Friday, March 13, 2015

Why Spiritual Marketing? (1)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,
"Cinta kasih adalah dasar yang menciptakan dan memelihara hubungan kemanusaiaan secara mendalam dan mulia"

Dear pembelajar 
Tujuan penulisan ini adalah untuk membuat kita semua mulai mempunyai kesadaran diri. Sadar untuk memberi kontribusi positif (baik secara mental/pikiran, maupun secara fisik) terhadap apapun yang kita lakukan, yang itu terkait dengan aktivitas pemasaran.


Selain tulisan sebelumnya, tulisan ini juga untuk kita semua. Tidak peduli, apakah sekarang ini, kita adalah seorang penjual produk/jasa, seorang wira usaha, pemasar, pebisnis, atau hanya sebagai konsumen atau pasar, Spiritual Marketing, penting dan mendesak untuk dipelajari dan diadopsi dalam kegiatan keseharian. 

Intinya, baik sebagai pemasar, maupun sebagai pasar (konsumen), mari kita berupaya mengembangkan benih kecerdasan spiritual kita. IQ kita mungkin dituntut tinggi, namun apalah gunanya kalau EQ dan SQ kita, tidak dalam kapasitas yang cukup. Kita hanya akan menjadi kontributor timbulnya bencana saja.

Tidak cukupnya kapasitas EQ dan SQ (meski IQ tinggi), bisa membuat kita tergelincir dalam kegiatan-kegiatan pemasaran yang tidak spiritual, tidak bersih, tidak memiliki nilai-nilai illahiah. Jika sebagai pemasar, SQ kita rendah, maka kita cenderung hanya bisa menyakiti, membuat penyakit-penyakit baru, membuat susah atau membuat kekacauan saja. 

Sebaliknya, jika sebagai konsumen, SQ kita rendah, maka kita hanya akan menjadi sasaran empuk oleh para produsen/pemasar/pebisnis yang tidak bertanggung jawab. Kita tidak pernah merasa kalau diri ditipu atau dijadikan obyek oleh para produsen yang memang bertujuan hanya untuk mengejar hal-hal yang sifatnya materialistic saja. 

Konsumen yang tidak terbuka SQ-nya, sangat cepat memutuskan membeli sesuatu yang sejatinya tidak diperlukan. Pemasar sanggup mengubah pikiran konsumen yang tadinya tidak butuh, mendadak menjadi butuh. Kita yang tadinya tidak ingin, dibuat supaya berkeinginan kuat. Inilah fenomena yang terjadi hari ini, sehingga, mau tidak mau, saya merasa berkewajiban menyampaikan ini semua kepada Anda, khususnya mahasiswa dan alumni Univ. 45 Surabaya dimana saja berada.

Tanggal 27 Januari 2015, lalu, di Kompas.com, saya membaca berita yang cukup mengejutkan. Mentan Amran marah-marah soal impor jeroan ke Indonesia. Kran impor jeroan ditutup, sebab di Luar Negeri, jeroan adalah makanan anjing. “Jeroan kita impor. Itu makanan anjing-kucing di sana (luar Negeri). Langsung saya tutup impornya, kata beliau di Sukoharjo Jawa Tengah, Senin 26-01-2015. Lebih lengkapnya, bisa Anda baca di sini. (saya tersenyum membaca ini, sebab jauh dalam lubuk hati yang paling dalam, saya tahu bahwa, jangankan jeroan, bahkan dagingpun juga dimakan oleh binatang …dan bukan hanya di LN, di DN juga demikian).

Beberapa fenomena lain juga saya temui. Ketika klik dengan menggunakan kata kunci “makanan beracun” di youtube.com, lebih dari 800 kasus ditampilkan dengan jelas dalam bentuk video reportase. Mari satu per satu kita amati video-video sampel yang saya ambil untuk pembelajaran kita. Ini adalah reportase tentang kerupuk putih beracun. Ini adalah reportase tentang lumpia pembawa racun. Ini adalah reportase tentang tahuyang dibubuhi gypsum. Ini adalah reportase tentang minuman cingcau dan bahan baku air isi ulang tercemar/berbahaya . Ini adalah reportase cireng yang mengandungbahan kimia berbahaya

Setelah mempelajari reportase-reportase yang “riset”nya dilakukan secara sembunyi-sembunyi itu, apa yang ada dalam benak Anda? Hari ini jelata bahkan sanggup membunuh jelata, tanpa mempunyai perasaan bahwa mereka sejatinya sedang melakukan pembunuhan sesamanya dengan cara yang sangat samar. 

