Sabtu, 15 Maret 2014

Manajemen Pemasaran Asli Indonesia (2) : PRODUK dan PASAR



Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,---
"Seperlima orang yang ada, selalu menentang Anda" (Robert Kennedy)

Dear pembelajar,

Di kelas, kita sudah membicarakan bahwa definisi produk itu sangat luas. Kata para guru manajemen pemasaran, product is anything that can be offered to the market, yaitu segala sesuatu yang bisa ditawarkan kepada pasar (untuk dibeli/dikonsumsi/dimiliki). Ketika saya menyebut kata market, saya berharap Anda masih mengingat diskusi kita bahwa market adalah set of buyers (BUKAN TEMPAT bertemunya penjual dan pembali).

Dengan menggaris bawahi kata anything, maka produk bisa berupa produk fisik/barang yg bisa dilihat bisa disentuh, bisa pula berupa jasa, orang, ide/gagasan, informasi, pengalaman, properti, tempat, event/acara dan organisasi. Apapun yang bisa dijual, sejak hari ini kita pahami sebagai produk.

Lantas mengapa produk, penting untuk kita bahas? Sebab, produk termasuk salah satu konsep inti dari pemasaran. Kalau tidak ada produk (dalam batasan tadi), apa yang mau dijual kepada pasar? Apa yang mau dipasarkan?

Hah? Masa orang juga termasuk produk yang bisa ditawarkan kepada pasar? Hmm...ini pun sudah kita bahas di kelas, bukan? Bahwa Anda dengan segenap performans, skill dan kompetensi Anda, memiliki nilai jual. Anda mempunyai harga, Anda bisa menawarkan diri kepada pasar Anda dan bisa pula ditawarkan kepada pasar. Anda juga memiliki pesaing untuk dapat memenangkan “persaingan”, memenangkan hati pasar Anda. Kalau kurang percaya, coba baca materi Memasarkan Diri, ini!

Sekarang, mari kita kembali pada kesepakatan akan visi kita. Universitas 45 Surabaya adalah Universitas berwawasan kebangsaan, Fakultas Ekonomi Universitas 45, adalah FE yang berwawasan kebangsaan. Program Studi Manajemen FE Univ. 45 adalah Prodi Manajemen yang berwawasan kebangsaan dan mata kuliah manajemen pemasaran yang dipelajari di Prodi ini, tentu saja manajemen pemasaran yang berwawasan kebangsaan. Itulah sebabnya, saya memilih judul dari kelas pembelajaran ini adalah Manajemen Pemasaran Asli Indonesia.

Manajemen Pemasaran Asli Indonesia akan bergerak dari desa, sebab Negeri Indonesia terbentuk dari kumpulan desa-desa. Mari kita berangkat dari sana. Asumsi saya, kalau desa-desa ini hidup secara ekonomi, maka, negeri inipun akan otomatis mapan secara ekonomi.

Banyak perguruan tinggi lain berfokus belajar bisnis besar-besar, baik skala nasional, maupun internasional, tapi kita akan bergerak di sisi lain. Saya akan mengajak Anda mengambil segmen perhatian yang ini saja...Mari memperhatikan sektor informal, mari menghayati kegiatan ekonomi mikro yang ada di lapisan “bawah sana”. Jika kita mau sedikit saja lebih menyimak, tak bisa kita menyangkal bahwa kontribusi mereka terhadap negeri ini, memang sangat besar. Ekonomi pedesaan ini, nyaris tidak mau merepotkan, apalagi tergantung kepada negara. Dengan segala kemampuan, mereka berupaya bertahan dan berkembang agar selalu bisa menggaji dirinya sendiri, siapapun bupati/walikota/gubernur dan bahkan presidennya.

Okay, sekarang mari kita menuju pedesaan. Jika Anda mendengar kata desa, apa imajinasi Anda? Apakah produk-produk yang saya sebutkan ini, sempat terlintas? Padi, rumput, alang-alang, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang ijo, kacang kapri, mangga, pepaya, pisang, sirsak, daun beluntas, kunyit, laos, jahe, temu lawak, temu putih, temu giring, temu ireng, kencur, kunci, kemiri, kangkung, bayam, daun lembayung, daun kemangi, daun pepaya, daun singkong, daun kenikir, daun dan kembang turi, petai, jengkol, lamtoro, asem, juwet, seto, kinco, nanas, bengkoang, kesemek, kedelai, tahu, tempe, kelapa, lontar, cemara, jati, dan lain-lain (cobalah menambahkan apa yang belum saya sebut, sebab sangat mungkin masih banyak yang terlepas dari perhatian saya).

Dari pedesaan pula bisa dihadirkan ikan-ikan macam lele, kutuk, bandeng, mujahir, ikan mas, udang, wader, badher, gereh, tombro, dan lain-lain (silakan menambahkan apa yang belum tersebutkan).

Tidak berhenti di sana, bila kita berkunjung ke desa nelayan, tentu saja kita akan mendapati ragam ikan laut seperti kerapu berbagai jenis, patin, kakap, bawal, tongkol, dll (silakan ditambahkan yang lain).

Nah, apa yang baru saja kita pelajari itu, semuanya bisa disebut produk (fisik). Lalu siapa pasarnya? Kita! Baik sebagai personal (end customer), yang membeli produk untuk konsumsi pribadi, atau sebagai organisasional (organizational market), yang membeli untuk kepentingan dijual kembali ataupun diolah menjadi ragam produk turunan. Sekarang saatnya Anda bayangkan, baik petani atau nelayan yang membawa produknya, ke pasar tradisional.

Pernahkah Anda belanja di pasar tradisional? Dahulu, saya mengira bahwa itu bukan tempat belanja saya. Karena pasar tradisonal identik dengan becek, kumuh dan kotor. Tapi, makin ke sini, saya makin tertarik untuk mempelajari segala ikhwal tentang kegiatan ekonomi di sana. Ada seorang nenek penjual pisang, buah, ragam sayur yang beberapa diantaranya, tidak dijual di pasar modern. Ada daun kenikir, daun pepaya, daun singkong, daun ketela rambat, daun tanaman kacang panjang, daun pisang, ontong pisang, kacang panjang asli (bukan palsu yang tampak hijau dan bagus tanpa cacat, tapi mengandung pestisida). Sepertinya, nenek ini memang spesialis penjual produk asli tanpa kontaminasi sentuhan zat kimia.

Jika semua yang saya sebut tadi adalah produk, maka, apakah “pasar tradisional” juga bisa dikatakan sebagai produk? Ya! Pasar juga adalah produk, baik tradisional maupun modern. Lalu siapakah pasar dari pasar ? Kita! Baik end customer, sebagai pembeli organisasional. Kok, pasar disebut produk dan punya pasar? Tentu saja! Bukankah, kita sudah belajar bahwa “tempat” juga termasuk produk? Pasar tradisional, memiliki (segmen) pasarnya sendiri. Demikian juga dengan pasar modern, mereka pun  memiliki (segmen) pasarnya sendiri. Perilaku pengunjung pasar modern tentu saja berbeda dengan perilaku pengunjung pasar tradisional. Kita akan belajar di kelas tentang ini.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengingatkan Anda agar tidak lupa membaca artikel Merubah Citra Desa Sejuta Lontar. Sebuah artikel yang menulis tentang kegiatan ekonomi pedesaan, dimana kakak kelas Anda telah lebih dahulu mempelajari sebagian ilmu dari para entrepreneur muda yang ada di sana. Di sebuah desa yang terletak di kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Hendrosari namanya. Untuk beberapa semester ini, kita akan memusatkan perhatian untuk belajar hal ikhwal tentang manajemen pemasaran dari beberapa kegiatan ekonomi yang terjadi di sana.

Bacalah artikel tersebut, lalu identifikasi atau kenalilah, mana yang disebut produk, mana yang dimungkinkan dibentuk menjadi produk dan mana yang disebut pasar (baik potensial, maupun aktual). Pikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut! 
  1. Apakah desa adalah sebuah produk? 
  2. Siapa pemasarnya dan siapa pasarnya?
  3. Adakah produk didalam sebuah produk yang bernama “desa”? 
 Agar dapat menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya Anda membaca artikel Marketing Place ini terlebih dahulu.
Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Allah, Yang Maha Berilmu-pengetahuan. Terima kasih kepada semua yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!
Dalam kasus desa Hendrosari, apa saja produk yang bisa ditawarkan kepada pasar?  








  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar