Senin, 17 April 2017

Apa Pandangan Ibu Tentang Pindah Agama?

Bacalah dengan mengingat Tuhan,
“Ciri pengetahuan sejati adalah Memberi Pencerahan”
Dear pembelajar,
Menjadi pengampu mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar, sama sekali tidak pernah menjadi angan-angan saya. Sampai suatu ketika, pimpinan menginginkan agar ISBD diajarkan dosen internal (bukan dari luar). Saya sama sekali tidak menduga bahwa kawan-kawan mengusulkan saya untuk memegang matkul tersebut.

Setelah saya pelajari, ternyata isi ISBD adalah terdiri dari Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Dasar. Di dalamnya, mengandung materi tentang manusia itu sendiri, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk social---lalu ada asal muasal budaya, permasalahan budaya, permasalahan-permasalahan social yang dijelaskan fenomenanya dan dikaji secara mendalam, agar mengerti apa sejatinya persoalan mendasarnya dan mengerti bagaimana menyelesaikannya.

Baru mulai belajar tentang manusia saja sudah menarik bagi saya dan juga bagi mahasiswa. Ketika bicara bahwa manusia terdiri dari jiwa dan raga, bukan membahas hal raga-nya yang menarik, tetapi membahas sang jiwa. Just like a miracle! Tuhan antar saya ke dalam peran menjadi pengajar ISBD yang di dalamnya justru menyinggung ruang terdalam dari manusia (yaitu jiwa dan ruang jiwa).

Buku acuan yang saya gunakan adalah buku ISBD yang ditulis oleh RH. Ada satu statement yang membuat saya mengernyitkan dahi ketika beliau mengatakan bahwa “…. Raga tanpa jiwa adalah mayat dan jiwa tanpa raga adalah setan atau jin.”

Saya tak memandang salah. Beliau pasti punya alasan menulis itu. Setiap yang ditulis pasti bersumber dari pengetahuan dan pengalaman beliau sebelumnya.

Demikian juga saya yang secara kebetulan mendalami hal-ikhwal tentang jiwa, perjalanan jiwa dan Tuhan dari sisi Spiritual Knowledge. Agak beda pandang. Bahwa jiwa based on spiritual knowledge adalah titik cahaya, yang berasal dari Tuhan. Dalam diri manusia ada sang jiwa yang karakter aslinya adalah illahiah, seperti karakter Tuhan.

Dengan demikian, aslinya setiap jiwa yang ada dalam tubuh adalah baik, positif, penuh cinta kasih, damai, suci dan benar. Ia menjadi berubah buruk sejak memilih mengikuti iblis dibanding Tuhan. Tak satupun jiwa yang lahir dengan karakter buruk.

Maka kalau mau dunia luar beres tidak ada persoalan, yang utama harus dibereskan terlebih dahulu adalah sang jiwa yang ada di dalam setiap tubuh bernama manusia.

Pembahasan tentang jiwa ini rupanya sangat menarik perhatian para mahasiswa. Mereka bertanya apakah mungkin kita kembali meraih karakter asli itu? Saya jawab, sangat mungkin! Caranya adalah nge-charge. Kita ambil power itu dari Tuhan dan kita gunakan untuk melepaskan sifat-sifat buruk kita. Dengan berlatih secara regular, ini akan mendapatkan hasil. Sebab saya sendiri telah mengalaminya. Karena sangat kecil kemungkinan menjadikan orang lain sebagai obyek eksperimen, maka saya harus terjun sendiri menjadikan diri saya sendiri sebagai obyek dan subyek eksperimen saya tentang efek dari meditasi (charging). Yaitu, menghubungkan diri dengan Tuhan dan lalu mengambil power dari Beliau.

Dahulu saya tidak mengerti apa itu meditasi. Satu-satunya yang saya tahu adalah bahwa meditasi adalah ajaran sesat. Tetapi setelah saya masuk dan belajar, saya kemudian menjadi mengerti bahwa meditasi berasal dari akar kata Latin, medery, yang berarti healing (penyembuhan diri). Sembuh dari apa? Sembuh dari sifat-sifat Iblis, seperti amarah, ego, serakah, kemelekatan, nafsu, kebencian, kemalasan dll.

Di sinilah mulai terjadi eksplorasi pikiran. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tentang jiwa yang mereka ajukan kepada saya. Baik kaitan jiwa dengan badan, kaitan jiwa dengan Tuhan dan kaitan jiwa dengan agama.

Satu diantara sekian pertanyaan bagus itu adalah “Apa pendapat/pandangan ibu tentang seseorang yang pindah agama?”

Dan saya menjawab,

“Hmm…manusia hidup harus punya tujuan. Tujuan hidup saya sangat tinggi, yaitu bertemu Tuhan dan kemudian terus terhubung dengan-Nya agar saya selamat. Karena hanya Tuhan yang mampu membimbing saya ke arah yang benar. Bukan manusia, bukan juga benda-benda fisik yang tidak abadi. 

Jika selama perjalanan ini, pikiran saya tidak fokus dan mata saya meleng terpesona oleh tingkah-laku orang lain yang sulit saya mengerti, maka yang terjadi adalah ‘kecelakaan ruhani’. Tangan saya terlepas dari tangan Tuhan. Bagaimanapun, setiap jiwa akan mengalami saat (momen) yang tepat dimana ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Tentang seseorang yang pindah agama, saya tidak berpendapat untuk itu. Sebab Tuhan melarang untuk menganalisis, mengkritik, berpendapat apalagi menyimpulkan kehidupan (keyakinan) orang lain hanya berdasar penglihatan mata fisik saya. Penglihatan mata fisik ini sangat-sangat terbatas. 

Kejahatan dan keburukan berantai yang dinamakan sebagai persoalan-persoalan sosial yang kita bahas dalam ISBD ini, adalah produk dari analisis, kritik, pendapat dan kesimpulan-kesimpulan yang kita buat (collectively), berdasarkan penglihatan mata fisik yang kemampuannya sangat-sangat terbatas. Termasuk mengkritisi keyakinan orang lain kepada Tuhannya. 

Yang bisa saya sampaikan hanyalah----Faktanya di dunia ini, ada orang-orang yang sudah berjumpa dengan Tuhan, walaupun mereka tidak punya stempel agama. Ada orang-orang yang beragama sekaligus mampu mengenal Tuhan, sehingga pikiran, kata-kata dan perbuatannya menyejukkan dan mendamaikan. 

Sementara di sudut yang lain dunia ini, ada orang-orang yang walaupun sudah beragama, tetapi belum 'berjumpa' dengan Tuhan. Oleh karenanya, perilakunya sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka telah mengenal Tuhan. Pikirannya jauh dari kesejukan, kata-katanya cenderung melukai orang lain dan perbuatannya jauh dari nilai-nilai ketuhanan (kemuliaan). Mereka tidak pernah puas dalam hidup dan lebih memilih permusuhan dari pada persaudaraan. 

Demikian, semoga manfaat.

Terima kasih.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar