Minggu, 22 April 2012

Memanjat Tangga Kepemimpinan-2

Bacalah dengan nama Tuhanmu,----
"Perempuan yang gemar berlatih mengatasi persoalan, ia menjadi jauh lebih cantik"
(Aridha Prassetya)
Dear pembelajar,---------

Tangga ke dua adalah IZIN. Sebelumnya kita belajar tentang tangga pertama, yaitu KEDUDUKAN. Menjadi pemimpin, dimulai dari mendapat kedudukan. Mendapat kedudukan, adalah tahap satu (dari lima tangga) kepemimpinan. Untuk keberhasilan menjadi pemimpin, dinasehatkan oleh Maxwell, agar kita menapaki lima tangga kepemimpinan. 


Kali ini kita sampai pada tingkat dua dalam tangga kepemimpinan. Pemimpin (tingkat) kedudukan, ia tak kan jadi pemimpin sejati, bila tak mau memanjat tangga kepemimpinan. Type "pemimpin kedudukan", tidak belajar memanjat tangga kepemimpinannya untuk menjadi pemimpin sejati. Ia hanya duduk dan berdiri pada tangga pertama, yaitu pada tangga kedudukan.


Ciri dari “pemimpin kedudukan” antara lain:

  1. ia merasa aman bukan karena bakat, namun karena mendapat SK (Surat Keputusan pengangkatan/legalisasi jabatan,
  2. bawahannya cenderung mengikutinya, sebatas batas-batas kewenangan pemimpin yang bersangkutan. Bawahan hanya akan mengerjakan apa yang harus mereka kerjakan, kalau mereka diharuskan mengerjakan,
  3. “pemimpin kedudukan”, ia mengalami banyak kesulitan bekerja dengan sukarelawan, pekerja kerah putih, dan orang muda.

Kata Fred Smith, “Kepemimpinan adalah membuat orang lain bekerja untuk Anda ketika mereka tidak diwajibkan”. Ini hanya akan terjadi saat Anda naik di tingkat dua. Kepemimpinan dimulai dari hati, bukan kepala.

Kepemimpinan tumbuh subur dalam lingkungan yang mementingkan “hubungan yang bermakna/berarti”, bukan banyaknya peraturan.


Pemimpin pada tingkat kedudukan, memimpin dengan intimidasi. Pemimpin yang berada pada tingkat “Ijin”, memimpin dengan saling berhubungan. Waktu, energi dan focus, ditempatkan pada kebutuhan dan keinginan individu. Yang tak bisa membangun hubungan yang kokoh dan tahan lama, ia tak bisa mempertahankan kepemimpinan dalam waktu yang lama. Anda bisa mencintai orang lain tanpa tanpa memimpin, namun Anda tak bisa memimpin, tanpa mencintai.


Perhatian!!!

Jangan coba-coba melompati satu tingkat. Tingkat paling sering dilompati adalah tingkat dua (Ijin). Tingkat tiga (dalam tulisan berikutnya) adalah tingkat “produksi”. Bayangkan saja pasangan pengantin! Apa yang terjadi saat begitu mereka menikah, langsung produksi. (melompati tingkat Ijin).

***Inilah yang sebaiknya dilakukan ketika berada di tangga ke dua, sebelum mendapat kemajuan ke tingkat berikutnya:
  • milikilah cinta yang sesungguhnya untuk orang lain,
  • buatlah mereka yang bekerja dengan Anda menjadi sukses,
  • lihatlah melalui mata orang lain,
  • cintailah orang melebihi prosedur,
  • lakukan dengan cara "menang-menang", atau jangan melakukan itu,
  • masukkan orang lain dalam "perjalanan" Anda,
  • berurusanlah secara bijaksana dengan orang lain


Salam bahagia penuh karya!

Sumber: Mengembangkan Kepemimpian Di Dalam Diri (John C. Maxwell)
Note:
Pekerja kerah putih adalah istilah yang ditujukan kepada pekerja terdidik atau profesional rutin digaji yang bekerja di perkantoran semi-profesional, di bagian administrasi, dan di bagian koordinasi penjualan. Istilah ini adalah kebalikan bagi pekerja kerah biru, yang kegiatannya didominasi oleh kerja manual. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pekerja_kerah_putih)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar