Tuesday, December 12, 2017

Perilaku Konsumen (2) : Spiritual Marketing dan Perilaku Konsumen

Bacalah dengan mengingat Tuhan yang Esa
"Untuk mendapat bantuan Tuhan, diperlukan kombinasi keberanian dan kerendahan hati"
Dear pembelajar,
Pertanyaan pada akhir tulisan sebelumnya adalah (1). Apakah belajar ilmu memasarkan tidak lagi penting? (2). Apa hubungan pelajaran Perilaku Konsumen dengan pikiran dan intelek? Dan (3). Apa jadinya jika pikiran dan intelek tidak dibuka?

Kita akan membahas pertanyaan pertama terlebih dahulu. Lebih lengkapnya, pertanyaan tersebut berbunyi, “Apakah dalam situasi seperti sekarang ini, dimana semua kebutuhan dan keinginan manusia sudah tersedia produk pemuasnya secara berlimpah, ilmu pemasaran masih relevan? Masih adakah peluang untuk menjadi pemasar?”

Jawabannya tentu saja “Ya! Masih relevan dan selalu saja ada peluang”.

Hampir semua orang tahu pesatnya perkembangan dunia pemasaran sekarang ini. Persaingan makin meningkat. Banyak produk terkesan mirip dan seragam. Setiap hari, setiap merek produk apa saja berpikir keras agar bisa meraih perhatian konsumen. Konsumen dibombardir dengan iklan-iklan yang saling adu argumentasi tentang kelebihan merek mereka dan kelemahan merek pesaing.

Kesulitan memasarkan juga dialami oleh beberapa mahasiswa yang mengaku menjual pakaian secara on line, walaupun ada juga beberapa yang antusias menikmati bisnis on line -nya yang sedang laris manis.

Teori yang mereka terima sama, tetapi mengapa ketika itu dipraktikkan, menjadi ada yang gagal dan ada yang berhasil? Setiap Fakultas Bisnis mengajarkan ilmu marketing, tapi apakah semua yang belajar ilmu marketing akan berhasil menjadi marketer/pemasar? Apakah semua yang belajar ilmu pemasaran pasti berhasil menjadi pemasar yang handal? (Pertanyaan ini pun bisa diterapkan untuk bidang-bidang lain). Saya stop menulis tentang ini di sini dan akan menulis dalam topik tersendiri nantinya.

Kembali kepada pertanyaan di atas. Ketika saya menjelaskan tentang apa itu SpiritualMarketing dan betapa pentingnya itu diimplementasi, saya bisa menangkap signal apa yang sedang mahasiswa pikirkan. Saya tahu mereka tertarik dan setuju dengan penjelasan saya tetapi mereka meragukan apakah konsep itu bisa diterapkan sekarang ini. “Hari gini mau terapkan konsep spiritual marketing? Come on...! Ini sungguh tidak realistis!” 

----Kira-kira seperti itu sesuatu yang sedang berkecamuk dalam benak mereka. Dan benar! Ketika ini saya konsfirmasi, mereka mengangguk sambil tertawa...

Ilmu marketing masih relevan dipelajari untuk situasi praktik dunia marketing yang sudah hampir tidak jelas ini, tetapi saya menyarankan untuk belajar ilmu marketing yang tidak biasa, yaitu Spiritual Marketing. Karena dunia sudah dipenuhi oleh marketer yang sedang berjalan menjauh dari nilai-nilai luhur/spiritual, dalam berkegiatan.

Konsumerisme, global warming, tidak sehatnya lingkungan, meningkatnya jumlah e-waste, polusi udara, sampah di darat dan laut, kebakaran hutan, meningkatnya jumlah dan ragam penyakit (fisik dan psikis---pola hidup konsumtif adalah penyakit psikis),------ semua ini adalah persoalan-persoalan yang diakui atau tidak, ada hubungannya dengan “ulah” para marketer. Yaitu, para marketer yang selalu mampu melihat peluang bisnis, selalu mampu mengubah kebutuhan menjadi keinginan, dan selalu mampu merangsang dan memunculkan hasrat-hasrat konsumen yang semula terpendam.

Lalu, mengapa saya menulis “praktik dunia marketing sudah hampir tidak jelas”?
Tidak jelas artinya samar-samar. Tidak jelas artinya, tidak jelas antara manfaat dan mudharatnya. Bisa juga samar-samar tujuannya.

Meningkatnya jumlah Rumah Sakit, apakah ini tanda-tanda majunya bidang kesehatan, atau pertanda meningkatnya jumlah orang sakit? Atau pertanda dari merosotnya kemampuan para ahli kesehatan? Atau pertanda merosotnya mental pemasar yg membubuhkan zat racun pada makanan yang membahayakan kesehatan?

Lalu, perhatikan PTN dan PTS yang “menjual dagangan” Fakultas Kedokteran. Betapapun maha mahalnya biaya pendidikan yang dipatok, bangku mereka laris manis bak kacang goreng.  Peminat profesi dokter selalu berlimpah. Mereka berduyun-duyun mengikuti test untuk bisa diterima dan kemudian belajar ilmu kedokteran.

Seolah ada yg menggerakkan mereka. Seolah ada yang memberi bisikan halus, bahwa nanti di masa depan, jumlah penyakit dan jumlah orang sakit bakal meningkat tajam. Untuk itulah mereka harus hadir, duduk dan belajar di Fakultas Kedokteran, sekarang. Siapa yang menggerakkan mereka untuk berbondong-bondong belajar ilmu kedokteran, walaupun mahalnya minta ampun?

Mengapa Go-Jek dengan segala produk ikutannya termasuk, Go-Food mengalami kemajuan yang berarti? Karena jumlah pemalas meningkat dari tahun ke tahun ataukah jumlah kemacetan meningkat? Bisakah Anda bayangkan situasi dimana dunia ini dipenuhi dengan orang malas? Anda pasti punya pertanyaan lain yang muncul di kepala Anda!

Mengapa kehadiran taksi on line membuat taksi off line (termasuk angkot) ketar-ketir dan bahkan demo? Karena konsumen sekarang lebih suka harga murah. Mengapa akhirnya konsumen lebih suka memilih yang murah? Ada penyebab halus/tak kentara, di sini. Konsumen sudah jatuh miskin, takut miskin atau ingin save/saving. (Coba renungkan dengan tenang tanpa emosi negatif, hanya orang yang merasa tidak saved yang ingin saved). Mengapa orang menabung? Karena jaga-jaga, karena tidak mau miskin/kehabisan uang atau karena ingin selamat dari kemiskinan di masa depan.

Dari sudut pandang lain, mengapa taksi off line mengalami kebangkrutan? Karena salah satu motive mereka dalam berbisnis adalah ingin menguasai pasar. Faktanya, mendadak mereka jadi mampu membuat diskon besar-besaran hari ini ketika taksi on line hadir menyemarakkan dunia bisnis pertaksian. Apa yang ada di kepala mereka sebelumnya ketika menetapkan harga tinggi? Mereka berpikir mereka bisa menetapkan harga tinggi karena mereka layak untuk itu. Dan sekarang berubah pikiran setelah banyak muncul pemain baru? 

Bisnis apapun yang motifnya menguasai pasar, ia pasti runtuh. Bisnis apapun yang ingin jadi nomor satu atau ter-atas, ia akan runtuh. Karena ketika sesuatu sudah mencapai puncak, tidak ada jalan lain kecuali “harus turun”.  

Sekarang, mari kita perhatikan produk otomotif. Mereka berlomba-lomba mempunyai atribut unggulan dalam hal/faktor keselamatan. Dan respon konsumen? 

Wow! Konsumen bersedia membayar mahal untuk itu semua. Apa makna tak kentara (undisguised meaning) dibalik ini semua? Seolah-olah di masa depan akan banyak kemungkinan bahaya/kecelakaan, sehingga segala fitur dan atribut perlindungan harus dibuat melengkapi produk otomotif yang ada sekarang. Disadari atau tidak, ketakutan konsumen sudah terbaca oleh pebisnis dan itu kemudian direalisasi ke dalam produk fisik. ---- sampai bahkan sudah muncul juga ide mobil terbang. Disadari atau tidak, para pebisnis otomotif, sudah kehabisan cara untuk memikat konsumen, kecuali dg cara menakut-nakuti konsumen tentang bahaya yang belum terjadi. Dengan mengatakan “dengan dilengkapi atribut ini...bapak/ibu sebagai user akan terlindung bila terjadi sesuatu”. 

Hari ini...siapa yang tidak menginginkan keselamatan?

Dan tahukah Anda? Nyaris, tidak ada satu suku cadang pun yang bisa dibuat, tanpa melalui proses pembakaran. Apa yang ada dalam pikiran Anda ketika mendengar kata 'pembakaran'?

Seribu halaman tak cukup untuk menulis contoh-contoh kasus untuk menjelaskan betapa relevannya Spiritual marketing di zaman sekarang. Saya akhiri dahulu sebelum Anda merasa bahwa tulisan ini terlalu panjang. Saya masih punya hutang menjawab dua pertanyaan. Semoga ada waktu untuk melanjutkan.


Okay. Terima kasih sudah membaca! Ikuti tulisan berikutnya. Don’t forget to remember God.

No comments:

Post a Comment