Kamis, 01 Oktober 2015

Spiritual Marketing: Mengapa Saya Begini dan Mereka Begitu?

Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu:

“Kebahagiaan manusia adalah bergerak menuju tempat yang lebih tinggi, mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih tinggi,memperoleh pengetahuan tentang hal ikhwal yang lebih tinggi dan yang tertinggi, dan bila mungkin, bertemu dengan Tuhan. Bila manusia tak mengerjakan tugas-tugas ini, maka berarti ia bergerak menuju kepada yang lebih rendah, dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih rendah, sehingga ia pun menjadikan dirinya sendiri tak bahagia, bahkan mungkin putus asa.” (filsafat klasik)

Dear Pembelajar,
Semalam, pembelajaran (Spiritual) Marketing Management bersama mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas 45 Surabaya begitu menarik. Selepas doa bersama dan pembagian kelompok diskusi, saya membuka perkuliahan dengan menyerahkan telinga saya kepada para mahasiswa. Saya mengambil peran mendengarkan saja  pengalaman mereka terkait dengan pemasaran dan perilaku konsumen.


Saya katakan, “Kita telah cukup banyak mempunyai pengalaman hidup terlibat dengan aktivitas pemasaran, baik sebagai pemasar, sebagai konsumen, maupun sebagai korban praktik pemasaran. Sekarang, saya ingin mendengar langsung dari Anda, apa yang pernah Anda alami. Anda boleh menceritakan pengalaman yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan”.

Opik yang mendapat giliran pertama, berkisah:

“Saya bekerja di bidang pendidikan (SD). Kami mengalami beberapa kendala. Pertama adalah kendala membangun komunikasi efektif dengan para orang tua murid. Pasalnya, sebagian besar mereka, tidak mengerti baca tulis. Mereka pasrah total kepada kami (sekolah) tentang bagaimana jalannya pendidikan putra-putri mereka.

Persoalan ke dua adalah cara para orang tua memersepsi kata “PENDIDIKAN GRATIS” yang selalu didengung-dengungkan pemerintah. Bagi mereka, gratis ya gratis! Oleh karenanya, ‘biaya’ (uang) sebagai bagian konsekwensi dari terlaksananya pendidikan yang berkualitas, menjadi sangat sensitif untuk dibicarakan dengan mereka. Faktanya, tidak seluruh kebutuhan selama proses pendidikan berlangsung, sanggup ditanggung pemerintah.

Kami berposisi di kaki Suramadu. Jangankan bicara tentang biaya, bicara tentang kerjasama saja susah. Bila di tempat lain, para orang tua masih bisa diharapkan kerjasamanya dalam mempercepat kemajuan pembelajaran anak, di sini sulit sekali! Maksud saya begini, selepas sekolah, seharusnya kan tanggung jawab ada di tangan orang tua. Tapi ini sulit terwujud. Kami tidak bisa berharap kerjasama mereka untuk ikut terlibat dalam kemajuan belajar putra-putri mereka. Nyaris seluruh PR tidak pernah dikerjakan di rumah. Di luar sekolah, anak-anak menjadi liar. Bagaimana orang tua bisa mendampingi pembelajaran, sementara mereka sendiri tidak bisa baca tulis?

Bukan hanya itu, pemahaman yang terbatas dari para orang tua tentang wajib belajar mempunyai dampak yang tidak menggembirakan. Wajib belajar dipersepsi sebagai wajib belajar di sekolah saja, sedang di rumah tidak wajib. Sikap permisif ini membuat anak cenderung nakal dan abai terhadap tanggung jawab.”

Itu cerita Opik. Sekilas tampak taka da hubungannya dengan manajemen pemasaran. Tidak ada persoalan dengan jumlah murid. Siswanya lumayan banyak. Artinya, tidak perlu promosi pun sudah dapat murid. (Walaupun sebenarnya promosinya nebeng pemerintah lewat jargon pendidikan gratis).

Opik tampak telah mengenal definisi produk yang disinggung di sini, sehingga membawa kasus ini ke dalam kelas pemasaran.

Lalu apa jawaban saya untuk kasus tersebut?

Apa pula jawaban saya untuk beberapa pengalaman telah diungkap oleh Aditya Arya, Zainal, Delfi, Putu, Dwi, Samantha, Arista, Putri, Okky, Mailina, Anggar, Bagas dan Bagus?

Ringkas pertanyaan mereka adalah, mengapa saya begini dan mengapa mereka begitu.

Untuk kasus Opik, juga kasus lain yang dikemukakan oleh beberapa kawan lainnya seperti: 

Bagaimana mencapai target pemasaran tanpa harus melakukan kebohongan, bagaimana mempertahankan kejujuran dalam persaingan ketat merebut hati pelanggan, bagaimana mengatasi pedihnya perasaan saat dikomplain dan dimaki pelanggan dan atau boss, bagaimana menghadapi pedihnya perasaan dalam melayani konsumen yang bossy…. 

maka, dalam kaca mata spiritual marketing, harus saya sampaikan bahwa value  (nilai-nilai luhur/illahiah) itu penting Anda miliki supaya ada pembeda antara Anda dengan yang lain. 

Selain itu, beberapa pertanyaan-pertanyaan saya berikut adalah juga merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda: (maka, jawablah!) 
  1. Seberapa dalam penghayatan Anda dan orang-orang dalam perusahaan tempat Anda bekerja, terhadap misi perusahaan/organisasi tempat Anda bekerja?
  2. Pernahkah Anda membaca misi perusahaan tempat Anda bekerja?
  3. Apakah perjalanan bisnis sejauh ini selaras dengan misi tersebut? Jangan-jangan, perusahaan tidak mempunyai  misi yang jelas. Jangan-jangan, misi hanya merupakan rangkaian panjang kata-kata yang hanya menjadi dekorasi dinding dan dekorasi leher saja. Atau, jangan-jangan orang-orang di dalam sudah melenceng jauh dari misi. (Untuk bisa berjalan baik harus ada arahan/guidance, jika tidak, Anda akan tersandung-sandung).
  4. Bagi Anda yang gamang terhadap realita (yang dipaksakan) bahwa untuk mencapai target dan memenangkan persaingan, (value) kejujuran harus diabaikan/diinjak-injak dalam kondisi yang sangat kompetitif seperti sekarang ini, bagi Anda yang masih suka mengalami ketersinggungan, kepedihan dan merasa terhina oleh sikap/perilaku konsumen, bagi Anda yang takut dikeluarkan dari perusahaan oleh sebab mempertahankan nilai-nilai luhur, maka renungkanlah pertanyaan tingkat tinggi ini! : “Siapakah sejatinya saya? Dan apakah sejatinya misi saya dalam kehidupan ini?”.
Hal yang kita bicarakan ini, relevan dengan materi Strategic Marketing Plan yang akan kita diskusikan pertemuan berikutnya. Akhirnya, saya harus katakan kepada Anda, quote berikut ini bagus, bacalah!

“Kebahagiaan manusia adalah bergerak menuju tempat yang lebih tinggi, mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih tinggi,memperoleh pengetahuan tentang hal ikhwal yang lebih tinggi dan yang tertinggi, dan bila mungkin, bertemu dengan Tuhan. Bila manusia tak mengerjakan tugas-tugas ini, maka berarti ia bergerak menuju kepada yang lebih rendah, dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih rendah, sehingga ia pun menjadikan dirinya sendiri tak bahagia, bahkan mungkin putus asa.” (filsafat klasik)

Sebagai tambahan baca artikel "Tujuan Hidup Level Rendah" --- di sini 

Terima kasih, salam bahagia dan terus berkarya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar