Rabu, 26 Februari 2014

Spritual Marketing : Apa itu Spiritual Marketing?

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,-
Ketika saya bertanya tentang bagaimana agar saya selalu merasa damai, guru bilang: "perhatikan dapur tempat memasak makananmu, selama masih terjadi 'pembantaian' di sana, selama itu kamu masih akan mempunyai kepedihan/kesedihan/duka, kemarahan, ketamakan, ego, keterikatan dan nafsu buruk"
Dear pembelajar,
Ini adalah awal perjalanan saya menulis tentang Spiritual Marketing. Mungkin tampak berbeda dengan ide penulis/pemikir lain, tapi mungkin juga beberapa diantaranya ada kesamaan. Saya mengalami kesulitan menyebutkan sumber satu per satu, oleh karena itu, saya hanya akan menyebutnya dengan kata "guru" saja. Ini bukan forum debat akademisi, ini hanya sebuah karya yang diinspirasi para guru dari berbagai bidang, dari berbagai sisi kehidupan. 

Begitu banyak ragam guru dan buku yang menginspirasi saya menulis ini. Bahkan, kebanyakan inspirator saya adalah para guru yang tidak secara khusus menamai konsepnya sebagai spiritual marketing, tapi spiritual life. Orisinalitas saya hanyalah berupa kemampuan merangkai semua ilmu yang saya dapat dari para guru ini, lalu menariknya menjadi sebuah karya seperti yang sedang Anda baca ini.

Apa yang melatarbelakangi saya menulis spiritual marketing adalah timbulnya kekacauan dan keberhasilan semu dalam bidang pemasaran. Secara kasat mata, banyak orang melihat para pemasar meraih keberhasilan dan kehebatan. Keberhasilan diukur dari sisi besarnya perusahaan, besarnya jumlah karyawan, besarnya jumlah cabang-cabang, besarnya jumlah kekayaan, besarnya jumlah uang dan keterkenalan perusahaan sekaligus pemiliknya, tanpa melihat sama sekali sisi penderitaan dari konsumennya.

Siapa yang peduli jika konsumen kecanduan gadget? Siapa yang peduli efek dari jika konsumen kecanduan gadget? Siapa yang peduli bahwa anak-anak tidak lagi mendapat pelukan dan sentuhan kasih sayang orang tua dan gadget disalahkirakan mampu menggantikan sentuhan hangat orang tua kepada anak-anaknya?

Pemasar junk food mana yang peduli bahwa doyan mengonsumsi junk food akan membahayakan kesehatan?

Lembaga pendidikan mana yang peduli bahwa dengan menghargai jasanya setinggi langit, akan otomatis mencipta gap antara kaum kaya dan kaum miskin?

Itu hanya sebagian saja faktor yang melatarbelakangi karya ini. Beberapa faktor lainnya mungkin akan disinggung dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Lalu apa spiritual marketing menurut saya?
Sederhana saja! Spiritual marketing atau pemasaran spiritual adalah pemasaran yang dilakukan dengan mengindahkan nilai-nilai spiritual. Artinya, dari perolehan bahan baku, proses produksi, pemasaran hingga dampaknya bagi konsumen terpelihara dalam nilai-nilai spiritual.

Anda pasti bertanya tentang apa yang saya maksud dengan nilai-nilai spiritual. Spiritual berasal dari kata spirit. Anda bisa buka kamus dan akan mendapati banyak makna. Tapi saya lebih tertarik memperhatikan makna ini: tujuan/makna yang sebenarnya, moral, keberanian, semangat, jiwa dan roh. Jadi nilai-nilai spiritual adalah nilai-nilai kerohanian yang bersih, nilai-nilai yang menunjukkan bahwa praktisinya mengerti apa tujuan sebenarnya dari pemasaran, apakah membuat perbaikan ataukah mencipta kehancuran demi memperbesar keuntungan.

Dari arti tersebut, bila saya seorang pendidik yang sedang memasarkan ilmu, menghargai ilmu saya setinggi mungkin sehingga dampaknya adalah memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, pemasaran yang saya lakukan jauh dari nilai-nilai spiritual.

Bila saya seorang dokter, lalu saya meresepkan obat tidak berdasarkan kebutuhan si pasien, tapi berdasarkan sogokan yang diberikan atau iming-iming hadiah/bonus yang diberikan oleh sponsor (perusahaan farmasi, misalnya), maka jasa dokter yang saya jual, jauh dari nilai-nilai spiritual.

Bila saya menjual makanan, lalu karena sayang membuang, lalu saya mencampurkan makanan basi dengan yang baru, atau membubuhi bahan pengawet berbahaya dan konsumen tidak tahu itu, maka apa yang saya lakukan jauh dari nilai-nilai spiritual. 

Pemasar Spiritual, ia mengerti bahwa apa yang dilakukan seperti menabung dalam rekening. Ketika setiap hari sedikit-sedikit menabung keburukan, maka ia akan memanen keburukan.

Banyak perusahaan-perusahaan yang dahulu dikenal sebagai perusahaan raksasa dan bahkan mendunia, pelan-pelan mengalami kebangkrutan karena praktiknya jauh dari nilai-nilai spiritual. (Contoh-contohnya hanya saya sampaikan di kelas formal, di Universitas 45 Surabaya)

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Allah Yang Maha Berilmu. Terima kasih kepada para guru yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!   

1 komentar: