Friday, January 12, 2018

The Spiritual Nectar (2) : Ketika Saya Gemar Bergosip, Apakah itu Karakter Saya?


Bacalah sambil mengingat Tuhan,
"Syarat untuk mencapai kedamaian sejati adalah kesucian. Kesucian pikiran, kata-kata dan perbuatan"

Dear Pembelajar,
Ketelibatan dalam gosip terjadi ketika saya tidak sadar diri. Mata melihat kejadian dan telinga mendengar sesuatu yang tidak patut, lalu "saya" yang tidak sadar diri bisa mengolah apa yang saya dengar dan lihat, berdasarkan pengalaman dan pikiran-pikiran saya sendiri. 

Selanjutnya, saya bisa menjadi sumber gossip. Bila bukan jadi sumber gossip, saya juga bisa cepat tertarik untuk terlibat dalam gossiping, yang topiknya adalah sesuatu yang saya lihat dan dengar tadi.

Ini terjadi berulang-ulang, walaupun saya sebenarnya tidak menyukai hal ini. Biasanya saya menyesal setelah kejadian dan lalu berjanji tidak akan mau terlibat dalam gossiping. 

Gossiping menjadi sesuatu yang natural, bila ini adalah kebiasaan saya. Saking naturalnya, sampai-sampai saya tidak merasa perlu mengingat dosa yang ini, saat waktu saya melaksanakan ibadah kepada Tuhan. 

Tetapi jika bukan merupakan kebiasaan saya, maka perbuatan berdosa gossiping bisa melukai hubungan saya dengan Tuhan. Saya tidak akan mampu fokus dan berkonsentrasi dengan benar, saat saya ingin terkoneksi dan berkomunikasi dengan Tuhan. Koneksi saya tidak akan akurat. Komunikasi kami tidak nyambung. Terputus atau tersendat-sendat.

Bagaimana cara mengatasi hal ini?

Cara mengurangi atau menghilangkan kebiasaan buruk ini dan kebiasaan buruk lainnya yang sudah menjadi karakter, adalah understanding myself and understanding the faculty of the soul.

Untuk sadar diri (sadar jiwa), bisa dibaca di sini

Intinya, saya, sejatinya adalah sang jiwa, yang aslinya punya sifat-sifat luhur dari Tuhan. Luhur adalah sifat saya yang asli bawaan/pemberian Tuhan. Tetapi sifat-sifat luhur saya luntur sejak saya menjauh dari keaslian saya. 

Understanding myself akan membuat saya mampu understanding God, and understanding others.

Sebab, jiwa lain, sama seperti saya. Sama-sama mempunyai sifat asli yang dibawa dari Tuhan, yaitu illahi. Asli mereka, sama seperti saya. Yaitu, luhur-mulia-illahi. Mereka pun, wujud aslinya adalah cahaya-cahaya (makhluk ruhani), sama seperti saya.

Sekarang, tentang understanding the faculty of the soul.

The faculty of the soul, ada tiga, yaitu mind, intellect and sanskars. Tiga komponen ini ibarat para menteri saya.

Mind (mental), tugasnya adalah menghasilkan pikiran. Mind produces thought.

Intellect, dalam bahasa Hindi disebut the buddhi, dalam bahasa kita adalah akal budi. Sedang sanskars, adalah memori, kenangan, kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan.

Ketika saya melihat atau mendengar sesuatu, mental saya langsung berpikir dan kemudian menghasilkan buah pikiran (thoughts). 

Pikiran yang tercipta bisa baik atau buruk, tergantung pengalaman atau cara pandang saya sebelumnya yang telah menjadi sanskara.

Ketika saya melihat atau mendengar sesuatu yang buruk, mental saya tertarik untuk berpartisipasi atau tidak berpartisipasi dalam gossiping. Tetapi, apa kemudian keputusan saya? Terlibat atau tidak terlibat? Mata dan telinga tidak bisa berpikir. Mereka juga tidak bisa memilah apalagi memutuskan.

Siapa yang mengambil keputusan untuk berpartisipasi atau tidak?

Saya! Saya melalui kerja intellect-akal budi saya. 

Fungsi akal budi saya adalah menimbang-nimbang baik/buruk atau benar/salah dari perbuatan gossipping. 

Sebagai catatan penting, yang perlu saya ketahui adalah ketika akal budi saya berfungsi sebagaimana mestinya, saya pasti mengerti bahwa akal budi saya sedang mengadili perbuatan saya sendiri, bukan mengadili perbuatan orang lain. I am not judging others but me myself. 

