Rabu, 13 Juni 2012

"Kacau" Kampus Bila Dosennya Seperti Saya


Bacalah dengan nama Tuhanmu,----
"Kebijaksanaan bukan diwariskan atau diperoleh sejak lahir, tetapi harus dipelajari" (Anonim)
Dear pembelajar,
Damainya kampus bila mengerti bahwa hadirnya mahasiswa adalah juga untuk meningkatkan kualitas dosennya. Sehingga tidak memandang mahasiswa hanya sekedar obyek yang bisa diubah. Damainya kampus, bila hadirnya mahasiswa bisa lebih disikapi sebagai hadirnya guru-guru. Guru yang dapat membantu meningkatkan kualitas diri para dosennya. Semuanya akan berjalan dalam keselarasan yang saling mensupport. Saling belajar satu kepada lainnya.

Kualitas dosen, tak cukup hanya dinilai dari jumlah gelar yang disandang, jumlah penelitian yang dipublikasi, jumlah sertifikat pelatihan yang diikuti, namun lebih kepada kebergunaan dari alumni yang sudah dihasilkannya, dibimbingnya, kemanfaatan segala yang ditelitinya, ditulisnya, diomongkannya, diajarkannya. Keteladanan dan kesungguhan dalam pengabdiannya kepada profesi yang dipilihnya, juga adalah ukuran kualitas.

Ketika saya menulis artikel “Hidup Bukan Persaingan”, seperti biasa, ada yang tidak setuju terselip diantara yang setuju. Sebenarnya inti tulisan itu adalah, “tak perlu kita terlalu berpikir bahwa hidup harus bersaing dengan orang lain, sebab pesaing yang sesungguhnya adalah ego (bukan orang lain). Oleh karenanya, jika kita ingin hidup damai, maka kalahkan saja ego diri”.

Datanglah Alek yang suka bercanda. Ia berkomentar, “Sepertinya Alek akan merasa damai bila didekat aridha…”.

Sesaat kemudian ST hadir menimpali,
Dosenku dulu cuma satu yang Ibu. Jadi ia paling cantik dan selalu bikin mahasiswa semangat kuliah…Alek kuliah lagi yo.. sama Ibu Dosen Aridha..(?) Kalaupun kita jadi mahasiswa dudul yang penting damai ha ha ha ha…”

“Kuliah sama ibu Dosen Aridha, kalaupun kita menjadi mahasiswa dudul, yang penting damai, ha ha ha…”. Terdengar sangat manis.

Saya balas komentar sahabat ST,
“Mas ST, terima kasih sudah hadir. Tak ada mahasiswa dudul di mata saya. Semua mahasiswa mempunyai bakat-bakat baik yang bisa dikembangkan. Angka-angka hasil dalam kertas ulangan itu hanyalah angka, yang bisa saja saya permainkan apakah mau saya berikan semuanya, separoh atau tidak saya berikan sama sekali. Angka-angka itu tidak akan bermakna apa-apa, jika mereka (angka-angka itu) tidak mampu menciptakan kemuliaan hati (para mahasiswa). Salam bahagia penuh karya!”

Saya tak mengerti mengapa harus ada istilah “mahasiswa dudul”. Dudul biasanya didefinisikan sebagai “selalu memperoleh nilai ujian dibawah standar, tidak mampu berargumen mempertahankan pendapatnya dan tidak mampu menggunakan logikanya dengan baik. (berdasarkan penilaian sang dosen). Padahal kehidupan kampus akan kacau bila seluruh mahasiswa terlalu pandai berargumen. Harus ada peran dan pemeran-pemeran DIAM dalam ruang-ruang pembelajaran.

Bukan hanya mahasiswa, tapi dosen pun seyogyanya sesekali bisa berdiam, agar ia mengerti apa yang harus dilakukan terhadap mahasiswanya. Jika bersedia sedikit saja merenung, sesungguhnya ini bukan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa semata, namun penting untuk meningkatkan kualitas profesionalismenya sendiri.

Statemen “mahasiswa dudul” itu mengusik saya. Makin jelas adanya tanda bahwa kedamaian dan keindahan pembelajaran, tidak menarik untuk dipertimbangkan. Dan saya adalah pecinta pembelajaran yang damai dan indah. Seperti apakah pembelajaran yang damai dan indah itu?

Dangkalnya pemahaman kawula kampus terhadap situasi pembelajaran yang damai dan indah menyebabkan kesalahpahaman. Kata “damai dan indah” dalam pembelajaran dianggap sebagai sesuatu yang mengada-ada dan bahkan omong kosong belaka.

Namun bagi pencari kedamaian dan keindahan dalam pembelajaran, kedamaian kampus dimaknai sebagai situasi yang penuh keselarasan dalam pembelajaran. Jika mahasiswa diharuskan bersikap hormat kepada dosen, maka begitu pula sebaliknya. Dosen seyogyanya mampu bersikap hormat terhadap mahasiswa. Kedua belah pihak (guru-murid), harus sama-sama dapat memetik manfaat. Tidak ada upaya pemerkosaan. Pembelajaran dimulai dari kebutuhan mahasiswa, bukan dari dosen.

Pecinta kedamaian dan keindahan dalam pembelajaran, ia akan terus mencari dan berupaya menemukan sisi-sisi indah setiap keadaan di dalam kampus/gedung sekolah.

Pembelajaran yang damai dan indah adalah pembelajaran yang penuh makna. Keadaan pembelajaran yang damai dan indah adalah keadaan yang bisa memberikan pelajaran-pelajaran hidup dan kehidupan kepada SELURUH INSAN kampus.

Orientasi para pencari kedamaian dalam pembelajaran, BUKAN MENGUBAH ORANG LAIN, namun lebih kepada BELAJAR MENGERTI orang lain dan bila perlu, mengubah dirinya sendiri menjadi lebih baik. Bersedia berguru kepada segala maujud guru yang ada di depan matanya. Segala guru tersebut, mungkin saja oleh Tuhan, bisa dirupakan dalam berbagai wajah, termasuk mahasiswa.

Banyak lembaga pendidikan mengira bahwa mereka bisa mengubah seluruh murid dan mahasiswa. Lalu diciptakanlah kurikulum yang seragam melalui kegiatan konsorsium antar lembaga pendidikan, mengajarkannya dengan cara yang sama, menguji dengan cara yang sama dan menilai dengan cara yang seragam. Jika perlu, dibakukan.

Banyak lembaga mengira bahwa seluruh murid/mahasiswa yang jelas terlahir dari rahim yang berbeda-beda itu, bakal dapat diubah menjadi seperti yang mereka mau melalui satu andalan mantera (baca: kurikulum, cara pengajaran, cara pengujian dan cara penilaian) yang sama. Sim sala bim.

Sementara “mantera” itu sengaja dibuat sama/seragam/dibakukan, hanya untuk memenuhi satu kepentingan. Yaitu, agar kerja guru/dosen/lembaga pendidikan, menjadi lebih mudah dan dipermudah.

Inilah yang menurut saya factor utama dari kegagalan pendidikan. Inilah sebabnya banyak guru dan dosen menjadi marah, kecewa dan bahkan putus asa ketika apa yang diharapkannya tidak menjadi kenyataan.

Ketika saya menjadi duplikat guru saya yang dulu, mengikuti cara-cara mereka seperti saat mereka mengajar saya, jujur saya kelelahan. Sebab apa yang saya hadapi sangat berbeda dengan apa yang beliau-beliau hadapi.

Sungguh melelahkan beranggapan bahwa dengan segebog kurikulum yang seragam, saya pasti bakal bisa mengubah seluruh mahasiswa seperti yang saya mau. 

Damainya kampus bila mengerti bahwa hadirnya mahasiswa adalah juga untuk meningkatkan kualitas dosennya. Sehingga tidak memandang mahasiswa hanya sekedar obyek yang bisa diubah. Damainya kampus, bila hadirnya mahasiswa bisa lebih disikapi sebagai hadirnya guru-guru. Guru yang dapat membantu meningkatkan kualitas diri para dosennya. Semuanya akan berjalan dalam keselarasan yang saling mensupport. Saling belajar satu kepada lainnya.

Hmm….Mungkin pendidikan di Indonesia akan tampak kacau bila semua guru/dosen modelnya seperti saya. Kan?

Salam bahagia penuh karya, 
CATATAN :
Kini BUKU Melawan Hantu Bernama Skrispsi, dapat DIPEROLEH LANGSUNG dengan HANYA Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
Harga sudah termasuk:
  1. ONGKOS KIRIM dari Kantor Surabaya ke SELURUH WILAYAH Indonesia, 
  2. Konnsultasi Gratis Kegalauan Soal Skripsi yang meliputi judul/Topik, penentuan masalah penelitian, variabel penelitian, dan metoda/pendekatan yang digunakan dalam analisis (BUKAN jasa pengolahan data),
  3. Konsultasi dilakukan melalui Chatting  FB http://www.facebook.com/groups/skripsicepat/
Kontak via SMS: 0878 5320 1968

2 komentar:

  1. Bagus, ""Damai" Kampus Bila Dosennya Seperti Dikau" he..he..he

    BalasHapus
  2. Termasuk mencari sisi-sisi indah dalam kehidupan ini ya mbak,

    wah inspiratif nih,!

    Nyambung ke judul : saya rasa enggak akan kacau,karena gaya bu dosen seperti mbak,setidaknya saya menilai dari tulisan ini..

    _bahwa : gaya mbak bagian dari inovasi pendekatan secara manusiawi yang mungkin sudah banyak dilupakan kebanyakan.

    Setuju dengan manusiawinya,bukan saja antara mahasiswa dan dosen tetapi dalam hubungan boss dan pegawainya.

    makasih mbak.salam

    BalasHapus