Rabu, 22 Februari 2012

Merumuskan Masalah Penelitian (1)


Bacalah dengan nama Tuhanmu,_____
"Bukannya gunung yang kita taklukkan, melainkan diri kita sendiri" (Edmund Hillary)

Dear pembelajar,
Kerangka tulisan ilmiah, judul, abstrak dan pendahuluan dalam tulisan ilmiah telah kita bahas. Saatnya masuk pada bahasan “Masalah Penelitian”. Begitu banyak masalah di sekitar kita, namun tidak semua pemecahannya memerlukan kegiatan mengumpulkan dan mengolah data. 

Menentukan dan merumuskan masalah untuk diteliti dan kemudian dijadikan karya ilmiah, sering merupakan persoalan yang tidak sederhana. Banyak mahasiswa menjadi rancu, kala harus memutuskan, hal mana yang disebut masalah penelitian.

Contoh: 
Penjualan mengalami penurunan selama 5 tahun terakhir atau karyawan mengalami penurunan produktivitas selama 3 tahun terakhir. Ini sering disebut masalah (penelitian), padahal bukan. Ini hanyalah tanda-tanda ada masalah, gejala adanya masalah atau merupakan akibat dari adanya masalah.

Penurunan penjualan/penurunan produktivitas hanyalah indikasi (petunjuk/tanda-tanda) bahwa perusahaan sedang dalam masalah. Penurunan penjualan/penurunan produktivitas, bukan masalah-nya. Jadi, yang mana masalahnya? Itu yang harus dicari!

Pada kasus penjualan menurun, masalahnya mungkin ada pada produk yang tidak beres, penetapan harga yang salah, strategi promosi atau distribusi yang tidak tepat, bisa jadi perilaku konsumen yang tidak dipahami. Nah, itulah masalah yang harus diatasi (diteliti).

Demikian juga dengan produktivitas atau prestasi menurun, mungkin masalahnya ada pada motivasi yang lemah, kepemimpinan yang salah, kepuasan kerja, kelemahan system dan sebagainya. Itulah yang perlu perhatian untuk diteliti.

Mudah-mudahan Anda masih ingat bahwa karya ilmiah memerlukan dukungan fakta dan data, serta penyelesaian dengan cara-cara ilmiah. Namun demikian, Anda tidak perlu khawatir.  

Banyak persoalan-persoalan atau pertanyaan-pertanyaan sederhana di sekitar kita, yang berpotensi untuk diteliti secara ilmiah. 

Ketika Anda merasakan kegelisahan tentang sesuatu hal atau merasakan keingintahuan yang begitu kuat (curious), itu pertanda baik. Itu tanda-tanda bahwa sesuatu yang Anda rasakan tersebut bisa diteliti secara ilmiah. 

Cobalah mencocokkan apa yang ada dalam benak Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut.

Hadari dan Martini (1991), dalam bukunya, Instrument Penelitian Bidang Sosial mengemukakan bahwa pertanyaan-pertanyaan berikut dapat diteliti secara ilmiah:

*******
Perhatikan pertanyaan-pertanyaan yang ditulis dengan huruf tebal warna pink (1-7) berikut ini. Ini adalah contoh rumusan masalah penelitian!
 
  1. Benarkah sesuatu itu ada?
Ahli (peneliti) bidang sejarah sering menggunakan pertanyaan tersebut sebagai pertanyaan penelitian, ketika ia sedang meneliti apakah sesuatu pernah terjadi pada desa/daerah/kota/kabupaten/kerajaan X, pada tahun Y, misalnya.

Atau, para ahli pertanian yang ingin mengetahui jumlah pasokan beras (misalnya) pada satu tahun ke depan yang dapat disediakan oleh wilayah/Negara tertentu.

  1. Bagaimana adanya sesuatu?
Seorang budayawan, bisa mencari jawaban bagaimana di Tana Toraja, mummi bisa berjalan mengikuti panggilan dalam sebuah upacara adat, lalu kemudian menulisnya menjadi sebuah karya tulis ilmiah. Tentu saja, apa yang dipaparkan didukung oleh teori-teori yang relevan dengan (ilmu) kebudayaan. 

  1. Apakah sebabnya atau mengapa adanya sesuatu itu demikian?
Pertanyaan itu merupakan gambaran keingintahuan mengapa sesuatu terjadi atau faktor-faktor apakah yang menyebabkan sesuatu itu terjadi. Misalnya, mengapa angka kematian bayi pada wilayah X lebih tinggi dari wilayah Y, mengapa penjualan pada area X lebih rendah dibandingkan dengan area Y, dsb.

  1. Apakah terdapat hubungan/pengaruh antara adanya sesuatu dengan sesuatu yang lain?
Jenis pertanyaan penelitian ini sering digunakan oleh peneliti perilaku atau ilmu sosial.
Misal: apakah ada hubungan antara jenis kelamin dengan minat menjadi politisi, apakah ada hubungan antara jenis kelamin dengan pola manajer dalam pengambilan keputusan, apakah ada hubungan tingkat penghasilan dengan perilaku belanja, apakah ada hubungan kelas social dengan perilaku pembelian produk, apakah prestasi belajar berkorelasi kuat dengan kemampuan masuk dunia kerja, dsb.

Peneliti lain lebih tertarik mencari pengaruh sesuatu terhadap sesuatu yang lain.  
Misal: apakah kemiskinan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kriminalitas, apakah tingkat pendidikan mempengaruhi kemandirian pengusaha muda, apakah strategi promosi mempengaruhi keputusan pembelian, dsb.

  1. Seberapa kuat (besar) ketergantungan adanya sesuatu dengan adanya sesuatu yang lain?
Pertanyaan tersebut layak menjadi pertanyaan penelitian akan sesuatu, apabila tingkat frekuensi kejadiannya tinggi. Misal, Anda ingin meneliti jenis dan kualitas kriminalitas. Anda ingin mengetahui apakah jenis dan kualitas tindak kriminal tergantung (dan seberapa kuat ketergantungannya) pada tingkat pendidikan pelaku tindak kriminal, ataukah pengaruh lingkungan.

  1. Apakah adanya sesuatu itu menunjukkan kecenderungan perubahan atau pekembangan bersamaan dengan waktu secara kronologi?
Pertanyaan ini dapat diangkat menjadi masalah penelitian manakala ada kejelasan arah (kronologi) perubahan kecenderungan. 

Misal, bagaimana kecenderungan pola perilaku social seorang anak, sejak dilahirkan hingga usia tertentu, bagaimana kecenderungan pola belajar anak laki-laki sejak usia SD hingga SLTA, dibanding dengan anak perempuan, dsb. 

  1. Apakah terdapat kesamaan dan perbedaan antar adanya dua atau lebih keadaan (peristiwa) yang tampak sama, berdasarkan perbedaan tempat, waktu dan kejadian?
Jenis pertanyaan penelitian ini sering digunakan untuk penelitian yang memerlukan tindakan. Misalnya, seorang guru ingin mengetahui apakah ada perbedaan presatsi siswa ketika ia menggunakan metoda/model pengajaran X dengan metoda/model pengajaran Y.

Contoh lain misalnya, 
Anda ingin mengetahui apakah ada beda model pembelajaran antara sekolah favorit dan sekolah biasa, apakah ada kesamaan/perbedaan perilaku belanja antara ibu-ibu dari kelas sosial menengah dengan kelas social atas, apakah ada kesamaan/perbedaan persepsi antara laki-laki dan perempuan terhadap gerakan emansipasi, dsb.

Nah, itu adalah contoh pertanyaan-pertanyaan, yang bisa diangkat menjadi pertanyaan penelitian. Lantas, apa sih kriteria-kriteria yang harus diperhatikan, sehingga sebuah permasalahan itu layak diteliti/dijadikan karya ilmiah, nanti akan diuraikan pada tulisan berikutnya. 

Jadi, ikuti saja terus tulisan saya. Semoga bermanfaat! Apabila ada pertanyaan bisa menghubungi penulis.

Terima kasih sudah membaca,

Salam bahagia dan terus berkarya!
CATATAN :
Kini BUKU Melawan Hantu Bernama Skrispsi, dapat DIPEROLEH LANGSUNG dengan HANYA Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
Harga sudah termasuk:
  1. ONGKOS KIRIM dari Kantor Surabaya ke SELURUH WILAYAH Indonesia, 
  2. Konnsultasi Gratis Kegalauan Soal Skripsi yang meliputi judul/Topik, penentuan masalah penelitian, variabel penelitian, dan metoda/pendekatan yang digunakan dalam analisis (BUKAN jasa pengolahan data),
  3. Konsultasi dilakukan melalui Chatting  FB http://www.facebook.com/groups/skripsicepat/
Kontak via SMS: 0878 5320 1968

Tidak ada komentar:

Posting Komentar