Pengrusakan sedang terjadi dimana-mana, bahkan terhadap para generasi. Para perusak tidak merasa bahwa dirinya sedang melakukan perusakan dan hebatnya, yang dirusakpun, juga tidak merasa bahwa mereka sedang mengalami proses pemerosotan dan bahkan bisa jadi pembunuhan karena mengalami sakit yang tidak biasa.

Sekarang, Anda mengerti mengapa dari dulu saya terus berkeras tekad untuk mendalami nilai-nilai spiritual secara khusus lalu kemudian mengadopsi nilai-nilai tersebut untuk dimasukkan dalam setiap bahasan materi  kuliah Manajemen Pemasaran ini. 

Saya rasa, saya harus memberi tahu Anda, bahwa hari ini, setiap sekolah bisnis sedang belajar ilmu Manajemen Pemasaran. Mereka yang disiapkan menjadi pebisnis, belajar membedah benak konsumen dan menganalisis faktor-faktor apa saja yang bisa mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli produk/tawaran. 

Mereka belajar ilmu tentang bagaimana mempengaruhi kita semua, agar kita yang tadinya tidak memerlukan sesuatu produk, bisa diubah menjadi memerlukannya dan lalu membeli. 

Perilaku kita yang tadinya tidak menginginkan sesuatu produk/tawaran, dipelajari dan diupayakan ditemukan faktor-faktor penyebab mengapa kita tidak menginginkannya. Mereka lalu mencari cara-cara pendekatan dengan berbagai metoda, agar kita sebagai konsumen, berubah, dari tidak menginginkan menjadi menginginkannya. 

Secara khusus, dicari celah-celah psikologis konsumen sebelah mana yang bisa dipengaruhi secara signifikan, agar target pasar menjadi berkebutuhan dan berkeinginan secara terus menerus. Bagi pebisnis, tidak ada celah yang tidak menarik untuk dimasuki. Ilmu ini dipelajari secara mendalam.

Senyampang bahwa produk-produk tersebut memang diperlukan, sangat tidak ada masalah. Namun bila konsumen dibujuk secara terus menerus, diiming-iming dengan cara-cara yang tidak bertanggungjawab, ini sangat tidak bagus dan menyebabkan kekacauan secara masif dan sistemik.

Salah satu dari sejumlah contoh saja, pemasar yang tidak bertanggungjawab, adalah, terus menerus berupaya membujuk konsumen agar membeli mobil atau sepeda motor, bila perlu satu orang satu unit mobil pada keluarga kelas atas. Mengapa ini sangat tidak bertanggung jawab? 

Sebab pemasar tersebut tahu betul dan paham betul, bahwa hari ini kemacetan timbul dimana-mana, dan kalaupun mobil dibeli atau terjual secara masal, hanya akan menambah ruwet dan macetnya jalan saja. Produsen/pemasar, setelah menjual produk-produknya, tidak punya urusan tentang bagaimana nasib produk dan penggunanya setelah pembelian, lalu mengatakan bahwa itu urusan pemerintah (soal jalan raya). 

Mereka tahu betul masalah kelangkaan lahan, mereka tahu betul kapasitas jalan umum yang tidak lagi sanggup menyerap produk mereka, tapi pura-pura tidak tahu. Mereka tahu betul bahwa makin lama jumlah sampah otomotif juga makin menjadi masalah. Menghancurkan sampah otomotif memerlukan ketegaan hati untuk membakar dan lalu meningkatkan polusi udara. Demikian juga, tidak satupun suku cadang otomotif yang dibuat, tanpa melalui proses pembakaran. Anda mengerti, maksudnya, bukan?

Inilah jenis pedagang, produsen atau pemasar yang meskipun IQ nya boleh dibilang tinggi (karena pandai hitungan angka-angka keuntungan finansial), namun tidak cukup cerdas secara illahiah (SQ).


Semoga bermanfaat dan kita akan membicarakan spiritual marketing lebih jauh lagi, setelah ini. Terima kasih sudah membaca. Salam bahagia dan terus berkarya!

1 comment:

  1. Setelah membaca posting ibu Aridha Prassetya,
    Sangat bermanfaat sekali.
    Imam minta ijin untuk share ke teman-teman.
    Semoga sehat selalu ibu Aridha Prassetya.

    ReplyDelete