Selasa, 11 April 2017

Mengapa Harus Menerapkan Spiritual Marketing - Menjawab pertanyaan Eka Diana Putri

Bacalah dengan mengingat Tuhanmu,
"Ciri pengetahuan sejati adalah 'berlaku sepanjang waktu'." (BKWSU)

Dear EDP,
Mengapa kita harus menerapkan spiritual marketing? Tidak harus sih... ini hanyalah salah satu alternatif praktik pemasaran yang bisa dipilih dalam rangka menjadi jiwa yang bertanggung jawab terhadap keselamatan jiwa konsumen.

Jika kita perhatikan ulah banyak pemasar hari ini, sebagian besar telah mengajarkan para konsumen untuk berpola hidup konsumtif. Selain itu, tidak sedikit yang menghalalkan berbagai cara untuk menarik perhatian konsumen. Ini terjadi hampir merata pada semua jenis produk. Bukan hanya pelaku bisnis on line, namun juga yang off line. 

Contoh kecil saja:

  1. Produk tempat makan yang harganya lumayan mahal, sengaja setiap beberapa bulan mengeluarkan produk baru, agar bisa mengatakan kepada konsumen bahwa produk mereka sudah usang (walaupun tidak diucapkan dengan kata-kata, tapi diartikulasikan melalui katalog product lengkap dengan artis bayarannya).
  2. Produk HP, otomotif, peralatan elektronik, peralatan dapur (panci, pemanas, penggorengan dll).
  3. Produk pakaian yang diskonnya gila-gilaan setiap hari. Para pembelanja disodori diskon, bila sudah membeli, kemudian masih ada iming-iming voucher agar belanja lebih dan lebih lagi.
  4. Produk sayur-mayur dan buah yang menggunakan banyak pestisida, melapis kulit buah dengan lilin agar awet dalam cold storage.
  5. Pemberian bahan pewarna pakaian pada makanan. 
  6. Pengusaha yang tidak bertanggungjawab terhadap limbah sehingga melukai air dan pertanian.
  7. Mereka yang menggunakan lemak babi pada produknya, tapi tidak mau jujur menyertakan kandungan tersebut dalam catatan komposisi produk.
  8. dan masih banyak lagi 

Sementara kita belajar spiritual marketing, tujuannya adalah agar kita mengerti tentang tanggungjawab, apalagi tanggungjawab tersebut akan diminta kelak oleh Sang Pemelihara Kehidupan. Anda bisa membaca pengertian spiritual marketing di sini.

Pertanyaan Anda berikutnya adalah 'apakah spiritual marketing bisa menjamin terealisasinya penjualan, jika sementara di kanan kiri kita ada pesaing yang mempraktikkan kekotoran dalam marketing'?

Pelaku spiritual marketing memang tidak banyak dan tidak akan banyak dalam jaman ini. Mereka akan punya segmennya sendiri. Penyedia dan pemasar produk-produk organik adalah contoh dari spiritual marketer. Pengusaha yang betul-betul mengelola limbah dengan baik agar tidak melukai alam dan masyarakat adalah contoh spiritual marketer.

Mereka tidak banyak, karena memang di dunia lama ini pebisnis jujur dan bertanggung jawab hanya sedikit, dan di dunia baru yang akan datang (di surga) juga penghuninya tidak sebanyak sekarang. Tetapi jika Anda ragu apakah hidup para praktisi spiritual marketer itu terjamin, berkecukupan, tentram dan bahagia, Anda boleh tanyakan langsung kepada mereka. Ini pasti bisa jadi bahan riset yang menarik. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar