Selasa, 14 Mei 2013

Hard-selling dan Soft-selling

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,---
"Siapa saja yang berhenti memberikan judul baik-buruk, benar-salah pada setiap pengalaman, ia membiarkan pikiran istirahat dalam tenang dan diam" (Gede Prama)
Dear pembelajar,
Beberapa waktu lalu di kelas, saya mendapat pertanyaan tentang apakah yang dimaksud dengan hard-selling dan apa pula yang dimaksud dengan soft-selling. Untuk Arys dan semua pembelajar yang saya cintai, inilah yang janjikan waktu itu bahwa suatu saat akan menuliskannya di papanputih.
Hardselling adalah strategi pemasaran yang berupa penyampaian pesan yang sifatnya rasional/informasional. Pesan ini bertujuan untuk menyentuh pikiran dan menciptakan respons yg didasarkan pada hal yang sifatnya logis. Tujuan dari hard selling adalah menciptakan penjualan.  Dalam praktik, hard selling ini direpresentasikan dalam bentuk  penjualan langsung (direct selling) dan penjualan promosi ( sales promotion).
Contoh:
  1. Menjelang lebaran dan perayaan Natal, hampir seluruh toko memberikan diskon besar-besaran (sales promotion), tujuan diskon adalah menciptakan penjualan.
  2. Apabila kita jalan-jalan di Mall, sering di sepanjang koridor, kita dihadang oleh SPG produk parfum, alat-alat kesehatan, alat olah raga, bahkan SPG restoran untuk digiring menuju restorannya. Ini adalah praktik hard-selling, yang bertujuan menciptakan penjualan.
Soft-selling adalah strategi pemasaran yang berupa penyampaian pesan yang sifatnya emosional. Strategi ini berupaya menciptakan respon yang didasarkan pada perilaku, mood, impian, perasaan dan daya tarik emosional. Soft-selling tidak langsung berdampak pada penjualan. Dalam praktik, hard selling ini direpresentasikan dalam bentuk  Misal advertising/advertorial.
Contoh:
  1. Seluruh iklan TV, tujuannya adalah mengenalkan dan mengingatkan konsumen akan produk atau merek tertentu. Iklan TV memang tidak langsung berdampak penjualan, namun pesan yang disampaikan diharapkan dapat menyentuh emosional pemirsa yang pada gilirannya akan berdampak pada pembelian (penjualan di sisi perusahaan).
  2. Advertorial sering kita jumpai di beberapa media TV, seperti tayangan tentang kegiatan dan keberhasilan Usaha Kecil Menengah yang buntut-buntutnya menyampaikan bahwa UKM yang bersangkutan mendapat permodalan dari Bank tertentu.
  3. Juga cerita artis yang menderita sembelit atau kegemukan atau masuk angin, namun buntut-buntutnya acting minum obat-obatan dengan merek tertentu.  
(Inspired by: Dyah Chairunnisa; 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar