Senin, 07 Oktober 2013

Guru

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,---
"Kata guru, 'Ketika ia yg kamu cintai melakukan sesuatu tidak sesuai harapanmu, maka kamu berhenti mencintai. Inilah yg namanya cinta egois..'" (Aridha Prassetya)

Dear pembelajar,
Mereka bertanya tentang siapa yang saya maksudkan dengan guru dan siapa yang sering saya sebut-sebut dengan "GURU".

Dan saya menjawab: 
"Bagi saya, guru bisa jadi Anda, bisa guru saya di sekolah, bisa guru di luar sekolah. Anak saya adalah guru, murid saya adalah guru, mahasiswa adalah guru. Teman dan sahabat juga guru. Saudara adalah guru. Ayah, ibu dan keluarga adalah guru saya. Anak-anak dan lansia pun guru saya. Pengalaman adalah guru. Ilmu pengetahuan adalah guru. Pelajaran juga guru. Tulisan dan buku-buku yang saya baca adalah guru. Penulisnya juga guru. Alam semesta pun guru. Hanya saja bahasa dan cara bicaranya, sedikit berbeda dengan saya. Dan Tuhan, Yang Maha Kasih, Allah Yang Maha Penyayang adalah juga "Guru" saya...".

Manakala saya memahami bahwa mereka adalah guru saya, manakala saya memahami bahwa para guru pasti memberikan pelajaran, maka saya akan bisa belajar tahu bagaimana cara menghormati mereka. 

Jika saya terpahamkan bahwa anak-anak dan murid-murid adalah guru yang sedang mengajari saya "sesuatu yang penting dalam kehidupan", maka saya akan mampu memperlakukan mereka dengan semestinya. Saya menjadi bisa belajar cara-cara menghormati dan menghargai mereka. 

Bersikap "hormat" terhadap para guru yang ini, memang terdengar seperti tidak masuk akal. Sebab untuk duduk bersimpu di kaki mereka, saya tampak seperti harus merendahkan "derajad" saya.  
Salam bahagia dan terus berkarya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar