Kamis, 15 Maret 2012

Apa Sasaran Tertinggi Anda?


Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______
"Rumuskanlah sendiri masalahmu. Jangan menyuruh orang lain merumuskan masalahmu.  
Mereka hanya bisa membantu penyelesaiannya" (Aridha Prassetya)

Dear pembelajar,
Banyak perusahaan menghabiskan waktu dan dana yang cukup besar hanya untuk merumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran. Secara teori saya pun pernah menulis di sini tentang apa definisi visi, misi, tujuan dan sasaran. Di Jalan Sukses, saya hanya ingin bicara hal-hal praktis namun mendalam.

Kini Anda boleh melupakan kerancuan definisi-definisi tersebut, jika memang tidak ingin terganggu dengan ragam pendapat para teoritikus. Saya mengajak Anda meringkas semua itu menjadi satu frase saja. Yaitu, “sasaran tertinggi”. Sebagaimana “guru” saya ajarkan dalam The Highest Goal. Ia Michael Ray, inspirer saya dalam menulis ini.

Nah, saya mulai dengan bertanya. Apakah Anda mempunyai sasaran hidup? Apa sasaran tertinggi Anda? Sebagian Anda  mungkin menjawab ingin kaya, hidup mewah, mempunyai perusahaan dll. Sebagian lainnya, sangat berbaik hati ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan semua orang. Tahukah Anda bahwa itu bukanlah sasaran tertinggi?

Kita terlanjur diajarkan untuk memahami sasaran tertinggi dari sisi “kontribusi potensial” kita, BUKAN dari sisi “kekuatan” yang membantu kita untuk memberikan kontribusi itu.

Itulah sebabnya bahwa yang dimaksud dengan sasaran tertinggi Anda sebenarnya, adalah membangun kekuatan dalam diri Anda agar Anda memliliki potensi untuk memberi kontribusi. Bangunlah kekuatan diri Anda, dengarkan hati nurani Anda, gunakan sumber daya batin Anda sendiri dan tempuhlah jalan hidup Anda sendiri.

Pikirkan quote dari seorang Carl Jung ini:
“Visi Anda akan menjadi jelas hanya jika Anda melihat ke dalam hati ANda. Siapa yang melihat keluar, ia bermimpi. Siapa yang melihat ke dalam, ia terjaga.”

Suara hati/sumber daya batin itu sangat lembut. Saking lembutnya, kebanyakan dari kita sulit untuk mendengarkan.

Ada kendala-kendala yang menghalangi kita untuk berkompromi dengan sumber daya batin. Ada penghalang bagi kita untuk mendengarkan kelembutan suara hati kita.

Pertama, perjalanan kita menuju hati sering dihalangi oleh kebiasaan kita yang gemar meng_sub optimalkan sesuatu. Apa maksud meng_suboptimalkan? Begini. 
Coba Anda ingat-ingat, pernahkah Anda mempunyai sasaran/cita-cita yang tinggi, kemudian Anda cepat-cepat mundur, menggagalkan, mengurungkan dan kemudian mengubah sasaran optimal Anda menjadi sasaran yang lebih kecil (lebih rendah), hanya karena “masyarakat” tidak menganggap  itu sebagai bentuk “kesuksesan”? Itulah yang dinamakan dengan godaan meng_suboptimalkan.

Ke dua, perjalanan kita menuju sasaran tertinggi, sering dihalangi oleh cengkeraman sosialisasi dan perbandingan. Media, sekolah, orang tua, teman-teman dan masyarakat, semuanya menyuruh kita mengejar kehidupan sukses yang akan dikagumi orang lain. Kita senantiasa membandingkan diri dengan orang lain, hingga kehilangan kendali atas kehidupan kita. Kita tak lagi hidup menurut hakikat kita. Kita hidup menurut gagasan orang lain tentang bagaimana seharusnya hidup dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Sasaran tertinggi adalah bagian dari pencarian manusia. Tradisi Timur Hindu menyebut sebagai “dharma”, Islam menyebut sebagai “amal ikhlas” dan Kristian menyebutnya sebagai “pelayanan”. Dan perjalanan ke sana, harus dimulai dari melakukan apa yang kita sukai dan apa yang berarti bagi kita.

Dharma, amal dan pelayanan, sungguh tidak berarti (berjalan tanpa makna), jika tidak ada “kesenangan” di dalamnya. Pelayanan yang dilakukan tanpa suka cita, tidak membantu baik pelayan, maupun yang dilayani.

Menuju sasaran tertinggi versi The Highest Goal, dapat menjadi renungan Anda. Inilah dua pilihan jalan hidup yang perlu Anda renungkan. Pilihlah salah satunya!
  1. Melakukan apa yang tidak saya sukai tetapi harus, ATAU, melakukan apa yang saya sukai dan saya ketahui “bermakna”.
  2. Mencari pengalaman dalam melakukannya, ATAU, mencari pengalaman dalam melakukan yang saya sukai,
  3. Menjadi hebat dalam melakukan apa yang tidak saya sukai, ATAU, menjadi ektra mahir dalam melakukan yang saya sukai,
  4. Memperoleh kesempatan untuk berbuat banyak, ATAU, memperoleh kesempatan lebih banyak untuk melakukan apa yang saya sukai,
  5. Menjalani kehidupan hampa makna, ATAU, menjalani kehidupan yang penuh tujuan dan makna.
Nah, selamat memilih!
Salam bahagia dan terus berkarya!  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar