Jumat, 22 Desember 2017

Spiritual Marketing (6): Ketika yang Tradisional Dikalahkan yang Modern (Sdr. Yaguar)

Bacalah dengan mengingat Tuhan Yang Esa,
"Cahaya itu ...tidak pernah memerangi kegelapan"
Dear pembelajar,
Sebelumnya saya harus mengingatkan bahwa semua jawaban atas pertanyaan yang masuk, saya merujuk kepada konsep pemikiran SpiritualMarketing. Tentang apa itu Spiritual Marketing, Anda bisa membaca di sini.

Sdr. Yaguar menanyakan “Bagaimana tindakan kita, jika usaha kita kalah dengan perkembangan jaman, padahal konsep usaha kita menggunakan sistem tradisional dan apa yang harus kita lakukan agar bisa bersaing?”

Pertama, perhatikan frase bagaimana jika usaha kita kalah”. Ini adalah refleksi ketakutan dalam spirit (jiwa), karena kejadian itu tidak benar-benar terjadi. Bagaimana jika usaha kita kalah dengan pesaing? (Faktanya, kita tidak kalah, tapi hanya takut kalah).

Maka ini adalah persoalan yang kita ciptakan sendiri. Persoalan bukan pada pesaing yang mengalahkan kita, tetapi persoalannya adalah, “belum ada persoalan tetapi kita sudah membuat persoalan terjadi dalam pikiran kita.” Jadi, pada level pikiran, kita sedang ketakutan terhadap apa yang belum terjadi.

Sekarang, mari kita memahami apa arti kata tradisional dan modern. Menurut KBBI, kata “tradisional” berarti sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun, sementara kata “modern” berarti sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman; (terbaru; mutakhir).

Apa artinya?

Artinya, pemasar yang benar-benar menerapkan konsep tradisional, ia bekerja didorong oleh faktor internal (dari dalam dirinya) dan selalu terhubung dengan norma-norma dan adat kebiasaan yang (biasanya) adalah luhur/mulia. Sedang pemasar penerap konsep modern adalah, ia yang bekerja berdasar rangsangan “kemajuan jaman”. Tindakannya mengikuti rangsangan yang diciptakan oleh situasi dan kondisi yang terjadi diluar dirinya.

Pemasar yang benar-benar penerap konsep tradisional, mereka (jiwa dan raga) selalu hadir sejak  niat awal, proses, hingga pada penyerahan produk. Sementara penerap konsep modern, lebih suka meringkas semuanya, demi kepentingan efisiensi (penghematan) dalam rangka menciptakan keuntungan yang lebih besar. Maka, banyak mesin menggantikan kerja manusia dalam bisnis modern. (bahkan ketika Anda ingin menghubungi perbankan atau instansi lainnya lewat telepon hari ini, Anda dijawab oleh mesin bersuara perempuan).
Sekarang, Anda lebih tertarik yang mana, tentu yang dapat memutuskan adalah Anda sendiri.

Akan ada plus minus dari keduanya, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bahwa setiap bisnis, baik tradisional maupun modern, dua-duanya hampir pasti akan mengalami siklus, merintis, bangkit, jenuh dan bangkrut. Dalam bahasa umum, introduction, growth, maturity dan decline. Walaupun dalam faktanya, bisa saja terjadi, baru merintis langsung gulung tikar. Atau baru merintis, terus meroket.

Juga walaupun, setiap penjual sudah melakukan tuntutan teoritis, lalu mengapa ada yang laku keras ada yang tidak?
Sebagai contoh, sesekali pergilah ke sekitar makam Kembang Kuning atau ke sepanjang jalan Kedungdoro Surabaya. Produk yang dijual, sama, yaitu “kembang”. Harga, rata-rata sama. Cara mereka melayani pun mirip..., lalu faktor apa yang menyebabkan yang satu lebih laris dari yang lainnya?

Kenapa masing-masing mereka punya pelanggan tersendiri?

Faktanya, dalam dunia praktik, selalu ada hal-hal yang terjadi yang tidak bisa dijawab oleh teori. Lalu orang memponis bahwa ini adalah faktor lucky.

Nah... ada “klik” antara (jiwa) penjual dan (jiwa) pembeli. Inlah bahasa lain dari faktor lucky tersebut. Dan begitulah yang terjadi pada level spirit.    

Pertanyaan berikutnya adalah, Apa yang harus kita lakukan agar mampu bersaing?” 

Konsep pemasaran spiritual, tidak mengenal kata bersaing. Yang ada adalah kooperatif, toleran dan pengertian.

Spiritual marketer mengerti bahwa marketer lain adalah mitra yang mengajarinya (baik langsung atau tidak langsung) pelajaran-pelajaran yang mampu membuat dirinya maju secara kualitas (internal quality). Tetapi prinsip differensiasi tetap bisa diterapkan. Artinya, untuk tetap bisa menarik perhatian pasar, spiritual marketer harus punya uniqueness atau speciality (keistimewaan). Keistimewaan ini bisa dikomunikasikan kepada pasar, baik dg cara terang-terangan atau tersamar.

Cobalah membuat daftar jawaban, bila konsumen bertanya kepada Anda, “Mengapa saya harus memilih produk Anda dan bukan produk mereka?”
Itulah cara mengidentifikasi dan menciptakan differensiasi.

Bagaimanapun, sekarang ini, saya melihat adanya arus perubahan (walaupun tidak besar, tetapi sangat jelas mengalami peningkatan).

Mulai tumbuh kesadaran pasar untuk mencari sesuatu yang tradisional, asli, sehat tanpa kontaminasi modernitas. Ada segmen yang walaupun tidak besar, tetapi mereka bersedia membayar mahal untuk hal-hal tersebut. Misal, ada wisata hutan yang di sana, semua pengunjung harus meninggalkan semua gadget dan semua unsur modernitas, di luar area, baru mereka bisa masuk ke dalam. Tak ada listrik dan semua didesain dengan sangat alami. 

Ada juga segmen yang lebih suka menyehatkan diri dengan cara akupunktur, akupresure dan bekam serta menghindar dari perlakuan dunia medis. 

Di sudut lain, mulai banyak resto vegetarian, resto vegan dan supermarket produk-produk organik. 

Wisata religi juga terus mengalami peningkatan. Apa tujuan tersamar dari wisata ini? Mencari kedamaian. Meninggalkan hiruk-pikuk modernitas dan kembali kepada Tuhan untuk meraih ketenangan yang tidak mampu diberikan oleh modernitas.  Dan fakta yang tidak dapat disangkal, adalah, walaupun Tuhan dinilai sebagai sosok paling tradisional-konservatif, Beliau juga merupakan sosok yang lebih modern dari semua yang modern. Buktinya, ditengah-tengah kehidupan yang full dengan modernitas, toh orang-orang masih memerlukan meminta masa depan yang baik/aman dan selamat kepada Beliau.

Jika sudah demikian, apakah benar bahwa yang modern akan benar-benar mampu mengalahkan yang tradisional?

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar