Rabu, 19 Juli 2017

Benarkah Ketika Orang Baik Diam Negara Makin Kacau?


Bacalah dengan mengingat Tuhan,
"Jika telah bertemu Tuhan, tak lagi ada alasan untuk tidak damai dan bahagia"

Kita pasti sering mendengar orang berkata, “Negara ini akan makin kacau ketika orang baik hanya bisa diam saja”. Biasanya kalimat seperti ini hanya disampaikan oleh:
  1. Orang yang merasa baik, yang sedang meyakinkan kepada  kepada masyarakat bahwa dirinya adalah orang baik yang punya sikap terhadap situasi dan kondisi yang dinilai kacau (chaos).
  2. Orang yang merasa baik dan sedang kampanye mengajak orang-orang baik agar ikut dalam barisannya, mengambil sikap dan suara yang senada, atas situasi dan kondisi yang dinilai kacau.
  3. Orang yang merasa diri belum baik, lalu mempunyai harapan dan kecewa terhadap orang-orang yang dinilainya baik. Mengapa? Karena dalam penglihatannya, orang-orang yang dinilainya baik ini, tampak seperti diam saja, tidak punya sikap/kepedulian.
Orang-orang yang diam (silent) sering dinilai sebagai tidak punya sikap, tidak punya kepedulian dan tidak peka terhadap nasib bangsa dan Negara.

Benarkah ketika orang baik diam, Negara ini akan makin kacau?

Semoga Anda sudah mendengar kabar bahwa hari ini, bukan hanya jiwa-jiwa di Indonesia, tapi juga jiwa-jiwa di seluruh dunia, sedang merindukan kedamaian. Mereka, jiwa-jiwa di seluruh dunia, sedang haus dan dahaga kedamaian.

Bukti dari itu adalah meningkatnya jeritan jiwa yang ingin menyudahi perang dan konflik. Ini bisa Anda dengar di rumah-rumah ibadah dan di dalam rapat perkumpulan organisasi-organisasi dalam masyarakat. 

Siapapun yang tidak menyukai perang atau konflik, dapat dimaknai sebagai menginginkan kedamaian.

Kedamaian tidak mungkin diperoleh atau dicapai dengan cara yang gaduh. Satu-satunya syarat damai adalah keheningan. Mustahil ada kedamaian tanpa keheningan. Peaceful is impossible without silence.

Jika saya tidak masuk ke dalam keheningan, bagaimana saya mampu menarik kedamaian dari Sang Samudra Kedamaian?

Jika saya dan Anda tidak memiliki kedamaian dalam jumlah yang lebih , bagaimana mungkin kita dapat memberikan atau berbagi kedamaian kepada orang-orang yang sedang merindukan/memohon hadirnya kedamaian?

Relevan dengan hal tersebut, ada yang mengatakan bahwa semua harus seimbang, sehingga  kejahatan diperlukan. Untuk mengenali kebaikan diperlukan adanya kejahatan. Yang baik tidak bisa dikenali tanpa ada yang jahat. Pendapat ini tidak salah.

Tetapi jika hari ini angkara murka mengambil porsi yang lebih besar di dunia ini, ---Jika konflik dan perang serta persoalan-persoalan ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan hankam, mengambil bagian yang lebih besar dari ketentraman dan kedamaian, maka apakah yang demikian bisa dinamakan seimbang?

Jadi bagaimana? Agar seimbang, Anda bisa pertimbangkan diri Anda untuk berperan dalam menyeimbangkan ‘isi’ dunia.

Anda bisa mempertimbangkan untuk memperkuat barisan tentara penyebar kedamaian. Sebab bagian yang ini sedang tergencet angkara.

Tetapi harus diingat bahwa mustahil Anda bisa membagi kedamaian tanpa Anda sendiri mempunyai jumlah kedamaian yang berlebih dalam diri Anda. Dan------kedamaian itu---- mustahil diperoleh tanpa “diam dalam keheningan”.

Kedamaian hanya bisa diperoleh dari Tuhan, Sang Samudra Kedamaian. Kedamaian hanya bisa dicapai melalui menghubungkan charger sang jiwa dengan Jiwa Maha Tinggi (Tuhan). 

Suara Tuhan tidak akan dapat didengar dalam kondisi gaduh/crowded. Masuk ke dalam rumah dan berkomunikasi dengan Tuhan, membutuhkan keheningan. Kontak dan menghubungan charger jiwa dengan Tuhan memerlukan silence.  Tanpa ini, kedamian hanya akan merupakan cita-cita belaka.

Sekarang, mulailah belajar menyerapi kedamaian dari Tuhan, agar Anda damai dan lalu bisa membagikannya kepada jiwa-jiwa yang merindukan rasa damai, bukan hanya di Indonesia tapi juga untuk seluruh dunia.

Salam Damai
Love and remembrance   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar