Selasa, 04 Februari 2014

Kegiatan Ekonomi Pedesaan: Merubah Citra Desa Sejuta Lontar

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,----
"Adalah mustahil mencapai hidup damai dengan cara-cara yang tidak damai dan tidak penuh cinta" (Aridha Prassetya)

Dear pembelajar,--
Tulisan ini juga dimuat dan sempat menjadi Headline di sini. Semoga ini menjadi penyejuk diantara panasnya hawa perpolitikan menjelang pemilu. Jika berkonsentrasi pada upaya-upaya positif, hasilnya pasti positif. Ini adalah catatan perjalanan saya mengikuti gerakan-gerakan orang-orang muda yang (berpikir) positif dan selalu optimis, meski hidupnya dihadapkan pada hal-hal yang banyak dinilai negatif.

Desa Sejuta Lontar, Hendrosari, Kec Menganti, Gresik, Jatim-Indonesia
Adalah sebuah desa, Hendrosari namanya. Ia terletak di Kabupaten Gresik, Jawa Timur Indonesia. Hanya beberapa kilometer letaknya dari batas wilayah Surabaya bagian barat dan Kabupaten Gresik. Sejak 2007, saya menamainya sebagai Desa Sejuta Lontar. Dalam salah satu programnya yang pernah ada, Ditjen DIKTI berkenan mendanai penelitian saya, lewat sebuah program yang bernama PDM (Penelitian Dosen Muda). Waktu itu judul penelitian saya adalah Lontar Sebagai Prime Mover Kegiatan Ekonomi Pedesaan. 

Saya sebut prime mover, sebab memang area seluas 79 hektar tumbuhan lontar yang menghampar di wilayah ini, benar-benar merupakan penggerak utama kegiatan ekonomi di desa ini. Tumbuhan lontar berhasil merangsang tumbuhnya kegiatan ekonomi lainnya dan makin ke sini, makin pesat saja. Saya mengikuti dengan penuh konsentrasi perkembangan-perkembangan yang terjadi, sebab, sejak penelitian pertama kali itu, saya telah memutuskan untuk memilih memusatkan kegiatan tridharma saya di sana, di desa Sejuta Lontar itu. Warung-warung kuliner telah berhasil didirikan oleh penduduk setempat dengan tanpa satu pun warung yang tidak menyediakan legen/nira, minuman yang dideres dari bungan tanaman lontar. Kini kehidupan ekonomi mereka mengalami kemajuan yang berarti dibanding sebelumnya.

Lantas apa hubungannya dengan seni merubah citra desa?


Baiklah, mari kita bicara. Dahulu kala, penduduk setempat tahunya hanya menjual toak. Tidak banyak orang tertarik mengonsumsi legen, padahal hasil produksi melimpah. Setelah dideres, usia ketahanan legen ini tidak lama. Hanya dalam kurun waktu tiga-empat jam, legen yang tidak segera dikonsumsi, akan mengalami fermentasi dan berubah rasa, dari manis menjadi kecut dan menimbulkan bau khas. Legen yang terfermentasi inilah yang dikenal dengan nama toak, yang apabila diminum, efeknya bisa memabukkan.

Penderesan Legen/Nira Lontar hanya pagi&sore hari
Toak yang melimpah merangsang baik penduduk setempat maupun penduduk luar desa untuk datang, hanya untuk minum atau mabuk-mabukan. Walhasil, citra desa ini negatif. Adalah Hardi Sunaryo, seorang guru Madrasah Tsanawiyah, salah satu penduduk asli desa tersebut yang tidak pernah berputus asa untuk mengangkat citra desa, yang awalnya dikenal sebagai desa tempat mabuk-mabukan, menjadi desa yang pelan-pelan memiliki value.

Bersama istrinya yang mempunyai kepintaran memasak ayam panggang, didirikanlah warung kuliner. Menu andalannya waktu itu adalah ayam panggang kecap, namun makin ke sini, jenis menu yang ditawarkan menjadi sangat bervariasi. Warungnya dinamai Berkah Illahi. Satu minuman andalan yang tertera pada daftar menu adalah legen Syifa’ dan dhawet siwalan, minuman dhawet dari bahan buah lontar.


Syifa’, artinya obat. Guru yang satu ini memang tangkas! Sehingga Syifa’ dipilih sebagai merek yang ditempel pada botol legen dagangannya. Sejak lama, legen dipercaya dapat meluruhkan batu yang sedang dikandung oleh penderita batu ginjal. Awalnya saya pun tidak memercayai itu, hingga kemudian saya sendiri membaca penelitian adik-adik SMKN 1 Gresik. Ashfanul Imadina dan Afidatus Scholichah, melalui pembimbing Jaenuri, S.Pd dan Darwati, S. Pd., M. Si, membuat sebuah penelitian yang berjudul Pemanfaatan Nira Siwalan (Borassus flabellifer L.) untuk Meluruhkan Kristal Kapur yang Diaplikasikan pada Pencegahan Penyakit Infeksi Saluran Urine.


Pada abstract karya mereka, saya membaca bahwa mereka menggunakan dua kelompok obyek yang diberi perlakuan. Kelompok pertama adalah batu kapur dengan berat masing-masing 0,7 gr diberi perlakuan dengan pemberian air suling (aquades) sebagai kelompok kontrol. Dan kelompok perlakuan diberi nira/legen siwalan dengan dosis berbeda-beda, 50%, 60%, 70%, 80% dan 100%, dengan replikasi sebanyak 4 kali. Parameter yang diukur adalah penurunan berat batu kapur setelah perlakuan. Hasilnya adalah terjadi penurunan yang bermakna pada kelompok yang diberi tetes nira dari 0,1 gr hingga 0,3 gr. Simpulan penelitian mereka adalah makin besar dosis nira siwalan, makin cepat meluruhkan batu kapur dan endapan makin terekspresi dengan jelas.


Bukan itu saja, dua siswa SMK ini pun mengadakan wawancara dengan beberapa testimoni penderita infeksi saluran urine, yang berhasil sembuh dari “obat alternatif” ini.

Mhsw FE Univ. 45 Sby Belajar Pemasaran pd Hardi Sunaryo
Ketangkasan Hardi Sunaryo, tidak cukup hanya mendasarkan pemberian merek Legen Syifa’ pada fakta testimonial dan hasil riset ilmiah SMK setempat, namun juga dukungan ulama setempat berupa Cap/pengesahan. Mengapa harus ada pengesahan dari ulama? Sebab, sebelumnya, masyarakat tidak mengerti beda antara legen dan toak. Sebagian masyarakat menganggap legen adalah minuman (maaf) haram dan memabukkan. Padahal legen adalah tetes asli bunga lontar/siwalan, yang rasanya manis dan berkhasiat sebagai obat.

Darwis, Mhsw FE Univ. 45 (kiri) bersama Penjual Legen
Pelan tapi pasti legen Syifa’ Berkah Illahi dan legen asli yang belum diberi merek dari desa Sejuta Lontar, desa Hendrosari Kecamatan Menganti, Gresik Jatim berhasil menjadi primadona. Namanya sudah mulai dikenal luas di sekitar Gresik, Surabaya dan sekitarnya. Setelah legen Syifa’ diperkenalkan oleh Hardi Sunaryo, maka legen siapapun (yang tidak bermerek) akhirnya ikut naik harga. Dari yang dulunya berharga Rp 2000-2500 per 1,5 ltr sekarang mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 20.000,-/ltr.
Kini citra desa bergeser, dari desa tempat mabuk-mabukan, menjadi desa kuliner dengan makanan khas ayam panggang, lalu kemudian sedang menuju menjadi desa wisata. Beberapa waktu lalu, Bupati Gresik mencanangkan desa ini sebagai Desa Wisata dan saya masih mempunyai beberapa catatan tentang kegiatan ekonomi desa ini. Sampai jumpa pada tulisan berikutnya.

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Allah Yang Maha Berilmu. Terima kasih pada para mahasiswa FE Univ. 45 Surabaya dan semua yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar