Senin, 06 April 2015

Why Spiritual Marketing? (5) : Societal Marketing vs Spiritual Marketing

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,
“The more you become quiet, the more you understand yourself”
Dear pembelajar,
Ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Societal Marketing Concept agak sedikit lebih luas dibanding marketing concept. Dalam societal marketing concept, disamping tujuan pemasar adalah memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar, pemasar juga bisa menstimulasi minat target pasar. Pesaing dan persaingan tidak disinggung dalam marketing concept, namun dalam societal marketing concept, pemasar memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, secara lebih efektif dan lebih efisien disbanding pesaing-pesaingnya. Pemasar juga mempertimbangkan kepentingan masyarakat dalam hal memperoleh kehidupan yang lebih baik.

“Lalu apa bedanya dengan spiritual marketing?”, demikian sebuah pertanyaan masuk dalam catatan saya dan inilah jawaban saya.

Dalam pemahaman saya, konsep spiritual marketing adlah konsep pemasaran yang dilakukan dengan membangkitkan dan menggunakan SQ (kecerdasan illahiah). Oleh karenanya, implikasi dari prinsip ini mensyaratkan adanya kejernihan pribadi dari sang pemasar. Sang pemasar di sini meliputi pemilik, pimpinan, karyawan, baik bagian penjualan maupun bagian-bagian non penjualan. Memiliki usaha batik yang dalam penglihatan mata biasa menghasilkan banyak keuntungan bagi orang-orang di dalam organisasinya, tapi limbah pewarnaan melukai bumi dan pengairan, ini sangat tidak spiritual. Bertentangan dengan nilai-nilai illahiah.

Mempunyai usaha plastic, yang limbahnya jelas-jelas melukai lahan persawahan dan mempengaruhi kualitas hasil panen, namun oleh lembaga pembuat stempel bebas pencemaran lingkungan, dibuatkan stempel “aman bebas pencemaran”, ini juga tidak spiritual. Walaupun, perusahaan bisa memberi kepuasan kepada pelanggannya, lebih efektif dan lebih efisien disbanding pesaingnya.

Beternak ayam, bebek, kambing dan lain-lain, yang disamping baunya melukai masyarakat setempat, juga mengabaikan kebutuhan oksigen binatang, ini juga tidak spiritual. Walaupun, ia mengklaim bisa lebih efektif dan efisien dari pesaingnya dan dapat memuaskan pelanggannya.

Spiritual marketing, bukan hanya berurusan dengan pesaing, pelanggan, dan masyarakat luas, namun juga perlakuan terhadap komoditas yang diperdagangkan, juga cara-cara yang dilakukan selama proses pemasaran berlangsung.

Pada saat saya menulis ini, kabar bahwa walikota Surabaya memerintahkan penutupan/penyegelan terhadap sekitar 350 outlet waralaba yang punya embel-embel mart-mart, banyak menghiasi media. Alasannya, mereka melanggar aturan pemilihan lokasi. 

Mereka merambah hingga ke wilayah perkampungan-perkampungan. Dikhawatirkan toko-toko inilah yang membunuh usaha peracangan dan pasar tradisional. Secara ilmu manajemen pemasaran biasa, sah-sah saja pemilik merek mart-mart tersebut menguasai pasar seluas-luasnya, namun kajian spiritualnya adalah bahwa ini adalah bentuk keserakahan. Inginnya terkenal dimana-mana, namun yang diperoleh adalah tercemar. Mempunyai modal nama besar dan sudah mapan, tidak berarti harus merasa perlu menge-MART-kan seluruh Indonesia, bukan?

Apabila nama yang sudah mapan tersebut digunakan untuk mengangkat toko-toko peracangan yang ada, mengajari dan mendidik mereka bagaimana agar menjadi tempat belanja yang menarik, kejadian penyegelan tidak akan terjadi dan nama mereka tetap settled. Inilah sentuhan spiritualnya! Bukankah persoalannya hanya pada dana untuk tempat yang perlu sedikit lebih luas, penataan barang dagangan dan kebersihan saja? Biarkan mereka menggunakan merek toko sendiri, tidak harus dikuasai dengan embel-embel merek mart, bukan? Upaya menge-mart-kan Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan apa coba? 

Di dekat tempat tinggal saya, sebuah tempat belanja bernama MINA, berhasil menjadi besar dan tidak pernah sepi dari pengunjung. Meskipun namanya MINA, bukan Minamart.

Siapa yang sudah berhasil menjadi besar dan lalu ingin terus menerus menguasai pasar, sekali lagi, terus menerus ingin menguasai pasar, namanya ingin selalu tampil dimana-mana, ia pasti jatuh. Bila tidak merugi, pasti mem-PHK karyawan secara besar-besaran. Siapa yang sudah mengalami ini? Kita bahas ini di kelas.       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar