Jumat, 05 Februari 2016

Apakah Ibu Islam?

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,
Mengapa setelah pintar mengaji, setelah pandai membaca kitab, setelah pandai berdandan kemudian mampu berubah menjadi para pembenci kepada mereka yang tidak sama dengan kita? Bahkan berubah menjadi penuh ego dan merasa paling benar?

Dear pembelajar,---------

"Apakah ibu Islam?" Pertanyaan ini kerap ditanyakan mahasiswi/a. Jika tidak bertanya pada awal mengenal saya, nanti pada saat punya kesempatan berbincang-bincang dengan saya, mereka baru mengaku kalau selama bertahun-tahun memendam  pertanyaan itu.
Nah setelah menjadi lebih dekat mereka mengatakan:

“Beneran! Saya kira ibu ini, Hindu…!” atau
Swear mom! Saya kira non muslim, macam Kristen atau Katolik gitulah..pokoknya…”--- Kata mereka.

Dan inilah jawaban setelah sengaja bertanya tentang faktor apa yang menyebabkan mereka ragu-ragu saya ini Islam apa bukan:
  1. Bahwa saya tidak berjilbab,
  2. Bahwa pakaian saya tidak umum, tidak sama seperti mereka (yang muslim). Saya memang nyaris selalu mengenakan pakaian putih dan kerudung putih yang tidak menutup seluruh kepala. Kadang saya kalungkan menutup separuh badan bagian atas, kadang saya menggunakannya sebagai kerudung walaupun rambut putih ini masih terlihat. Berkerudung ala orang Jawa Timur generasi lalu. (Putih hanya untuk mengingatkan saya kepada kematian).
  3. Bahwa bicara saya selalu bermuatan cinta kasih- belas kasih… macam ajaran Katolik/Kristen (versi mereka, sebab mereka sendiri rancu antara Katolik dan Kristen),
  4. Bahwa saya jarang menyebut Tuhan dengan kata “Alloh” atau “Awloh”, tapi saya cenderung menyebut Tuhan dengan sebutan Tuhan (saja).
Hmm…Dahulu ketika belum begitu mengenal Tuhan (walaupun beragama), kepada yang tak se agama, saya kadang memaksa diri saya agar memandang salah mereka. Namun setelah perlahan belajar mengenal Tuhan lebih dekat, baru saya mengerti. Ternyata Tuhan begitu baik. Tuhan begitu konstan, damai, tenang dan tidak setitikpun memiliki kebencian. Pasti karena itulah Beliau begitu berkilau dan powerful. Selalu dicintai, dikasihi, dan dirindu-rindukan kehadirannya oleh banyak jiwa.  

Jadi, kepada mereka yang penasaran apa agama saya, saya ingin mengatakan

“Apapun agama kita di KTP, marilah bergerak meninggi. Bergerak meninggi menuju Tuhan. Kita juga perlu belajar kecantikan, keindahan hati dan kemuliaan yang diajarkan dan dicontohkan oleh Tuhan sendiri. Mari belajar dari Tuhan cara-cara mencintai, cara-cara mengasihi dan cara-cara merespon kehidupan.

Bila memperhatikan ciptaan Tuhan yang lain. Nanti kita pasti akan menjadi malu. Mereka jauh lebih paham apa-apa yang diajarkan Tuhan. Tanpa menanyai apa agama kita, matahari memberi, bulan memberi, bintang memberi, laut, langit dan bumi pun memberi. Tetumbuhan juga memberi daun, biji, bunga, buah dan keteduhan tanpa memandang agama apakah yang boleh mengambil manfaat darinya.”

Suatu ketika jelang subuh, di google search saya mengetik frase “Islam means..” Terbaca disana:

“…. Islam is derived from the Arabic root “Salema”: peace, purity, submission and obedience. (Islam berasal dari akar kata Arab “Salema” yang bermakna: damai, kesucian, pasrah/berserah total dan kepatuhan).

Nah. Itulah sebabnya saya enggan menjawab setiap ada pertanyaan apakah saya Islam atau bukan. Walaupun dalam KTP saya tertera demikian.

Jika benar makna Islam itu seperti itu, saya masih perlu bertanya: 

Adakah saya sudah menjadi Islam? Atau saya hanya sekedar ber-KTP (agama) Islam?
Adakah saya selalu damai walau apapun terjadi? Adakah saya memelihara kesucian pikiran, kata-kata dan perbuatan saya? Adakah saya ini jiwa yang betul-betul mampu total berserah kepada Allah, Tuhan saya? Adakah saya ini mampu patuh kepada Beliau?

Memandangi Kalandra, cucu saya yang masih berusia 1,5 tahun, saya jadi ingat bayi-bayi di dunia. Siapa di dunia ini yang tidak damai, tidak menjadi penuh belas kasih memandang  bayi-bayi? Bayi-bayi belum belajar agama, namun semuanya total percaya dijaga Tuhannya.

Lihatlah…
Bayi-bayi tidak pernah punya pikiran buruk. Pikirannya suci, celotehnya suci, perbuatannya suci..Semuanya suci tanpa prasangka, tanpa mencela, tanpa merasa paling benar sendiri. Atau sesekali rasakan bagaimana atmosfera dalam ruang-ruang bayi di Rumah Bersalin.

Dimanapun bayi-bayi berada, atmosfera di sekelilingnya selalu menjadi penuh kasih. Mereka tiada pernah bertanya tentang agama orang-orang sekitarnya. Walaupun demikian, semua mendapat bagian vibrasi cinta yang sama. Tidurnya damai, senyum dan tawanya ceria. Setiap gerakannya menarik perhatian kita untuk segera datang memberikan kasih yang paling tulus.   

Kita dahulu juga seperti itu…pernah menjadi bayi-bayi seperti itu…Kita pernah mampu menciptakan atmosfera kedamaian melalui vibrasi-vibrasi kesucian yang kita dapat dari Tuhan. Semua kita beri pandangan suci tanpa buruk sangka. Dan itu memberi kebahagiaan dan menimbulkan keindahan kepada hati semua orang yang mendekat.

Lalu sekarang kemana perginya semua kemuliaan illahiah itu?

Mengapa setelah pintar mengaji, setelah pandai membaca kitab, setelah pandai berdandan kemudian mampu berubah menjadi para pembenci kepada mereka yang tidak sama dengan kita? Bahkan berubah menjadi penuh ego dan merasa paling benar?

Seharusnya tidak demikian, bukan?

Thanks God, Guru and those who like this article.

1 komentar: