Jumat, 12 Januari 2018

The Spiritual Nectar (1): Ketika Saya Tak Kenal Siapa Saya

Bacalah sambil mengingat Tuhan,
"Syarat untuk mencapai kedamaian sejati adalah kesucian. Kesucian pikiran, kata-kata dan perbuatan"

Dear pembelajar,
Ketika saya merasakan ada sesuatu terjadi antara koneksi saya dengan Tuhan, itu pasti saya telah melakukan kesalahan sebelumnya. Jika saya sulit fokus/konsentrasi ketika berdoa, ketika berkoneksi atau berkomunikasi dengan Tuhan, itu pertanda bahwa saya telah berbuat kesalahan sebelumnya.

Kesalahan tersebut bisa bermacam-macam, namun intinya adalah nafsu. Nafsu amarah, nafsu birahi, nafsu keserakahan, nafsu keserakahan, nafsu kemelekatan dan ego. Semua ini bisa saling mempengaruhi. 

Manakala saya tidak menjaga kesadaran diri saya, saya pasti akan dengan mudah "dimakan" oleh semua nafsu-nafsu itu.

Apa yang dimaksud dengan menjaga kesadaran diri?

Menjaga kesadaran diri adalah menjaga kesadaran tentang siapa saya sebenarnya, tentang siapa sejatinya saya. 

Jika saya tidak tahu dan tidak mengenal siapa saya yang senyatanya, maka saya mengira, yang lain-lain itu adalah saya. 

Jika saya tidak kenal isi, maka saya mengira kostum/kemasan dan pernak-perniknya adalah isi.

Saya mulai dari saya dan badan saya. 

Badan saya adalah kostum atau pakaian saya. Tanpa saya, badan saya adalah mati, tidak berfungsi. Ia hanyalah wadah. Badan saya bisa rusak, sedang saya tetap hidup. Saya tidak bisa musnah.

Lalu, siapakah saya?

Saya adalah yang hidup. Orang mengatakana manusia adalah human-being (manusia), terdiri dari dua unsur human and the being. Human adalah badan saya, sedang saya adalah that being.

Saya adalah sopir dan raga saya adalah kendaraan saya. Kendaraan tidak bisa beroperasi tanpa saya, sang sopir yang mengoperasikannya.

Saya adalah the being yang tinggal di dalam human, yang kemudian disebut dengan sebutan human-being atau manusia.

Lebih jelas lagi, bahwa sejatinya "saya" adalah ruh/jiwa/soul/atma/kesadaran/ satu titik cahaya yang hidup di dalam badan saya. 

Singgasana (sang) saya adalah di pusat otak saya. Itulah sebabnya ada sebagian orang menandai tengah dahi mereka dengan satu titik tanda. Karena mereka tahu bahwa di sanalah letak jiwa bersemayam. 

Karena tidak mungkin menandai tengah otak fisik, maka tengah dahi lah yang diberi tanda titik, guna mengingatkan diri mereka sendiri.

Sang saya tentulah bukan badan saya. Saya adalah "sosok hidup" yang tinggal di dalam badan saya (lima unsur alam, yang bisa rusak/mati). 

Suatu saat, saya bisa terpisah dari badan saya. Saat itu orang mengatakan saya mati atau meninggal(-kan badan). 

Badan saya bisa hancur/mati, tetapi, "saya" tidak. Yang rusak hanya kostum/pakaian saya, tetapi saya? Ia akan tetap hidup. 

I live in my body.

dan My adalah dua kata yang berbeda makna. Saya dan "milik saya" adalah dua hal yang berbeda/terpisah.

Setiap jiwa adalah satu titik cahaya yang tinggal di pusat otak (di tengah dahi, daintara dua alis mata). Itu adalah singgasana sang jiwa. 

Jika saya tidak mengenal siapa diri saya dan diri Anda yang asli, maka saya mengira semua yang tampak oleh mata fisik saya adalah Anda yang asli, padahal itu bukan Anda. 

Jika saya tidak kenal siapa saya dan siapa Anda, maka saya bisa salah mengira bahwa tubuh Anda adalah Anda. Saya bisa salah kira, bahwa kostum Anda adalah Anda.

Jika saya tidak mengerti bahwa saya aslinya adalah "ruh", yaitu titik cahaya yang tinggal di dalam badan saya dan Anda aslinya adalah juga "ruh", titik cahaya yang tinggal di dalam badan Anda, maka ketika mata saya melihat Anda, saya pasti mengira bahwa Anda adalah apa yang Anda pakai atau apa yang Anda kenakan. 

Karena yang kelihatan hanya itu. Yang terlihat oleh mata fisik saya, hanya pakaian Anda, kostum Anda, badan Anda.

Saya bisa salah kira. Saya mengira Anda adalah dokter, insinyur, laki, perempuan, Indonesia, Inggris, Muslim, Kristen, Hindu dsb.

Ketika saya meninggal, sesungguhnya yang sedang terjadi hanyalah, saya meninggal-kan badan saya. Sesungguhnya yang sedang terjadi adalah, saya menanggalkan "pakaian" saya dan segala pernak-pernik yang melekat pada pakaian saya. 

Melihat badan saya yang tanpa saya di dalamnya, orang masih bisa mengenali "pakaian saya". Mereka masih bisa mengenali nama saya, profesi saya, jenis kelamin saya, agama saya, bahasa saya, kewarganegaraan saya.., tetapi tidak ada orang yang bisa melihat saya, sang ruh, sang jiwa, atma/soul.

Perlahan tapi pasti, badan saya bersama pernak-pernik indra fisik akan musnah, sementara "saya", sang diri, tidak pernah musnah. Karena saya, ruh/jiwa/soul/atma adalah abadi.

Manusia tidak bisa melihat dan mengenali lagi diri "saya" tanpa badan saya. 

Badan saya hanya bisa dikenali sebelum benar-benar musnah, tetapi...tidak ada orang yang bisa melihat saya, sang ruh, sang jiwa, atma/soul ketika telah lepas dari badan saya.

Lalu, kemana saya akan pergi dan dari mana sejatinya saya berasal? Sejak kapan dan bagaimana saya hadir dalam wadah bernama tubuh?

Terima kasih sudah membaca... Thanks God for always guides me...
Love and remembrance 













Tidak ada komentar:

Posting Komentar