Senin, 16 Maret 2015

Why Spiritual Marketing? (2): Implementasi SQ dalam Marketing

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,
“Jika Tuhan YME adalah satu-satunya tumpuan harapan, tidak satu pun manusia berhasil membuat kita menjadi kecewa”

Dear pembelajar,
Masih tentang Spiritual Marketing. Setelah sebelumnya kita melihat, membaca dan mendengar fenomena praktik kotor dunia usaha, terlebih adalah usaha-usaha kecil, mudah-mudahan titik cahaya kesadaran untuk berkontribusi positif, ada pada kita semua. Meskipun pasti banyak juga bisnis-bisnis kelas menengah dan besar, yang setali tiga uang.

Berdagang dengan cara-cara yang tidak illahiah, tidak hanya dilakukan oleh mereka yang dianggap tidak mengerti apa itu nilai-nilai illahiah (nilai-nilai spiritual). Pebisnis yang membungkus diri dan poduk/jasa dagangannya dengan kemasan Tuhan dan agama, juga ada. Hari ini, para orang tua bersaing memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah favorit berbungkus agama, meskipun dengan tarif masuk yang sangat-sangat mahal.

Salah seorang guru pernah mengatakan pada saya, bahwa salah satu dari 17 ciri pengetahuan sejati adalah diberikan secara cuma-cuma. Hari ini, mencari keuntungan finansial atas nama Tuhan, dalam bentuk sekolah-sekolah mahal, dalam bentuk paspor dan visa, dalam bentuk penunaian ibadah, bahkan dalam bentuk kitab suci, menjadi hal yang biasa saja. Sering saya dengar kasus kekecewaan perserta umroh dan haji, karena visa tidak bisa diperoleh, pas pada tanggal yang dijanjikan. Fenomena-fenomena inilah yang membuat saya bertanya-tanya, “God, what is happening?”

Padahal, sekarang banyak orang pintar bergelar-gelar. Kita kerap mengaku mengerti agama dan gemar menyitir ayat-ayat suci. Lalu kenapa kehidupan ini tidak makin bersih dan malah sebaliknya? Begitu banyak dari kita, menangis saat pagi dini hari, memanggil-manggil Tuhan, menyampaikan kesedihan dan kekhawatiran akan masa depan, karena saking tidak mengertinya bagaimana hidup/kehidupan memperlakukan kita.

Pada materi sebelumnya, saya singgung soal pentingnya spiritual marketing dan ketidakcukupan Spiritual Quotient (SQ)- para pemasar lah yang menjadi salah satu pemicu kekacauan. Kok para pemasar? Oiya! Para pemasar produk, punya kontribusi cukup besar dalam menimbulkan chaos (kekacauan/kebingungan) masyarakat dunia. Produk apapun tidak akan sampai kepada masyarakat (pengguna) tanpa aktivitas pemasaran yang dilakukan oleh para pemasar.

Tindakan para pemasar berpengaruh signifikan terhadap kinerja dunia, baik kinerja ekonomi, social, hukum, agama, pertahanan, keamanan, ideology, budaya, maupun kesehatan. Kalau saja para pemasar punya kesadaran SQ yang cukup baik, maka Rumah Sakit dan orang sakit, tidak perlu terus menerus bertambah jumlahnya, tempat hunian sehat tidak perlu terlalu mahal, sampah-sampah tidak perlu menggunung dan makin hari makin jadi masalah, banjir tidak perlu terjadi, kemacetan tidak perlu terjadi, kekurangan lahan subur juga tak perlu terjadi, impor jeroan dan atau ekspor – impor negatifitas tidak perlu terjadi.

Secara sederhana, Spiritual Marketer adalah mereka yang menggunakan SQ nya dalam menjalankan aktivitas bisnis maupun pemasarannya. Setiap jiwa memiliki SQ yang powerful, namun apakah SQ ini dirangsang untuk digunakan? Tergantung kepada kesadaran diri. Yang tidak menyadari bahwa dalam dirinya ada kekuatan SQ yang luar biasa, bagaimana mau menggunakannya?

Dalam pembelajaran lalu, saya meminta mahasiswa untuk menulis, minimal 10 kata kunci, yang berhasil diingat-ingat. Lalu dari 10 kata kunci itu, saya meminta mereka untuk melingkari kata-kata mana saja yang belum berhasil dipahami secara mendalam. Nah, salah satu dari daftar keingintahuan itu adalah kata Spiritual Marketing dan SQ. Soal SM, sudah terjawab, dan kini giliran saya menjawab SQ.

Spiritual Quotient, terdiri dari dua kata. Spiritual dan Quotient. Quotient artinya kecerdasan dan spiritual, masih harus kita “bedah” lagi. Spiritual berasal dari kata spirit. Dalam kamus, ada banyak arti kata spirit, antara lain, semangat, energy dan roh. Dahulu sebelum mendalami studi spiritualitas di BKWSU (Brahma Kumaris World Spiritual University), saya mengalami kerancuan dalam menjelaskan tentang SQ. Namun kemudian semuanya menjadi jelas, ketika para guru dengan penuh kesabaran berbagi apa-apa yang mereka tahu dan alami sendiri, tentang spiritualitas.  

Dari tiga artian kata spirit itu, saya lebih tertarik menggunakan menggunakan asal kata “roh”. Jika spirit adalah roh, maka spiritual adalah rohani. Dengan demikian Spiritual Quotient adalah Kecerdasan Rohani. Dadi Janki, pengajar senior kami, suka menggunakan kata kecerdasan rohani bergantian dengan kata kecerdasan illahiah.

Sangat sederhana memahami hal ini. Kata manusia, dalam bahasa Ingris disebut human being. Ada dua unsur, the human dan the being. The human adalah badani/ragawi, sedang the being adalah rohani atau spirit. “Kreasi” orang tua yang berupa janin, tidaklah akan hidup sebelum ada spirit (rohani) masuk ke dalam janin. Spirit inilah yang asli bersumber dari Tuhan dan itulah yang membuat janin/badani kemudian hidup. Jadi setiap manusia, aslinya adalah positif, karena di dalamnya ada spirit, ada nilai-nilai ketuhanan, ada nilai-nilai illahiah. Sejalan dengan bertambahnya usia dan aneka ragamnya pengaruh lingkungan, kita semua menjadi lupa kualitas asli kita. Lupa bahwa di dalam sana ada energy yang begitu positif dan powerful, karena sumbernya adalah Tuhan sendiri.

Nilai-nilai illahiah adalah meliputi cinta, belas kasih, kebahagiaan, kekuatan, kebenaran, kepuasan, kemurnian dan nilai-nilai positif lainnya, yaitu nilai-nilai yang dimiliki Tuhan. Inilah sebabnya disebut  nilai-nilai illahiah. Jika nilai-nilai asli (core quality) ini, berhasil kita angkat kembali ke permukaan, kita latih dan kembangkan terus menerus, maka kita akan bisa mencapai kecukupan SQ. Jika persoalan SQ kita dapat diatasi, maka otomatis persoalan EQ dan IQ, teratasi.

Maka, sejak belajar ini, mulailah untuk menyadari keaslian Anda. Mulailah untuk mengingat kembali bahwa kualitas Anda yang asli adalah sedemikian agung bersumber dari Tuhan. Munculkanlah kembali itu, sehingga apapun profesi Anda penjelasan ini bisa diadopsi ke sana.

Apapun agama yang Anda anut, apabila Anda adalah marketer/pebisnis, jadilah marketer yang spiritual, yang  mempraktikkan nilai-nilai illahiah dalam setiap aktivitas. Demikian pula, jika posisi Anda adalah konsumen, perhatikanlah nilai-nilai asli Anda tersebut, apakah iya bahwa Anda membeli produk sesuai yang Anda butuhkan atau menuruti keinginan-keinginan Anda* (perhatikan kata greedy dalam penjelasan ALGAE, setelah ini)

Pada akhir tulisan ini, saya ingin berbagi bahwa disamping ada nilai-nilai keillahian, ada juga nilai-nilai non keillahian. Sebagian orang menyebutnya dengan nilai-nilai yang tidak illahiah. Nilai-nilai ini ada dalam setiap diri manusia, yang setiap saat berupaya mengalahkan nilai-nilai illhiah kita. Mereka ini terus berupaya membuat kita melupakan kualitas asli kita.

Jenna mengistilahkan sebagai ALGAE (anger, lust, greedy,attachment, ego), yaitu amarah, nafsu birahi, keserakahan (tidak pernah merasa cukup), keterikatan/kemelekatan dan ego. Bukan hanya pebisnis/pemasar yang sudah waktunya harus mulai sadar diri kepada kualitas asli, namun kita semua, dari seluruh profesi dalam kehidupan ini, penting untuk sadar akan kualitas asli. Sebab, dampak dari praktik-praktik aktivitas dalam kendali ALGAE tersebut, sudah dan sedang kita rasakan bersama.

(Nilai-nilai) Spiritual adan ALGAE, senantiasa berperang. Mereka selalu tarik menarik. Dan ketika hari ini semua bergerak menuju kehancuran, hampir setiap bidang ilmu, menjadi ingin menambahkan kata “spiritual” dalam judul materinya. Kita mulai mencari Tuhan, Sang Sumber Pengetahuan. The Ocean of Knowledge. Spiritualitas, sudah dan masih menjadi barang langka. Bila Anda berhasil mencapai keaslian Anda, bergerak kemanapun dengan kualitas keaslian Anda, kualitas illahiah bawaan dari Tuhan, maka kemanapun Anda melangkah, Anda akan menjadi mercusuar hidup. Kini Anda mengerti bukan, apa itu Spiritual Marketing? Ya! Ilmu pengetahuan pemasaran yang menerapkan SQ, yang menerapkan nilai-nilai asli jiwa, nilai-nilai keillahian.  

Terima kasih sudah belajar bersama, salam bahagia dan terus berkarya!
Link terkait :
  1. http://www.papanputih.com/2013/12/meningkatkan-kualitas-jiwa-1.html 
  2. http://www.papanputih.com/2013/08/spirit-spiritual-dan-spiritualis.html
  3. http://www.papanputih.com/2014/02/spritual-marketing-1-apa-itu-spiritual.html
  4. http://www.papanputih.com/2015/03/why-spiritual-marketing-1.html 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar