Jumat, 05 Oktober 2012

Critical Choices: Berdamai dengan Potensi Diri

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,---
“Seorang musisi harus menggubah musik, seorang pelukis harus melukis, seorang penyair harus menulis, jika ia ingin merasa damai dengan dirinya” (Abraham Maslow)

Dear pembelajar,
Semalam saya bertanya pada kelas tentang apa yang mereka rasakan. Saya bertanya apakah mereka pernah merasa bosan, cape, lelah dan tersiksa dengan hidup dan pekerjaan mereka. Serentak kelas menjawab, “pernaaahh....!” Saya berharap kondisi yang mereka alami ini tidak terlalu sering, hingga menjadi hal menyiksa yang sifatnya menahun.

Setiap orang pasti ingin sukses. Seperti sebelumnya sempat saya tulis di sini, sukses adalah memperoleh kebebasan melakukan apa yang kita suka. Bila kita berkutat pada pekerjaan yang kita benci, memerlukan energi yang cukup besar untuk bangun dan berangkat bekerja, ini artinya bahwa hidup sedang mencoba mengatakan sesuatu pada kita. Bila kita merasa amat lelah untuk menyelesaikan tugas sederhana, ini bukan karena hal itu sulit. Namun kemungkinan besar karena pekerjaan itu tidak menarik. Ini sesungguhnya  adalah rambu-rambu yang ingin dikatakan oleh kehidupan. Ada kemungkinan bahwa kita sedang berada pada tempat yang salah.

Sesuatu yang bertentangan dengan potensi Anda, pasti akan menyiksa. Sesuatu yang tidak senada dengan jiwa Anda pasti akan melelahkan.  “Seorang musisi harus menggubah musik, seorang pelukis harus melukis, seorang penyair harus menulis, jika ia ingin merasa damai dengan dirinya”, kata Abraham Maslow. Jadi?

Jadi, jika Anda ingin hidup damai, temukanlah potensi diri Anda. Seseorang bisa menemukan potensi dirinya dengan menemukannya sendiri atau bisa dengan bantuan orang lain. Ada sebuah kisah menarik yang ingin saya bagi kepada Anda, relevan dengan hal ini.

Ini kisah seorang pria yang memiliki sebidang tanah. 

Karena dahsyatnya kemarau panjang, pria ini terpaksa menjual tanahnya sedikit demi sedikit. Suatu ketika, seorang perwakilan perusahaan minyak datang kepadanya, meminta ijin menggali guna mencari minyak. Pria tersebut tidak rugi apapun, malah mendapat imbalan. Ia setuju. 

Ketika mereka menggali, keluarlah semburan minyak. Sumur minyak itu mengalir berhari-hari sebelum akhirnya bisa dihentikan. Lebih dari 100 ribu barel per hari mengalir keluar. Pada tahun pertama produksi minyaknya mencapai 15 juta barel. Orang berkata bahwa pria itu adalah milliuner instant. Namun sebenarnya tidak demikian. Sesungguhnya ia menjadi milliuner sejak dulu. Ia tinggal dalam kemiskinan hanya karena ia tidak mengetahuinya. Harta yang ia miliki tidak berharga sampai saat ia menemukannya/dibantu menemukannya.

Jadi? Pertama, harus ada orang yang menggali dan menemukan harta yang ada di sana. Ke dua, “Harta” (baca: potensi diri) tersebut harus dibawa ke permukaan. Ke tiga, mereka harus dibawa ke pasar, agar dapat bermanfaat dan digunakan oleh manusia lain.

Nah! Periksalah keberadaan potensi Anda, jika Anda merasa sangat lelah dengan pekerjaan Anda. Bukan karena itu sulit, namun mungkin seharusnya Anda tidak berada di sana.

Salam bahagia dan terus berkarya!
Sumber: Critical Choices (Daniel R Castro)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar