Minggu, 22 Desember 2013

Meningkatkan Kualitas Jiwa (1)


Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,---
"Hanya karena namamu, peranmu, kekasihmu, harta-bendamu, pekerjaan dan jabatanmu hilang, lalu apakah kamu juga hilang? Tidak!" (Aridha Prassetya)
Dear Pembelajar,---
Untuk Hidup Hanya Perlu Bernafas.
Ini persembahan saya untuk Anda yang saya cintai dengan sangat dalam,

Duduklah! Mari kita bicara dari hati ke hati. Biarlah orang berkata bahwa apa yang saya lakukan sangat tidak populis, toh saya tidak harus populis. Saya hanyalah perempuan biasa yang terpanggil, untuk mendampingi Anda selama proses pembelajaran di kampus dan atau dimana saja Anda berada.
Terpanggil? Ya! Sebab peran apapun, saya memahaminya sebagai "panggilan". Mengajar adalah panggilan, belajar juga panggilan. Menjadi ibu adalah panggilan, menjadi pelayan juga panggilan. Menjadi guru adalah panggilan, menjadi murid juga panggilan. Saya mungkin tidak sepandai dan sehebat lainnya. Saya hanya memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Anda. Saya menyayangi Anda dengan sangat dalam.  

Saya merasakan semua kegelisahan Anda.Sebagai pemerhati masalah ketidakbahagiaan, saya terus berupaya mengikuti perkembangan Anda. Termasuk perkembangan hal-hal yang membuat Anda tidak bahagia dalam kehidupan. Tulisan saya ini bersambung. Berisi tentang banyak hal yang dapat menjadi pelajaran dalam berkehidupan. Baik selama di dalam kampus, maupun nanti setelah meninggalkannya.  

Dan ketika Anda meninggalkan kampus, saat itulah Anda memulai hari pertama belajar di  Universitas lain. Universitas yang sebenar-benarnya, yaitu Universitas Kehidupan. Universitas yang guru-gurunya tidak Anda kenali. Universitas yang tidak pernah jelas. Namun demikian, Universitas yang tidak jelas ini akan dapat menjadi sangat jelas bagi mereka yang bersedia dengan seksama mempelajari ilmu pengetahuan tentang “rahasia kehidupan” itu sendiri. Saya menyebutnya sebagai spiritual knowledge.

Kali ini, ingin saya bagi sesuatu yang khusus tentang cinta dan kebencian, tentang kebahagiaan dan penderitaan, tentang kedamaian dan ketakutan, kegelisahan, keresahan dan kemarahan, tentang kebebasan dan keterikatan, tentang kemurnian dan ketidakrelaan, juga tentang kebenaran dan ketidakbenaran. Mengapa saya harus menulis ini?  

Satu-satunya alasan adalah cinta. Saya tidak ingin Anda memersepsi kehidupan secara keliru, lalu mengira bahwa kehidupan ini tidak adil terhadap Anda. Hidup ini sangat adil. Dalam doa, saya bertanya pada Tuhan, “Tuhan, bagaimana mungkin saya bisa memeluk mereka, sedang saya hanya punya dua tangan dan dua kaki?” 

“Perbincangan” itu kemudian menghasilkan sesuatu. Menulis adalah jawaban. Inilah cara agar kita tetap bisa saling terhubung, meskipun secara fisik kita terpisah jauh. Saya, sepenuh hati mendengarkan jeritan-jeritan Anda, yang suka Anda lampiaskan lewat tulisan, artikel, Facebook, media, televisi, koran, majalah, nyanyian, puisi, cerpen, cergam, cerbung. Saya mendengarkan Anda dengan bahagia. Bahkan bukan hanya bicara tulis Anda, saya pun mendengarkan bicaranya hati Anda. 

Sekarang, duduklah agak lebih santai! Mari kita lanjut bicara. Pilihlah posisi yang paling aman, terserah Anda. Nah, begitu lebih baik! Coba perhatikan diri Anda! Apa yang sekarang sedang mengganggu perasaan Anda? Tidak bahagia soal kampus? Soal pekerjaan? Soal situasi yang kacau? Soal persaingan? Soal finansial? Soal pasangan? Soal keluarga? 

