhnya membenarkan cerita ini, ia akan tetap sulit menerima. Mungkin ia akan menyalahkan semua orang yang dia tuduh sebagai membohongi, lalu bisa jadi memilih lari menjauh untuk menemukan waktu menenangkan diri.

Sejak jatuh ke jalan dosa, kesadaran yang diciptakan oleh dunia fisik adalah kesadaran badani. Artinya, seorang anak diberi pengertian sebatas dan terbatas bahwa dirinya adalah badan (kostum)---yaitu, laki-laki, perempuan, kulit putih, kulit hitam, bangsa ini, bangsa itu, agama ini, agama itu, bahasa ini, bahasa itu.... 

Tidak satupun orang tua fisik/jasmani, pernah mengajarkan dan menjelaskan bahwa diri sejati setiap anak adalah “ruh”. Hanya Sang Ruh yang mampu menjelaskan hal ikhwal tentang ruh dan dunia Ruhani. Hanya Sang Ruh Utama, yang mampu memberi pengertian secara benar, bahwa yang datang dari Tuhan dan pulang bersama Tuhan adalah ruh-ani, bukan jasmani.

Kehilangan kesadaran jiwa, yaitu kesadaran bahwa saya sejatinya adalah jiwa dan orang tua saya tentu saja adalah Sang Jiwa Utama, inilah yang menyebabkan berbagai penderitaan muncul, zaman demi zaman.  Jiwa telah lama melupakan diri sejatinya, sekaligus melupakan siapa orang tua aslinya.

Tujuan utama dan sejati dari belajar pengetahuan spiritual adalah pemurnian jiwa dan ini mustahil dicapai tanpa perserahan dan penanggalan kebiasaan-kebiasaan buruk, lalu mengenal lebih mendalam dan menjalin hubungan yang intens, merajut relasi yang hidup, dengan Tuhan.

Kesalahan kesadaran (ketidaksadaran) ini pernah membuat saya salah mengerti tentang Tuhan. Saya mengira bahwa Tuhanlah yang memberi saya sakit, kesedihan dan penderitaan. Bahkan itu saya jadikan kebiasaan untuk menghibur diri agar saya merasa lega. Tetapi rasa lega itu tidak bertahan konstan. Saya hidup dalam pusaran penderitaan dan kebahagiaan yang silih berganti. Sebentar bahagia sebentar susah. Bahkan saya menuduh Tuhan merencanakan ini semua. Beliau merencanakan kesusahan dan kebahagiaan, Beliau merancang beban penderitaan bahkan Beliau merancang Neraka untuk saya.

Sampai akhirnya saya menyadari, memahami dan mengalami hadirNya Beliau, mengajarkan, menyampaikan mahavakya, bahwa Beliau adalah Sang Ayah Sejati. Beliau adalah Penghapus Penderitaan dan Pemberkah Kebahagiaan.

Tuhan tidak pernah punya karakter yang saling kontradiktif. Jika Beliau mengatakan bahwa Beliau adalah Penyabar, maka Beliau pasti benar-benar Penyabar. Tidak mungkin Beliau adalah Pemarah (walaupun itu dalam bentuk halus sekalipun), apalagi menjadi kadang marah dan kadang sabar. 

Jika Beliau adalah Penghapus kesengsaraan, mana mungkin Beliau memberi penderitaan. Jika Beliau adalah penghapus kesengsaraan, Beliau pasti hanya menganugerahkan kebahagiaan.

Sang Ayah, yang adalah sosok Penghapus Kesengsaraan, bagaimana mungkin sanggup merancang/mentakdirkan penderitaan, beban dan apalagi menyiapkan Neraka untuk menghukum anak-anak-Nya.

Jika Anda punya kuasa untuk menentukan takdir atas anak-anak Anda, Anda tentu akan memilih takdir baik dan keberuntungan yang konstan bagi anak-anak Anda, bukan? 

Tidak mungkin Anda memilih takdir baik buat anak yang nomor satu, takdir buruk buat anak nomor dua,----takdir sehat buat anak nomor satu dan takdir penyakit untuk anak nomor dua----takdir kaya buat anak nomor satu dan takdir miskin dan kekurangan untuk anak lainnya.

Sebagai orang tua fisik saja...jika saya punya kuasa menentukan takdir, maka saya tidak akan punya hati untuk pilih kasih memperlakukan anak-anak saya setega itu, mungkinkah Tuhan, Sang Ayah Sejati, punya hati untuk melakukan itu semua kepada saya?

Memberi ujian terus menerus, memberi cobaan tiada henti, memberi beban-beban hidup dan merancang penjara/neraka. Ayah jenis apa yang sanggup melakukan hal-hal demikian kepada anak-anaknya yang katanya dikasihi tanpa pamrih?

Sementara Beliau menyampaikan sabda luhur-Nya bahwa Beliau adalah Sang Penghapus Kesengsaraan dan Pemberkah Kebahagiaan, mungkinkah Beliau melakukan hal-hal yang sebaliknya? Memberi kesengsaraan dan menganugerahi kesedihan? Berkhianat atas sabda Beliau sendiri? 

Sekali lagi...Ini adalah studi ruhani. Yang sedang belajar adalah para ruh, para jiwa, para atma, para spirit, yaitu, mereka yang sedang menyadari bahwa diri sejatinya adalah sosok ruhani yang tinggal di dalam badan yang disebut jasmani.

Om shanti...
Salam Damai..

Artikel Sebelumnya:

#meditasirajyogabrahmakumaris
#brahmakumarisworldspiritualuniversity



No comments:

Post a Comment