Jumat, 06 Juli 2012

Memanjat Tangga Kepemimpinan-3


Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,----
"Seorang pemimpin hebat, bukan karena kekuasaannya, tetapi karena kemampuannya memberikan kekuatan kepada orang lain" (John C. Maxwell)
Dear pembelajar
Sebelumnya, telah saya tulis bahwa ada 5 (lima) tangga yang harus dipanjat jika mau menjadi pemimpin sejati. Tangga pertama adalah KEDUDUKAN dan tangga ke dua adalah IJIN. Intinya begini. Jika ingin menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi, maka yang pertama kali diperlukan adalah kedudukan. Tanpa "SK" (Surat Keputusan) tentang kedudukan, seseorang tak akan punya kewenangan memimpin organisasi.

Tapi jangan mengira bahwa kepemimpinan berhenti pada tingkat kedudukan. Kedudukan baru merupakan tangga pertama. Tangga ke dua adalah ijin. Ijin dari siapa? Dari kolega dan teman kerja yang ada dalam lingkup kepemimpinan. Tanpa ijin dari mereka, Anda tidak bisa memimpin. Artinya apa? Harus ada pendekatan-pendekatan kemanusiaan agar rencana-rencana dapat terlaksana dengan baik. Pendekatan-pendekatan humanis akan mempermudah Anda untuk membuat dan melaksanakan fungsi-fungsi, baik fungsi manajemen maupun kepemimpinan.

Tiba saatnya kita mengetahui tangga ke tiga. Tangga ke tiga adalah PRODUKSI. Dalam tulisan sebelumnya, kita dilarang langsung menginjak tangga produksi dan melompati tangga ijin. Bak orang menikah, apa yang ada di kepala Anda, jika pasangan yang baru saja dinyatakan "sah menjadi pasangan suami istri", langsung saja “berproduksi” tanpa lebih dahulu “meminta ijin” (pasangannya)?

Nah, pada tahap ijin inilah terjadi hubungan baik. Pada tangga ijin inilah ada kesediaan untuk bekerjasama dan saling mendukung. Agar kegiatan berproduksi berjalan dengan baik dan tujuan berproduksi bisa dicapai. Berproduksi adalah berproduksi, yaitu menghasilkan sesuatu.

Dalam bukunya, Maxwell mencontohkan sebuah kasus menarik. Sebuah perusahaan besar, baru saja mempekerjakan seorang salesman (yang dicap sebagai) bodoh. Namanya, Gooch. Gooch tidak pintar menulis dengan ejaan yang benar. Ia menulis dengan ejaan yang berantakan.

Pada kali pertama membuat laporan penjualan, kepada Manajer Penjualan, ia menulis,”Saya telah bertemu dengan orang-orang ini, yang tidak pernah mendapat apapun dari kita dan saya menjual beberapa produk kepada mereka dan sekarang saya akan pergi ke Chicago”.

Apakah itu yang namanya laporan penjualan? Bagaimana bila sebagai Manajer Penjualan? Apakah Anda menerima laporan penjualan macam itu?

Belum sempat sang Manajer Penjualan memberi ijin dan melakukan koreksi atas laporan penjualan dari salesman “bodoh” tersebut, laporan penjualan berikutnya, sudah ada di mejanya. Laporan penjualan itu berbunyi, “saya sudah datang ke sini (Chicago) dan menjual setengah juta”.

Anda mungkin berkata, “bukan itu yang namanya laporan penjualan! Betapa bodoh dia!” Salesman itu (memang tampak) bodoh. Tapi apa yang terjadi ketika sang Manajer Penjualan melaporkan “kebodohan” itu kepada Presiden Direktur?

Keesokan harinya, sang Presdir memasang pengumunan disertai “dua memo tulisan asli dari Gooch”. Sang Presdir meniru gaya menulis (yang berantakan) dari salesman tersebut, lalu menuliskan sesuatu pada pengumumannya:
“kita banyak membuang-buang waktu  untuk mengeja dengan benar dan bukannya berusaha menjual. Mari kita lihat penjualan itu. (maksudnya penjualan dari Gooch). Saya ingin setiap orang membaca surat dari Gooch yang berkeliling melakukan pekerjaan hebat bagi kita semua dan kalian seharusnya ke luar dan melakukan seperti apa yang dilakukannya.”

Manajer penjualan manapun pasti akan memilih penjual yang bisa menjual dan menulis dengan ejaan yang benar. Namun demikian, banyak orang yang dinilai “tidak qualified”, ternyata justru mampu memproduksi hasil yang hebat.

Nah, kita telah mengerti tangga kepemimpinan satu, dua dan tiga, yaitu KEDUDUKAN, IJIN, dan PRODUKSI. Pada kesempatan yang akan datang, saya akan berbagi kelanjutannya. Terima kasih sudah membaca!

***Inilah yang sebaiknya dilakukan ketika berada di tangga ke tiga, sebelum mendapat kemajuan ke tingkat berikutnya:
  • mulailah dan terima tanggung jawab untuk pertumbuhan,
  • kembangkan dan ikuti pernyataan tujuan
  • jadikan deskripsi kerja dan energi Anda bagian integral dari pernyataan tujuan
  • kembangkan rasa tanggung jawab untuk hasil, dimulai dari diri Anda sendiri,
  • ketahuilah dan lakukan hal-hal yang memberikan hasil besar,
  • komunikasikan strategi dan wawasan organisasi
  • jadilah sarana perubahan dan pahami pengaturan waktu,
  • ambillah keputusan sulit yang akan membuat perbedaan .

Salam bahagia dan terus berkarya!
Sumber: Mengembangkan Kepemimpian Di Dalam Diri (John C. Maxwell)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar