Jumat, 09 Agustus 2013

Spirit, Spiritual dan Spiritualis



Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,----
“Yang tidak mengenali diri sejatinya, ia tidak pernah merdeka” 
(Aridha Prassetya)
Dear pembelajar,
Suatu ketika usai rapat, seorang kawan bertanya tentang apa yang saya kerjakan diluar kegiatan kampus. Saya bilang padanya bahwa saya sedang menulis. Ia lantas ingin mengetahui lebih jauh tentang apa yang saya tulis. Dari sanalah kemudian kami bicara tentang spiritualitas.
 
“Saya berupaya menulis kaitan-kaitan spiritualitas dengan topik-topik yang saya tulis. Artinya, bila saya sedang menulis topik kepemimpinan, maka itu haruslah kepemimpinan spiritual. Jika saya menulis tentang marketing, maka itu haruslah tentang spiritual marketing…”, kata saya.

Ia tampak makin tertarik, namun sayangnya waktu sudah terlalu larut sehingga kami harus pulang meninggalkan kampus. Saya ingat betul bahwa perbincangan kami baru sampai pada tahap mendefinisikan kata spirit. Saya ingat betul, pertanyaan terakhirnya, yaitu “Apa sih sebetulnya makna spirit?”

Kamus English-Indonesia mendefinisikan spirit sebagai roh, jiwa, dan semangat. Apa yang Anda pikirkan saat Anda membaca definisi yang saya sebut barusan? Bahwa spirit adalah roh, jiwa, semangat dan bahkan, ada pula yang memaknai roh sebagai arwah, apa yang terbersit dalam benak Anda? Lebih jauh lagi saya pernah berbincang dengan seorang kawan, bahwa dalam agamanya, kata “roh” pun mempunyai makna berbeda ketika ditulis dengan diawali R dan r. Tapi bukan ini yang ingin saya bicarakan.

Kali ini, saya hanya ingin bicara tentang spiritualitas. Mengapa? Sebab saya yakin, Anda pernah mendengar frasa “kecerdasan spiritual” dan itu pasti ingin Anda pelajari lebih jauh, kan? Bagaimana membangun kecerdasan spiritual? Saya akan mengajak Anda mempelajari tentang spiritualitas dari sisi yang sangat mungkin belum pernah Anda dapatkan dari sumber lain.

Apapun agama yang kita anut, ketika kita merasa terinspirasi untuk hidup lebih spiritual, kita pasti lebih meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Kita akan berupaya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita mencari bimbingan yang lebih tinggi dan paling tinggi. 

Nah, bimbingan paling tinggi itu ada pada tangan sesuatu yang tadi kita bicarakan sebagai spirit. Pencarian bimbingan ini pastilah bukan perjalanan ke luar, tetapi adalah sebuah perjalanan ke dalam (diri). Inilah perjalanan spiritual. Perjalanan yang berupaya mendekatkan diri kepada sesuatu yang (bersifat) spirit.

Kita mencari bimbingan yang paling tinggi kepada sesuatu yang berwujud spirit (baca kembali definisi spirit!). Itulah sebabnya kehidupan yang sangat dekat dengan Tuhan, dinamai dengan kehidupan spiritual. Coba kita renungkan seperti apa dan bagaimana sejatinya, bentuk/wujud dari Tuhan. Sambil mengingat definisi kata spirit yang saya paparkan tadi .

Kehidupan spiritual adalah kehidupan yang senantiasa mempraktikkan keyakinan, BUKAN sekedar berkata-kata tentang keyakinan. Spiritualitas memang bisa saja berangkat dari agama/keyakinan, namun yang mempunyai agama belum tentu memilih hidup spiritual (hidup berdekatan dengan Tuhan).

Sering kita kesulitan membedakan antara agama dan spiritualitas. Seseorang bisa saja pergi ke rumah ibadah secara teratur, pada hari tertentu, namun dalam kehidupan sehari-harinya, tidak menunjukkan aspek-aspek spiritual. 

Ada sebagian kita yang sangat kuat terikat dengan dogma-dogma religius. Saking kuatnya keterikatan, sampai-sampai dogma ini menghalangi pemikiran rasional, cenderung menyukai mengambil sudut pandang kaku, selalu memilih pendekatan hitam putih dalam hidup. 

Tanpa disadari bahwa beragama/berkepercayaan secara kaku tanpa merenungkan aspek-aspek spiritualitas dapat memunculkan sikap bertolakbelakang dengan cara-cara Tuhan mencintai ummat. Bertolak belakang dengan bagaimana Tuhan mempraktikkan cinta dan kecintaanNya kepada seluruh ummatNya.

Spiritual “melampaui” kepercayaan yang dipegang, melampaui agama yang dipeluk. Spiritualitas adalah tingkah laku. Spiritualitas adalah tindakan. Kecerdasan spiritualitaslah yang membantu mengubah atau mewujudkan (ajaran) kepercayaan/agama kedalam tindakan/perilaku/perlakuan kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Bukti spiritualitas ditunjukkan melalui cara-cara kita memperlakukan sesama makhluk, baik itu manusia, binatang maupun tetumbuhan dan alam semesta. Jadi spiritualitas bukan dikatakan tetapi dibuktikan.

Berpura-pura mencintai Tuhan dan mengasihi sesama ketika berada di rumah ibadah, namun begitu kaki melangkah keluar meninggalkan rumah ibadah, justru berbalik sikap, mengutuk kelompok lain yang tidak sama warna dengan dirinya, jelas tidak menunjukkan spiritualitas.

Berpura-pura menangis kepada Tuhan, memohon ampun dalam rumah ibadah, pada hari tertentu, namun pada lima atau enam hari berikutnya berbuat keburukan-keburukan, berbuat kekasaran-kekasaran, melakukan kejahatan-kejahatan serta berbuat kebengisan-kebengisan lagi untuk dimintakan ampun kemudian pada minggu berikutnya, ketika saat tiba hari harus datang kembali ke rumah ibadah, jelas tidak menunjukkan spiritualitas.

Spiritualitas adalah praktik atau tindakan. Bicara spiritualitas adalah bicara tentang bagaimana mempraktikkan ajaran kepercayaan/agama kedalam kehidupan sehari-hari.

Spiritualis bukan hanya gemar memperhatikan dan mempelajari bagaimana cara Tuhan mencintai dan mengasihi, namun juga berupaya “meniru” cara-cara Tuhan mengasihi dan mencintai ummatNya.

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih kepada Allah Yang Maha Kuasa. Terima kasih kepada para guru yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!


1 komentar:

  1. selamat malam, ibu saya sedang menyusun skripsi mengenai kepemimpinan spiritual, apa saja indikator yang digunakan untuk penelitian kepemimpinan spiritual?
    terima kasih sebelumnya

    BalasHapus