Jumat, 22 Desember 2017

Spiritual Marketing (7): Ketika Bisnis Saya Dihancurkan Pesaing (Sdr. Yasin)

Bacalah dengan mengingat Tuhan Yang Esa,
"Semua yang kita lihat dengan mata akan hancur. Bahkan mata kita pun juga akan hancur"

Dear pembelajar,
“Apa yang harus saya lakukan ketika usaha saya disabotase atau dihancurkan secara tidak sehat oleh pihak pesaing?”

Itu adalah pertanyaan Sdr. Yasin dan saya yakin ini mewakili pertanyaan banyak jiwa. Sekali lagi, jawaban saya akan merujuk kepada konsep Spiritual Marketing. Anda dapat membacanya di sini dan di sini.

“Apa yang harus saya lakukan ketika usaha saya disabotase atau dihancurkan secara tidak sehat oleh pihak pesaing?”

Bukan hanya terjadi dalam dunia bisnis, namun kejadian seperti ini bisa terjadi kepada siapa saja dan dalam hal apa saja. Bisa dalam pekerjaan di kantor, bisa dalam rumah tangga, pun bisa terjadi dalam relasi-relasi yang lain.

Baiklah, saya jawab. “Apa yang harus saya lakukan ketika usaha saya disabotase atau dihancurkan secara tidak sehat oleh pihak pesaing?”

Pertama-tama, saya harus menerima kenyataan bahwa “saya” dan “usaha saya” adalah dua hal yang terpisah dan jelas berbeda. Untuk lebih memahami ini, bacalah tulisan tentangspirit (jiwa) dan spiritualitas, di sini.

Saya dan tangan saya adalah dua hal yang berbeda. Saya dan badan saya adalah dua hal yang sejatinya terpisah dan berbeda. Saya (ruh/jiwa) pada saatnya, akan pergi dan lepas dari/meninggalkan badan saya. Saya adalah jiwa yang tinggal di dalam badan saya. Jelas bedanya bukan?

Jika saya dan badan saya saja merupakan dua hal yang berbeda, apalagi saya dengan bisnis saya, kan?

Saya terluka ketika bisnis saya hancur. Mengapa? Karena saya mengira bahwa bisnis saya adalah diri saya.

Jadi, pastikan saya mengerti siapa sejatinya saya. Jika saya mengerti siapa sejatinya saya..jika saya mengerti bahwa saya adalah spirit, energi, ruh, jiwa atau setitik cahaya, maka saya akan harus bisa menerima kenyataan bahwa tidak siapapun yang bisa menghancurkan saya.

Jika saya merasa sakit? Itu karena saya mengira bahwa usaha saya adalah diri saya, padahal sejatinya, bukan.

Itulah sebabnya, banyak orang stress dan frustrasi ketika kejadian semacam itu terjadi.
Jadi, jika kejadian seperti itu menimpa saya, maka pertama-tama, saya harus mengembalikan kesadaran diri saya. Saya harus sadar bahwa saya (sang jiwa/spirit) masih ada dalam keadaan sehat, tidak kekurangan apapun. Yang hancur adalah bisnis saya. Bukan saya. Ini bisa terjadi karena kesalahan saya, atau ini pasti terjdi karena saya masih perlu banyak belajar lagi. Baiklah, saya akan memaafkan diri saya atas ketidakhati-hatian saya ini, dan, bersama Tuhan, saya akan bangkit kembali.

Apakah saya harus membenci mereka? Tidak. Karena mereka adalah guru tersamar, yang mengajarkan saya bagaimana menjadi lebih hati-hati dan waspada di dalam kehidupan berusaha tersebut.

Mengapa harus mengerti dan paham tentang definisi sejati dari “sang saya”? Karena, ketika bisnis saya hancur, banyak kemungkinan bisa terjadi. Kemungkinan paling ekstrim adalah bahwa sahabat-sahabat saya akan meninggalkan saya, bahkan pasangan saya pun bisa jadi meninggalkan saya.

Ini bisa saja terjadi. Apa yang akan terjadi, jika saya betul-betul harus sendirian menghadapi itu? Itulah pentingnya mengenal siapa sejatinya saya dan pentingnya membentuk persahabatan dengan Tuhan. Karena hanya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan saya. Jika saya tak kenal saya, saya pasti tersandung-sandung dalam merespon situasi dan kondisi yang berfluktuasi.


Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Always remember God.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar