Senin, 13 April 2015

BCG Model

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,-
"Setiap kata itu berharga. Maka sebelum diucapkan, isilah terlebih dahulu setiap kata  dengan cinta, kebijaksanaan dan kejujuran"

Dear pembelajar,
sumber: google.com
Selalu saya tekankan agar senantiasa menjaga ingatan bahwa kita sedang membicarakan ilmu manajemen pemasaran yang berada pada koridor spiritual marketing. Apapun topic bahasan yang sedang kita bicarakan, ingatan Anda harus berada pada upaya memberdayakan dan membangkitkan kecerdasan spiritual (SQ) Anda. 

Apapun agama Anda, sebagai produsen, pebisnis maupun konsumen, bangkitkan dan jaga kecerdasan spiritual Anda. Dengan tetap berada pada koridor spiritual marketing, jika Anda berbisnis, bisnis Anda berada pada koridor kebenaran (bersih, tidak menipu, tidak memperdaya mengambil untung dari kelemahan konsumen, tidak merangsang keinginan-keinginan yang hanya menimbulkan bencana). 
Jika pun Anda menjadi konsumen, Anda menjadi konsumen yang cerdas secara spiritual, tidak menjadi bulan-bulanan para pemasar yang tidak bertanggung jawab, mengerti bahwa keinginan-keinginan terus berkembang melampaui kebutuhan. Jika Anda lemah, Anda adalah peluang pasar yang siap digarap oleh para produsen. Sekarang, mari kembali kepada topic.

“Apa sih BCG Model?” Sangat mungkin Anda bertanya demikian. Model ini sebenarnya adalah salah satu alat untuk menganalisis bisnis yang sedang berjalan/dijalankan. Ini termasuk dalam bahasan strategi pemasaran. BCG Model ditemukan oleh kelompok konsultan, yaitu Boston Consulting Groups. Itulah sebanya, model yang mereka temukan dinamakan dengan BCG Model atau ada juga yang menyebutnya dengan Matriks BCG.

Banyak perusahaan yang masing-masingnya mengelola beberapa bisnis. Unilever misalnya, ia mengelola bukan hanya beberapa kebutuhan toiletries, namun ia juga mengelola beberapa merek untuk masing-masing wujud toiletriesnya. Dalam deretan sabun ada beberapa merek antara lain Lux, lifebuoy, Dove. Dalam deretan pasta gigi ada pepsoden, close up. Dalam deretan shampoo, ada Sunsilk, Dove, Clear .. Masih ada banyak lagi antara lain, Rexona, Molto, Rinso, Surf, juga yang terkait dengan dapur antara lain Blueband dan Royco. Jika Anda meluangkan waktu mempelajari brand mereka, Anda bisa mengamatinya di pasar-pasar modern.  

Ciputra misalnya, ia mengelola beberapa bisnis property antara lain, perumahan, apartemen, mall, lahan dan ruko. Ia juga mengelola beberapa jenis bisnis jasa pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi. Lebih jauh lagi, bukan hanya di Surabaya dan Jawa Timur, tapi juga di Jakarta, Medan, Ujung pandang, Manado hingga ke luar negeri.

Nah, apa yang baru Anda baca itulah yang dinamakan dengan unit bisnis-unit bisnis. Satu perusahaan bisa mengelola beberapa unit bisnis. Kumpulan dari unit bisnis-unit bisnis tersebutlah yang istilahnya sering Anda dengar sebagai portofolio bisnis! Dalam bahasa Inggris disebut business portfolio, sedang unit bisnis atau unit usaha disebut business unit. 

Masing-masing unit bisnis ini, penting bagi pebisnis dan melibatkan para pengambil keputusan tingkat corporate (strategists), sehingga disebut sebagai strategis (memerlukan strategi tertentu). Maka setiap unit bisnis disebut sebagai strategic business unit (unit usaha yang strategis). Strategic Business Unit disingkat dengan SBU.

Dalam belajar BCG Model, Anda harus mulai membiasakan dan mengerti ketika siapapun menyebut BCG dan SBU.

Sekarang kita masuk pada materi. Model BCG berupa matriks dua dimensi. Dimensi vertikalnya mewakili tingkat pertumbuhan pasar (market growth), sedangkan dimensi horisontalnya mewakili pangsa pasar (market share). Market growth atau tingkat pertumbuhan pasar adalah peningkatan jumlah permintaan terhadap produk tertentu dalam periode tertentu. Sedang market share (bagian pasar atau pangsa pasar) adalah persentase pasar yang bisa dilayani, yang bisa dihitung dengan cara total penjualan produk tertentu dibagi dengan total penjualan industri.  

Perhatikan gambar matriks BCG di atas dan perhatikan cara membacanya seperti berikut ini:
  1. Kuadran I: SBU-SBU yang beroperasi pada pasar yang tingkat pertumbuhannya tinggi, namun mempunyai pangsa pasar rendah (High Growth-Low Share), adalah bisnis yang berada pas posisi tanda Tanya (Question Mark). Umumnya, bisnis berawal dari Question Mark. Mereka mencoba masuk kepada pasar dimana di sana sudah ada market leader. Bisnis yang berada pada posisi ini memerlukan banyak cash, sebab umunya mereka ingin menyusul market leader. 
  2. Kuadran II: Bisnis Question Mark akan menjadi bisnis bintang (Star Business), jika berhasil meningkatkan pangsa pasarnya. SBU yang berada pada posisi bintang adalah market leader/pemimpin pasar, yaitu SBU yang dapat meraih pangsa pasar tinggi (High Share) dalam pasar yang tingkat pertumbuhannya juga tinggi (High Growth). Bisnis bintang tidak memberi kontribusi cash yang signifikan, sebab perusahaan harus mengeluarkan dana untuk menghadapi persaingan dalam pasar yang tingkat pertumbuhannya tinggi. 
  3. Kuadran III: Manakala tingkat pertumbuhan pasar turun menjadi kurang dari 10% per tahun (Low Growth), bisnis bintang/star business menjadi Cash Cow (sapi perah), dengan catatan bahwa pangsa pasarnya masih tinggi (High Share). Perusahaan tidak begitu perlu mendanai sejumlah ekspansi sebab pertumbuhan pasar sudah menurun. Perusahaan menikmati hasil dari masa-masa ketika bisnisnya menjadi bisnis bintang/market leader. Di sini ia menikmati skala ekonomi dan profit marjin yang tinggi. Perusahaan menggunakan cash-nya untuk membayar hutang/tagihan atau mendanai unit bisnis (SBU) lain. 
  4. Kuadran IV:  Dog Business adalah SBU yang lemah, mempunyai pangsa pasar rendah (Low Share) dalam pertumbuhan pasar yang rendah pula (Low Growth). SBU pada posisi ini menghasilkan keuntungan hanya sedikit dan bahkan merugi. SBU pada posisi ini sering menghabiskan waktu manajemen, sehingga mungkin lebih baik dihilangkan saja.

Empat Strategi berdasarkan analisis BCG: 
  1. Build Strategy, tujuannya untuk meningkatkan market share. Market share harus tumbuh jika ingin jadi bisnis bintang. Cocok untuk Question Mark Business, dengan meningkatkan market share. 
  2. Hold strategy, tujuannya adalah untuk melindungi market share. Sesuai untuk Cash Cow yang kuat, bila SBU ini menghasilkan aliran kas yang besar.
  3. Harvest strategy, tujuannya untuk meningkatkan cash dalam jangka pendek, dengan mengabaikan efek jangka panjangnya. . Cocok untuk Cash Cow yang lemah.
  4. Divest strategy bertujuan untuk menjual atau melikuidasi unit bisnis karena sumber daya yang ada bisa digunakan untuk yang lainnya. Cocok untuk dog business dan question mark yang tidak dapat meningkatkan share-nya.    

Terima kasih sudah membaca. Salam bahagia dan terus berkarya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar