Kamis, 25 Agustus 2016

Bermeditasi Selama Memasak, Why Not?

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,-----
Tuhan memang tidak makan, tetapi Beliaulah yang memberi kita makan. Maka, makanlah bersama Tuhan.
Dear pembelajar,
Dapur adalah tempat dimana Tuhan memelihara kita, jiwa-jiwa. Memiliki dapur yang tidak pernah dinyalakan adalah sama halnya dengan menghentikan pemeliharaan. Dari dapurlah masakan berkualitas dihasilkan, lalu diberikan kepada tubuh untuk mendapatkan manfaat yang diperlukan dan sebagai bentuk tanggung jawab jiwa terhadap tubuh.

Hari ini, banyak orang menderita karena hadirnya ragam penyakit. Di sudut lain, orang dewasa mengalami keresahan tentang mengapa sikap dan perilaku anak-anak, makin jauh dari illahiah walaupun disekolahkan. Sebaliknya, anak-anak muda pun tidak habis pikir dengan sikap dan perilaku orang dewasa yang tidak pernah menjadi dewasa secara jiwa.  
Apakah hal ini bisa dikurangi? 

Bisa. Dan kita bisa memulainya dari dapur masing-masing melalui pemurnian asupan. Pemurnian asupan bisa dilakukan dengan cara bermeditasi selama memasak.

Sebelum mengerti apa itu meditasi, saya takut dekat-dekat dengan segala hal yang relevan dengan meditasi. Namun setelah mengerti dan merasakan manfaatnya, saya menjadikan itu sebagai pola hidup. Hidup menjadi lebih sederhana, jauh dari kerumitan (kompleksitas), jauh dari kebingungan dan secara bertahap semua menjadi berjalan simple dan natural saja.

Meditasi berasal dari akar kata Latin medery, yang artinya adalah healing. Healing adalah penyembuhan atau penyehatan, tetapi yang disehatkan adalah spirit-rohani-jiwa (bagian terdalam dari makhluk bernama manusia). Adapun praktik meditasi adalah remembrance – persahabatan dengan Tuhan --selalu mengingat (terhubung) dengan Tuhan dalam setiap aktivitas. Jadi, meditasi tidak harus duduk bersila, juga tak harus menata postur sedemikian rupa sehingga justru malah menegangkan.

Membawa meditasi ke dapur, memberikan dampak positif kepada asupan yang kita siapkan. Memasak dengan senantiasa terhubung dengan Tuhan memberi dampak positif kepada kualitas makanan. Bahan makanan yang tadinya kita tidak pernah tahu datang dari mana dan sudah tercemari oleh apa, bisa kita murnikan bersama-sama Tuhan di dapur tempat Beliau memelihara kita. Itulah sebabnya dapur pun harus sering-sering dibersihkan.

Langsung saja----Inilah tahapan sederhana yang bisa dilakukan:
  1. Bersihkan badan sebelum memasak. Mandi dapat menyegarkan baik tubuh maupun jiwa. Niatkan diri untuk menyiapkan makanan yang sehat agar tubuh menjadi bersih dan sehat.
  2. Selama beberapa menit, hubungkan diri Anda dengan Tuhan (bisa di kamar Anda atau bisa di dapur Anda). Putarlah dengan lembut lagu-lagu rohani atau ayat-ayat suci yang Anda sukai. Undanglah Tuhan untuk hadir di dapur dan peliharalah keheningan selama memasak. Hanya ada Anda dengan Tuhan yang sedang bersama-sama melakukan kegiatan menyiapkan makanan suci dan sehat. 
  3. Selama Anda memasak, tetaplah hening. Biarkan Tuhan,  Nur - Sang Titik Cahaya berada tepat di atas Anda. Visualisasikan bahwa Beliau sedang mencurahkan energy suci kepada Anda, kepada semua bahan dan masakan yang Anda sedang diolah. 
  4. Yakinkan dalam hati bahwa Anda hadir sepenuhnya dalam kegiatan memasak tersebut. Artinya, pikiran Anda tidak sedang memikirkan orang lain atau hal-hal lain. Sebagi contoh, Anda bisa ucapkan dalam hati: “Saya (jiwa) sedang menyiapkan makanan suci bersama Tuhan,  Sang Jiwa Maha Tinggi….Siapapun yang mencium aroma atau memakan masakan ini, mereka akan menjadi jiwa yang terus mengingat Tuhan dan mereka akan menjadi sehat jiwa-raga”. 
  5. Usahakan jangan melakukan kegiatan lain selama memasak.
  6. Setelah semua selesai dimasak, pertama-tama persembahkan kepada Tuhan. Ucapkan terima kasih kepada Tuhan dan biarkan Tuhan memberkahi makanan yang telah siap untuk dihidangkan. Jangan lupa juga mengucapkan terima kasih kepada semesta alam dan semua unsur siapapun jiwa-jiwa (petani, pedagang dan sebagainya), yang telah berkontribusi membantu hadirnya bahan makanan hingga sampai ke rumah Anda. 
  7. Makanlah makanan yang sudah Anda masak dalam keheningan. Jangan makan sambil melakukan kegiatan lain (bicara, menonton TV, membaca notif dalam HP, misalnya). Makanlah bersama Tuhan. Tuhan memang tidak makan, tapi Tuhanlah yang memberi makan kita. Beliaulah yang “menyuapi” kita. Hadirlah sepenuhnya pada momen ketika makan. Anda bisa menghitung jumlah kunyahan hingga 40 kali untuk membantu konsentrasi Anda selama makan. Dengan menghitung, Anda hadir sepenuhnya bersama Tuhan. Ini pun membantu kerja pencernaan. 
  8. Seusai makan, kembali berterima kasihlah kepada Tuhan dan kepada semesta alam, juga kepada semua jiwa yang berkontribusi menghadirkan bahan makanan ke rumah Anda. 
  9. Selesai.

Thanks God, Guru and those who like this article. This is inspired by BKWSU (Brahma Kumaris World Spiritual University).

1 komentar:

  1. Pas banget dapat bacaan ini seakan Allah gerakkan jemari ini sampai di blog ini. Tadi saya masak sesuatu untuk saya berikan pada remaja masjid yang sedang pengajian.. semua saya lakuakn karena Allah. bersedah dengan tenaga pikiran dan materi yang udak banyak hanya menurut kemampuan saya.Besok saran dan pelajaran dari Jeng Aridha

    BalasHapus