Minggu, 03 September 2017

Spiritual Nectar Today: HARMONI Itu Seperti Apa?

Bacalah dengan tetap mengingat Tuhan
"Become light-Remain constantly full and shining" (God Himself)


Dear Pembelajar,
Sering saya mendengar kata orang, "Semua harus seimbang". Segala sesuatu harus seimbang. Ada siang ada malam, ada baik ada buruk …ada benar ada salah…ada bersih ada kotor. Bagaimana kita bisa mengatakan sesuatu itu baik apabila tidak ada hal-hal buruk?

Bagaimana kita tahu sesuatu itu baik, bila tidak ada yang jahat? Maka yang rusak diperlukan untuk mengetahui yang utuh, yang jahat diperlukan untuk mengenali yang baik, dsb. Inilah potret keseimbangan.

Cukup lama saya mencerna kata “seimbang” dan apa yang orang sebut sebagai keseimbangan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai HARMONI.
Ketika saya memikirkan seperti apa gambaran harmoni, maka yang muncul dalam ingatan saya adalah surga. Hanya surga contoh yang paling pas untuk menggambarkan adanya harmoni.

Orang-orang menyebut surga dengan nama yang berbeda-beda, yaitu swarg, swarga, Firdaus, Eden, Heaven, Goden Age, dan Golden World. Dan ..hampir setiap kita, punya memori cerita yang mirip tentang surga.

Di sana mengalir sungai-sungai yang jernih, atmosfera alam yang teduh dan sejuk, Dewa-dewi yang berparas indah, bidadara-bidadari yang luhur dan berparas cantik. Tidak satupun penghuni surga yang tidak bahagia. Semuanya bahagia.

Walaupun ada matahari di surga, tak ada sedetikpun rasa panas.Apapun yang kita inginkan, semua tersedia dalam waktu sedetik. Di sana tidak ada pencuri, tidak ada korupsi, tidak ada pembohong, tidak ada pembual. Tidak ada sama sekali yang namanya kejahatan. Dan menurut berbagai keyakinan, yang bisa ke sana, hanya orang-orang yang suci atau telah disucikan.

Sebagian scientist percaya bahwa surga hadulu pernah ada dan setiap jiwa beragama, scientist atau bukan, meyakini bahwa surga nanti bakal kembali ada.
Keadaan harmoni di surga, menginspirasi sebagian scientist untuk menciptakan keadaan seperti itu (harmoni), sekarang. Buktinya, hari ini mereka sudah mulai banyak khawatir tentang berbagai kerusakan.

Berbagai detector kejahatan diciptakan untuk mengurangi kejahatan, berbagai alat dan undang-undang lingkungan alam diciptakan untuk mengurangi kerusakan alam. Muncul konsep-konsep green governance, green government, green bulding, green city, go green, reboisasi, satu jiwa satu pohon, kampanye pengurangan pendirian rumah kaca dan konsumsi plastic. Semua ini dilakukan untuk mencipta “dunia baru” yang harmoni.

Di surga tidak ada perang, yang ada hanya kedamaian dan kebahagiaan.

Itu pun menginspirasi para pemimpin dunia yang rindu kedamaian dan kebahagiaan. Sampai-sampai didirikanlah badan yang mengurus perdamaian bangsa-bangsa untuk merealisasi cita-cita perdamaian dunia. Mereka tidak menginginkan adanya perang dan segala bentuk penindasan.

Diakui atau tidak, semua fakta itu menunjukkan kejenuhan dan penderitaan tinggal di dunia lama dan menginginkan dunia baru, seperti ketika pertama kali didirikan. Dunia yang harmoni, yang tidak lain adalah surga.

Lalu bagaimana dengan pemikiran bahwa diperlukan kejahatan untuk mengenali yang baik, diperlukan yang jelek untuk mengenali yang bagus…bahwa untuk mencapai harmoni harus ada yang jelek atau yang jahat? Saya punya pemikiran yang sedikit berbeda.

Harmoni tidak mungkin tercapai dengan mencampur-campur antara yang baik dan yang jahat, yang asli dengan yang palsu, yang utuh dengan yang rusak.

Harmoni juga mustahil dicapai manakala saya berpandangan "sebagai manusia biasa, saya harus seimbang. Oleh karenanya saya maklum dengan sifat buruk yang ada dalam diri saya. Untuk menjadi manusia yang seimbang, dalam diri saya selalu harus ada sifat jahat dan sifat buruk. Tidak mungkin baik semua”.

Jadi, jika mata kanan saya berfungsi dan mata kiri rusak, bisakah saya melihat dengan sempurna? Jika otak kiri saya berfungsi baik, sedang otak kanan saya rusak, maka saya akan bekerja berdasar perintah otak kiri saja. Lalu apakah saya akan bisa menjadi pribadi yang teduh dan pengertian terhadap pribadi lain? Jika, tangan kanan saya sehat dan yang kiri sakit, atau sebaliknya, apakah saya bisa melakukan pekerjaan dengan efektif?

Maka, untuk mencapai HARMONI, semua harus berkesadaran mau begerak ke arah yang bagus, semua harus bergerak ke arah positif, semua harus berfungsi dengan akurat. Baik secara pribadi, maupun secara system. Dimulai dari "saya" sebagai sistem terkecil.

Kehidupan surga (jaman emas) adalah contoh paling ideal tentang pencapaian harmoni. Semua positif, tak ada negatif. Tak ada perang dan kejahatan, samar ataupun nyata. Semua penghuni selalu puas, selalu tersenyum, damai dan bahagia. Ada persahabatan indah, bukan hanya antara dewa-dewi (bidadara/bidadari), tapi juga antara mereka dengan alam semesta.

Jadi apa yang bisa kita lakukan terhadap segala sesuatu yang rusak hari ini untuk menuju keadaan harmoni?

Semua harus dimulai dari sistem terkecil bernama "saya". Senyampang "saya" bisa berkontribusi memperbaiki, saya harus berkontribusi. Dan wujud kontribusi saya, bisa melalui pikiran, kata-kata dan perbuatan yang baik dan positif. Yang sejalan dengan pikiran Tuhan, kata-kata Tuhan dan perbuatan Tuhan, sebagai Penunjuk Jalan dan Pembimbing yang Benar. BUKAN membalas hilangnya mata dengan menghilangkan mata, membalas tumpahnya darah dengan menumpahkan darah, membalas fitnah dan hujat dengan kelimpahan fitnah dan hujat.

Itu hanya menghalangi jalan terciptanya HARMONI. Itu BUKAN jalan menuju surga. Itu jalan untuk tetap tinggal di Neraka (dunia lama/tua).

Thanks God,

Love and remembrance.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar