Selasa, 09 Oktober 2012

Aku Jatuh Cinta pada Mahasiswaku

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,---
"Perahu yang berlabuh itu aman. Namun bukan untuk itu perahu dibuat" (Anonim)

Dear pembelajar,
Aku mencintai mahasiswaku, aku menghargai mereka dan aku selalu bangga kepada mereka semua. Menatap mereka duduk belajar berhadap-hadapan denganku, aku seperti melihat diriku sendiri. Aku melihat situasi ketika aku harus berjuang menyelesaikan kuliah sementara aku harus pula bekerja.

Senyum mereka adalah obat bagi kelelahanku, bicara mereka lucu dan menginspirasi, binar cahaya mata mereka yang haus ilmu mendorong aku agar terus menerus belajar mencarikan cara-cara yang mudah bagi pembelajaran mereka. Aku bahagia dikelilingi mereka yang mencintaiku, merindukan pertemuan-pertemuan denganku dan selalu ceria memanggilku “ibu”. Mahasiswaku, Matahariku.

Selalu menginspirasi dan memberi energi. Aku sering mengatakan kepada mahasiswaku bahwa mereka adalah guru hebatku.

Jangankan rajinnya, bolosnya pun membuatku berfikir agar aku “memeriksa kembali” cara-cara belajarku bersama mereka. Aku sangat bersyukur “memiliki” mereka. Mereka laksana pupuk organic bagi tumbuh kembang kualitas diriku.

Jika mereka membolos, aku menjadi instropeksi diriku. Aku menjadi menanyai diriku, apakah mereka tidak menyukai pertemuannya denganku? Apakah aku ini sosok yang membosankan? Apakah cara penyampaian materiku tidak disuka, atau apa lagi…?

Kesulitan mereka menyediakan waktu untuk membaca buku-buku teks, membuatku berfikir keras bagaimana menjembatani senjang itu. Aku pun akhirnya tergerak membuat dan menulis buku ajar bagi mereka. Agar mereka lebih mudah dalam pembelajaran.

Keterbatasanku yang kadang membuat aku kesulitan hadir di kelas, sempat melukai mereka, namun aku segera mengabarkan kepada mereka bahwa aku sudah membuat piranti pengganti diriku. Aku ada secara maya bagi mereka, namun kehadiranku dapat mereka rasakan seperti nyata. Mereka bisa menjumpaiku kapan saja, sesuka hati mereka, baik di email, YM, FB, maupun di kelas on line blog pribadiku. Pembelajaran seperti ini membuat mereka “berbinar”.

Di kelas, aku suka “ngerjain” mahasiswaku. Jika mereka memilih duduk di belakang, aku selalu menanyakan apakah aku yang sudah mandi ini, masih “bau” di penciuman mereka. Bila aku sudah bertanya seperti itu, mereka pun malu dan bergegas berpindah pada deretan depan. Ini membuat kami tertawa dan suasana kelas menjadi mencair. Saat itu kami bisa memulai kelas dengan bahagia.

Mahasiswaku yang bekerja sambil kuliah, banyak dipandang sebelah mata oleh “mereka”. Namun siapapun yang berani mengecilkan mereka, aku punya cara untuk membela mereka. Barangkali, aku adalah satu-satunya dosen “nakal” di kampusku, atau di negeri ini, yang enggan mentaati kurikulum yang dianut oleh mereka diluar sana.

Aku menghadapi kenyataan yang tidak biasa. Mahasiswaku berbeda dengan mahasiswa mereka, sehingga aku tak merasa perlu mengikuti cara-cara mereka, yang kondisi mahasiswanya berbeda dengan kondisi mahasiswaku. Sulit bagi aku untuk memaksa mencekoki mereka dengan hal-hal yang menyulitkan mereka, sementara mereka hadir dengan sisa energi dan waktu, yang telah digunakan untuk bekerja dan melakukan tugas-tugas luhurnya untuk keluarga.

Hal utama yang ingin kulakukan hanyalah menemukan keterkaitan antara JUDUL keilmuan (Mata Kuliah) yang harus aku transfer, dengan kehidupan yang sesungguhnya dijalani/dihadapi mereka. Agar ilmu itu menjadi berguna bagi persoalan dan kehidupan (pekerjaan) mereka. Menemukan keterkaitan ini merupakan “seni” yang menarik, sebab aku harus memilah dan memilih mana yang cocok untuk mereka konsumsi dan melayani apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Seni lain yang kupelajari hingga hari ini adalah bagaimana caranya membuat mereka mau belajar, senang belajar bersama aku, tenang dan nyaman menikmati pembelajaran bersamaku. Sehingga mereka menjadi gemar mengembangkan diri mereka, tertarik untuk melakukan hal-hal bermanfaat selepas kuliah, dengan atau tanpa aku ada di dekat mereka.
Mahasiswaku, bukan “sisa” (PTN) seperti yang “mereka” katakan. Mahasiswaku semuanya pintar. 

Mereka sudah bekerja, dari tukang parkir, satpam, pelayan toko, karyawan rumah makan, pegawai koperasi, karyawan perbankan, hingga pengusaha kuliner dan ternak. Dari yang naik angkot hingga yang memiliki kendaraan pribadi. Tidak ada yang cacat di mataku.

Itu sudah cukup merupakan bukti bahwa mereka mampu bersaing dalam sejarah persaingan memperoleh dan menciptakan pekerjaan. Pasti mereka bukan orang-orang bodoh. Dalam penglihatanku, mereka semua adalah manajer keuangan yang handal. Tidak setiap kita mampu me_manaje dana yang terbatas sehandal mereka pada usia yang semuda itu. Mereka harus mengalokasikan dengan tepat mana-mana yang untuk kepentingan orang tua, diri sendiri, keluarga, dan SPP perkuliahan, tanpa mengkorup hak-hak orang lain.

Mereka pasti memiliki kelebihan, hanya saja mereka terlambat untuk datang belajar di kampus. Aku tidak paham mengapa mereka (mahasiswa yang pekerja) selalu dipandang rendah upayanya. Bagiku ini adalah sebuah tantangan yang menyenangkan. “Life is an adventure, bukan?”, Aku mencintai mahasiswaku.
Salam bahagia dan terus berkarya!
Sudah pula ditulis di sini.

1 komentar:

  1. Inspiratif,terima kasih telah berbagi Mbak Ridha...

    Tulisan yang menambah semangat dan memberi saya pencerahan kepada semangat saya.

    Salam semangat untuk adik mahasiswa,juga rekan yang bekerja sambil kuliah.

    salam hangat semua.

    BalasHapus