Monday, December 11, 2017

Perilaku Konsumen (1) : Esensi Ilmu Perilaku Konsumen

Bacalah dengan mengingat Tuhan Yang Esa...
"Pikiran suci, waktu dan kesehatan adalah harta terbesar karunia Tuhan"
Dear pembelajar,
Ilmu Perilaku Konsumen (Consumer Behavior), adalah ilmu yang mempelajari hal ikhwal tentang perilaku konsumen. Ilmu ini mengungkap rahasia tentang (1). apa yang ada dalam pikiran konsumen, (2). bagaimana sikap dan pandangan mereka tentang suatu produk, (3). apa saja faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian mereka, (4). bagaimana proses pengambilan keputusan pembelian itu berlangsung dan bagaimana mereka  mengambil keputusan pembelian.

Itulah esensi ilmu atau mata pelajaran Perilaku Konsumen. (Maaf, saya lebih suka menyebut ‘mata pelajaran’ ketimbang ‘mata kuliah’. Sebab makna kata ‘pelajaran’ lebih bisa langsung dirasakan dan dimengerti dibanding kata ‘mata kuliah’)

Jadi, ilmu ini berusaha mengungkap rahasia yang terjadi dibalik perilaku konsumen, dibalik aksi atau tindakan beli atau tidak beli. Pertanyaan berikutnya sebelum membahas satu per satu esensi adalah “siapakah yang memerlukan ilmu ini dan apa tujuan belajar ilmu ini?

Hampir setiap penulis buku Perilaku Konsumen secara tersurat maupun tersirat menulis buku tersebut untuk kepentingan pemasaran. Artinya, pembelajar yang mereka harapkan adalah para dosen dan mahasiswa yang dipersiapkan menjadi praktisi bisnis, atau mereka yang berminat berpraktik bisnis, para calon pemasar, manajer pemasaran dan para pemasar.

Para pembelajar perilaku konsumen diberitahu rahasia besar dibalik keputusan pembelian, sehingga mereka mempelajari itu, memahami itu dan mampu memanfaatkan itu untuk kepentingan pemasaran (produk apapun).

Dalam lebih dari 20 tahun perjalanan pembelajaran bidang manajemen pemasaran bersama para mahasiswa, ada satu perasaan tidak nyaman yang muncul dalam diri saya. Semula saya tidak mengerti apa yang membuat perasaan asing/aneh di dalam diri saya, sepanjang pembelajaran tersebut. Baru beberapa tahun belakangan, saya “mendapat jawaban” atas perasaan yang tidak nyaman, yang selama itu mengganggu pikiran saya. Yaitu, ketika saya mengamati cukup banyak fakta menyedihkan sebagai efek dari pesatnya perkembangan dunia pemasaran.

Fakta menyedihkan itu adalah: meningkat pesatnya pola hidup konsumtif dan semakin lemahnya bargaining power konsumen, sehingga mereka kemudian menjadi sosok yang “iya-iya saja terhadap serangan pemasar, baik berupa produk fisik maupun yang baru saja berupa advertensi”.

Fenomena ini membuat saya berpikir keras. Pasti ada yang salah dengan proses pembelajaran ilmu ini. Saya berpikir tentang apa yang bisa saya sumbangkan kepada dunia keilmuan terkait dengan apa yang saya pelajari, Sebab inilah tugas dan kewajiban sejati dari bagian civitas akademica perguruan tinggi, yaitu tri dharma (penelitian, pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat). 

Perguruan tinggi tidak bisa mengelak bahwa mereka (diakui atau tidak) turut berkontribusi dalam mengajarkan komersialitas dan menyemarakkan pola hidup konsumtif, melalui mata pelajaran tertentu.

Relevan dengan hal tersebut, saya mencoba mengubah porsi pembelajaran. Jika dahulu 100% orientasi belajar pemasaran dan perilaku konsumen adalah untuk bekal merumuskan strategi pemasaran dan strategi persuasi pasar agar pasar potensial bisa diubah menjadi pasar aktual, maka---sekarang---setelah menyaksikan fakta lapangan praktik tingkah para pemasar sudah melampaui batas (sangat variatif dan nyaris tidak terkendali)-----, sebagai tanggungjawab profesi, saya harus berbuat sesuatu. 

Lima puluh persennya harus menyentuh wilayah internal (pikiran dan intelek), karena di situlah letak keputusan dibuat, tidak masalah, apakah mereka akan memutuskan menjadi pemasar nantinya, ataukah mereka akan memilih menjadi konsumen (pasti tak bisa dihindari). Sebagai pemasar, bagaimana seharusnya berperilaku dan sebagai konsumen, bagaimana seharusnya mereka berperilaku. Perilaku dibangun dari wilayah terdalam, yaitu pikiran dan intelek. 

Apalagi melihat kondisi sekarang ini, hiruk pikuk dunia pemasaran telah berhasil merancukan pemahaman konsumen tentang arti kebutuhan (keperluan) dan keinginan (hasrat). Konsumen tidak lagi merasa perlu menanyai dirinya sendiri “ini (produk/jasa) benar-benar saya perlukan atau ini sekedar hasrat/keinginan saya saja?”.--- Dan 90% waktu dalam kehidupan mahasiswa adalah terkait dengan pengambilan keputusan sebagai konsumen (walaupun ada sebagian mereka melakukan kegiatan pemasaran, di sisi lain, mereka juga berperan sebagai konsumen).

Jika demikian, apakah belajar ilmu memasarkan tidak lagi penting? Apa hubungan pelajaran Perilaku Konsumen dengan pikiran dan intelek? Apa jadinya jika pikiran dan intelek tidak dibuka? Untuk mendapatkan jawabannya, ikuti tulisan berikutnya!

Terima kasih telah membaca. Don’t forget to remember God.



No comments:

Post a Comment