Tenang sajalah dulu! Anda akan baik-baik saja. Kehidupan memang harus bergerak. Problem, masalah, persoalan-persoalan akan selalu ada. Perubahan situasi dan persaingan adalah sebuah keniscayaan. Anda tidak bisa menolak itu semua. Anda harus menerima itu semua. Yang bisa Anda lakukan adalah mengetahui cara yang tepat untuk merespon segala sesuatu yang kehadirannya tidak bisa Anda tolak. Problems? Yes! Changes? Yes! Competition? Yes! Tetapi, how to reponse those cases is your choice. Cara merespon terhadap hal-hal tersebut adalah pilihan!

Kemampuan merespon masalah dan situasi tidak dimiliki oleh setiap orang, tetapi ia akan dimiliki oleh jiwa-jiwa yang mau belajar. Semoga Anda mulai tertarik mempelajarinya. Tarik nafas panjaaang…hembuskan…tarik nafas panjaaaang, hembuskan lagi…Ulangilah sampai diri Anda merasa nyaman dan lebih tenang. Mengapa saya selalu mengajak Anda latihan bernafas? Sebab menurut saya, mendengarkan nafas itu penting! Saya gemar mendengarkan nafas saya, untuk meyakinkan bahwa saya masih ada. Siapa tahu nafas saya sudah tidak lagi ada? Bukannya, nafas adalah tanda-tanda kehidupan?

Dahulu, saya sering lupa, kalau untuk hidup hanya diperlukan nafas saja. Sampai suatu ketika anak saya mengingatkan tentang hal ini. 
Manakala saya lupa bahwa untuk hidup, saya hanya perlu nafas, saya bisa stress tak ketulungan ketika saya kehilangan sesuatu. Kehilangan harta, kehilangan kebendaan, kehilangan perhatian dari orang-orang yang sudah setengah mati saya cintai, kehilangan jabatan, kegagalan mencapai keinginan-keinginan dan label-label lainnya, sangat sering saya alami. Faktanya? Saya masih eksis dan bisa menulis ini untuk Anda. Keadaan itu mengantar saya pada sebuah kesadaran baru. 

Bahwa bukan kehilangan-kehilangan itu yang bisa membuat "saya" mati, namun kehilangan nafaslah yang bisa membuat saya mati. Juga bukan segala yang telah hilang itu, yang membuat saya tetap hidup, tapi nafaslah yang membuat saya tetap hidup. Sejak itu, saya gemar memperhatikan bagaimana saya bernafas. Saya gemar berlatih mendengar nafas saya sendiri. Saya mulai mencintai aktivitas bernafas itu sendiri. Betapa sederhananya! Untuk hidup hanya perlu bernafas, lalu mengapa saya harus takut dan lalu mengira bahwa hidup mati saya bergantung kepada hal-hal selain nafas? Kehidupan yang makin chaos (kacau) belakangan ini, menjungkirbalikkan fakta. Menyederhanakan hal-hal yang tidak sederhana dan membuat kompleks/rumit hal-hal yang semestinya sederhana. Untungnya, bersama sebagian guru, saya segera mendapatkan kesadaran baru. Berlatih meningkatkan ketrampilan bernafas dan juga meningkatkan kepandaian mendengarkan nafas. 

Saya namai ini dengan “kesadaran bernafas”. Saatnya kita berlatih, ....tarik nafas dalam-dalam.....hembuskan.....tarik lagi nafas dalam-dalam......hembuskan........teruuus...ulangi.....tariklah nafas dalam-dalam......hembuskan.... rasakan ketenangan yang dalam dan sadari bahwa nafaslah yang membantu Anda untuk hidup, bukan lain-lain. Bukan orang-orang, bukan situasi-situasi dan bukan masalah-masalah yang membuat Anda hidup. Tapi nafas yang harmoni membantu Anda hidup. Untuk tetap hidup, hanya perlu bernafas. 

Betapa mudah dan begitu sederhana! Periksa nafas Anda, apakah masih ada? Dengarkan nafas Anda, apakah Anda masih ada? Atau apakah Anda berpendapat, “aaahhh..hidup tidak sesederhana itu”? Betul! Hidup tidak pernah sesederhana itu bagi jiwa-jiwa yang terpasung oleh maya/kepalsuan. Jiwa yang terpasung ego, terbelenggu kemarahan, diperbudak keserakahan, terjebak dalam keterikatan dan terkuasai nafsu.
To be continued

Salam bahagia dan terus berkarya!

1 komentar: