Friday, January 12, 2018

Spiritual Marketing (9) : Saya Bekerja di Perusahaan Miras, Apakah Saya Harus Berhenti?

Bacalah sambil mengingat Tuhan,
"Hanya jika saya mengenal diri saya, saya akan mengenal Tuhan dan mampu mengasihi keduanya" 

Dear pembelajar,
Ada message yang sangat menarik dari someone that no need for me to mention the name. Bunyinya: "Ibu, saya setuju dengan Spiritual Marketing, tapi selama ini saya bekerja sebagai distributor minuman keras. Apa bisa Spiritual Marketing diterapkan? Apakah saya harus quit (berhenti)?"

Pertanyaannya sangat bagus. Sebenarnya, saya tahu Anda pun telah mengetahui jawaban atas pertanyaan Anda sendiri. Namun demikian, saya akan menjawab dengan analogi - saya.

Manakala saya tahu bahwa Spiritual Marketing adalah bagus dan saya setuju, itu artinya, saya mengerti siapa sejatinya saya.

Manakala hati nurani menerima bahwa Spiritual Marketing itu bagus, tetapi saya merasakan masih ada yang mengganjal dalam pikiran saya, itu artinya saya sadar, bahwa saya tidak sedang berada dalam keaslian saya.

Saya telah berjalan menjauh dari karakter saya yang asli. Setiap ketidaknyamanan yang melanda saya adalah pertanda saya bergerak menjauh dari orijinalitas saya. Saya bergerak menjauh dari karakter asli saya yang asli saya peroleh dari Tuhan (love, peace, pure, happy, truth).

Contoh: Sifat asli saya adalah damai. Maka,...jika saya sekarang tidak damai (merasa terganggu), itu artinya saya sedang menjauh dari keaslian saya. Saya sedang menjadi sesuatu yang lain.

Spiritual Marketing adalah pemasaran yang menggunakan kecerdasan illahiah. Spiritual Marketing adalah pemasaran yang mengimplementasi kemuliaan atau nilai-nilai luhur atau nilai ketuhanan. Spiritual Marketing konstruktif bukan destruktif. Spiritual Marketing membawa orang-orang menuju bukan meninggalkan Tuhan.

Jika saya mendistribusikan minuman keras, apakah saya sedang on the right track? Apakah yang mendistrinusikan miras itu saya yang sebenarnya atau saya yang palsu? Hanya diri saya yang mampu menjawab dengan jujur.

Saya paham, tetapi apakah saya harus berhenti bekerja manakala saya memerlukan biaya hidup yang tidak sedikit?

Dahulu saya berkeyakinan bahwa majikan saya adalah rektor saya, sehingga saya bekerja berdasarkan pikiran itu. Kemudian, saya mendapat ilmu baru yang kemudian mengubah cara pandang saya. Sejak itu, saya punya pandangan bahwa majikan saya bukan rektor, tetapi mahasiswa. Mengapa? Karena mahasiswalah yang sejatinya membayar saya, bukan rektor. 

Tetapi ternyata dua pola pikir ini adalah pola pikir yang sangat-sangat terbatas Gerak saya menjadi tidak bebas dibatasi oleh cara pandang yang demikian. Sehingga, sering saya tidak menjadi diri sendiri karena takut tidak sejalan dengan pikiran rektor dan mahasiswa. Saya berkeyakinan bahwa pemeliharaan hidup saya tergantung kepada mereka. Pikiran saya berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi kepemimpinan dan jumlah mahasiswa.

Pada satu kesempatan, saya tersadar bahwa ternyata majikan sejati saya adalah Tuhan sendiri, bukan rektor, pun juga bukan mahasiswa. Jika saya menempatkan Tuhan sebagai majikan saya, maka Beliaulah pemelihara kehidupan saya. Beliaulah yang menggaji saya. Beliau pasti memperhatikan urusan saya, memelihara saya dan memberi makan saya dari gudang harta-Nya yang tak terbatas. Sejak itu, saya belajar menjadi diri sendiri, belajar hidup tanpa kekhawatiran.

Saya flash back kepada masa lalu. Saya tidak melihat Tuhan pernah sekalipun meninggalkan saya, walaupun seluruh dunia pernah meninggalkan saya. Bahkan Tuhan selalu hadir tepat waktu, persis ketika saya dalam keadaan amat sangat memerlukan Beliau. Tuhan tidak pernah tidak mencukupi keperluan saya. Gudang harta Tuhan, ada dimana-mana. Beliau bisa mengirim keperluan saya dari arah mana saja.

Kekhawatiran, kecemasan dan rasa takut saya, muncul ketika saya hilang keyakinan terhadap Beliau. Padahal saya pernah yakin bahwa saya pasti ada dalam pemeliharaan Beliau.

Dekat dengan Tuhan berarti bergerak meninggi. Dekat dengan Tuhan berarti, saya memiliki sifat-sifat luhur seperti sifat Beliau. Dekat dengan Tuhan berarti selalu terpelihara. Dekat dengan Tuhan berarti keselamatan dan penyelamatan.

Banyak orang takut ketinggian, karena takut jatuh. Jika "saya" tahu bahwa sejatinya saya adalah jiwa/ruh/atma/soul, saya tidak akan takut jatuh. Mana mungkin "cahaya" -- "anak Sang Cahaya", bisa terjatuh?

Ketika saya bergerak meninggi, selalu akan banyak hal yang berusaha menarik saya untuk kembali turun. Itulah sebabnya, saya diberitahu bahwa untuk terbang tinggi, saya harus menggunting "ikatan atau tali-temali" yang mengikat saya.

Beberapa diantara banyaknya tali-temali itu adalah rasa takut, rasa cemas dan rasa khawatir.

Jadi, apakah saya harus berhenti bekerja?

Keputusan saya hanya akan akurat apabila intellect (akal budi) saya jernih. Jernih artinya, bebas dari pikiran buruk, pikiran sia-sia, rasa takut, rasa cemas dan khawatir.

Bagaimana caranya menjernihkan intellect? Menjernihkan intellect atau membebaskan diri dari pikiran buruk, pikiran sia-sia, rasa takut, rasa cemas dan khawatir memerlukan power suci. Dan itu hanya bisa diperoleh dari Tuhan. Buat sambungan ke sana dan mulailah charging, supaya dapat power.

Thanks for reading...
And thanks God for always guides me... Love and remembrance. 

   











  

No comments:

Post a Comment