Kualitas keputusan atau penilaian saya atas sesuatu tergantung pada seberapa bersih intellect saya. Dengan kata lain, akurasi keputusan saya sangat tergantung kepada jumlah sampah, yaitu jumlah pikiran negatif dan jumlah pikiran sia-sia yang ada di sana. Oleh karenanya, untuk bisa bekerja dengan akurat, intellect saya harus dalam keadaan jernih. 

Sekarang, akal budi saya menimbang-nimbang, mau menghentikan/menghindari gossiping atau melanjutkannya dan menganggap ini sebagai hal biasa saja dan bukan merupakan perbuatan yang salah.

Manakala akal budi saya bangun/terjaga, ia berfungsi sebagai filter. Akal budi mengerti mana benar dan mana salah. Akal budi mengerti, mana perbuatan yang illahi/mulia dan mana perbuatan yang salah. 

Akal budi ada dalam "ruh" dan jika selalu terhubung dengan Sang Ruh (Tuhan), maka ia akan selalu jernih, benar dan akurat dalam mengambil keputusan.

Keputusan yang diambil oleh akal budi yang illahi, selalu akurat. Keputusan tersebut kemudian dilaksanakan dan menjadi suatu tindakan, yaitu (dalam kasus ini) saya kemudian, memutuskan berhenti bergosip. 

Tindakan yang saya lakukan ini, akan berulang seperti itu selaras dengan kerja mental dan akal budi saya. Inilah yang kemudian terekam di dalam saya dan disebut sebagai sanskara atau kebiasaan. 

Jadi, jika saya bertanya tentang bagaimana saya bisa memutuskan sesuatu dengan akurat, sehingga perbuatan saya pun bisa akurat, maka jawaban utamanya adalah intellect atau akal budi saya harus jernih, bersih dari pikiran negatif dan sia-sia.

Tiga fakultas dalam ruh/jiwa, yaitu pikiran, akal budi dan sanskara inilah yang "pergi meninggalkan badan saya" ketika saya disebut mati. Pikiran, akal budi dan sanskara inilah yang sejatinya mampu membentuk-memperbaiki-membangun karakter saya.

Cerita-cerita tentang karakter baik yang saya dengar hanyalah cerita atau teori yang menyentuh kulit permukaan, tidak sampai kepada isi. Cerita itu akan menjadi nyata ketika saya bersedia mengalami itu. Yaitu ketika, "saya" sang jiwa tersentuh, mau belajar tentang itu dan mengalami itu.

Jasmani saya tidak merekam sesuatu, otak fisik saya tidak mengingat sesuatu, tetapi yang merekam dan mengingat semua yang saya alami adalah "saya", sang jiwa, sang ruhani.

Mengapa saya sering gagal dalam upaya mengubah karakter saya agar kembali menjadi illahi/luhur/mulia sebagaimana aslinya saya ketika turun pertama kali? 

Sebabnya adalah:
  1. Saya tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ke-jiwa-an atau ke-ruhani-an. Sebab bicara karakter bukan bicara hal-hal fisik atau jasmani. Karakter adalah wilayah ruhani bukan jasmani. Karakter adalah wilayah batin, bukan wilayah lahir. Adalah tidak mungkin menyelesaikan persoalan batiniah dengan menggunakan pengetahuan lahiriah. Adalah tidak mungkin menyelesaikan persoalan ruhani dengan menggunakan pengetahuan jasmani.
  2. Sebab ke dua adalah, saya tidak mau dengan jujur mengakui kesalahan/dosa saya kepada Tuhan, secara tertulis. Saya malu menulis surat kepada Tuhan karena saya beranggapan bahwa Tuhan pasti mengetahui yang saya maksud walaupun saya tidak menyampaikan secara tertulis.
  3. Ketika saya membaca nasehat Tuhan untuk saya, saya punya pikiran bahwa nasehat itu untuk orang lain dan bukan untuk saya. Contoh: Ketika Tuhan menasehati saya agar saya berhenti bergosip, pikiran saya bukannya menyerapi nasehat ini, tetapi saya malah mengingat teman saya yang gemar bergosip dan saya menuduh merekalah yang membuat saya ikut-ikutan bergosip. Contoh lain: Ketika Tuhan menasehati saya agar jangan menjadi pemarah, pikiran saya bukannya tertuju kepada diri saya, tetapi saya mengingat teman saya atau atasan saya yang hobi marah. Contoh lain lagi: Ketika Tuhan menasehati saya agar saya jangan menghina orang lain, mental saya langsung lari tertuju kepada orang lain yang suka menghina orang lain.
Thanks God for always guides me, Love and remembrance...









No comments:

Post a Comment