Sabtu, 14 Januari 2012

Seri Memimpin Diri : Melatih Hidup Lentur ....

Bacalah dengan nama Tuhanmu,___________
"Perempuan yang gemar berlatih mengatasi persoalan, ia menjadi jauh lebih cantik" (Aridha Prassetya)

Dear pembelajar,________
Seorang sahabat perempuan datang hanya untuk mencurahkan kepedihannya. Ia sedang “bergelut” dengan masalah. Katanya, kali itu ia tak meminta nasehat. Ia hanya ingin saya “mendengarkan” saja ceritanya, tanpa berkata-kata. Pada pertengahan perbincangan kami, ia mengaku kadang “iri” dengan saya. Katanya, jalan hidup saya nampak begitu ringan dilihatnya.
Saya hanya tersenyum dan mengaminkan jalan pikirannya. Pada akhir perbincangan, ia “pamit pulang”. Saya “memeluk” dan “mencium” keningnya, berjanji memenuhi permintaannya, bahwa saya akan membawanya dalam doa.


Kali lain, seorang sahabat perempuan juga, mengaku telah menjadi ibu yang gagal. Ia merasa hidupnya hancur, bahkan ingin mempercepat kematiannya. Hari ini, masih saya ikuti perkembangannya. Ia sedang berupaya bangkit dari keterpurukan. Sama dengan sahabat di atas, ia pun pernah berucap “iri” padaku. Katanya, bagaimana saya dapat menjadi pribadi yang hangat bagi banyak orang. “Pribadi yang hangat”. Sangat indah terdengar di telinga saya. Saya hanya mensyukuri kata-katanya yang membahagiakan. Betapa dalam keadaan yang sedang bersedih, ia toh masih sempat membahagiakan saya. Semoga ia tahu bahwa kebahagiaan itu ada didalam dirinya dan tidak kemana-mana.

Seorang sahabat lain, laki-laki. Perkawinan pertamanya berakhir menyedihkan, setelah dianugerahi dua orang anak. Satu ikut mantan istrinya, satu lagi ikut dengannya. Saya ingat betul waktu datang pertama kali, ia begitu antusias mendalami ilmu keperempuanan. Ia berkeinginan memperbaiki kekurangan dirinya. Begitu dirasa cukup pengetahuannya, mendadak ia menghilang. Setelah lebih sebulan tidak berkabar, tiba-tiba saja menelpon dari seberang. Ia mengabarkan telah mendapatkan jodoh baru. Perempuan baik asal Jakarta, katanya. Saya larut dalam kegembiraannya selama ia bercerita panjang lebar tentang kisah “pertemuan” mereka. Rupanya selama menghilang, ia “berburu” pasangan hidup baru. Menjelang akhir perbincangan telepon itu, ia sempat mengaku dalam gelak tawa. Katanya, “…seandainya saja Mbak belum memiliki pasangan, saya lebih suka memilih Mbak sebagai istri baru saya…, sayang sekali Mbak sudah mempunyai pasangan…” Saya tertawa mendengar “keusilannya” dan bilang padanya semoga langgeng perkawinan keduanya. Ia mengaminkan dan menutup telepon. (dasar lelaki..!)

Pagi tadi, seorang sahabat “menjahili” status, yang dalam profil, saya tulis sebagai “pemerhati masalah ketidakbahagiaan”. Ia memberi PR kepada saya. “Ridha…, selesaikan kasus si “Anu” tuuh…kan kamu pemerhati masalah ketidakbahagiaan, buatlah dia bahagia Ridha..…”

Kejahilan kawan satu itu, terdengar lucu dan membahagiakan saya.
Sepintas, terkesan memang seperti main-main. “Perempuan pemerhati masalah ketidakbahagiaan”. Dimana, di dunia ini ada profesi “aneh” macam itu? 

Tetapi, begitulah keseharian saya. Pertemuan-pertemuan, perbincangan-perbincangan, diskusi-diskusi, dan penulisan-penulisan membawa saya terseret jauh ke dalam masalah orang-orang yang sedang tidak bahagia. Selalu saja ada yang hadir terkait dengan persoalan yang membuat seseorang menderita. Dan saya begitu menikmati perjalanan perbincangan hingga mereka menjadi percaya diri, bahwa semua akan baik-baik saja adanya. Seperti yang terjadi pada diri saya.

Sebelum saya menemukan formulanya, saya kerap merasa bahwa sayalah orang yang paling menderita di muka bumi ini. Itulah sebabnya ketika dipertemukan dengan mereka yang sedang dilanda masalah (lalu tak bahagia), saya seperti melihat diri saya dahulu. Sehingga tidak begitu sulit membangkitkan kembali rasa yang hilang itu.

Ada beberapa formula. Salah satu yang saya sukai adalah “membangun kelenturan jiwa”. Kelenturan atau fleksibilitas didefinisikan sebagai dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kenali dulu faktor apa yang membuat kita tak bahagia.

Mengapa dalam perjalanan hidup, kerap kita menjadi merasa tidak bahagia?

Sebab, kita selalu tergoda untuk mempertahankan apa yang ada. Padahal, apa yang ada sesungguhnya hanyalah sebuah fase sementara. Fase sementara, yaitu apa yang ada, segera berubah menjadi apa yang pernah ada (apa yang tadinya pernah ada).

Ketika sesuatu itu hilang, maka yang perlu diingat hanyalah “keyakinan akan ada penggantinya”. Sebab begitulah dari dulu hingga hari ini. Akan selalu ada ‘penggantian’. Banyak orang menyebut ini sebagai “hikmah”.

Pernah seorang mahasiswi meragukan kata-kata saya yang tengah meyakinkan dirinya bahwa deritanya akan berakhir. Dan begitu masalah itu berakhir, kecantikannya tidak berkurang. Ia akan masih tetap cantik, dan bahkan menjadi “lebih cantik” lagi. 

Saya “mendekatinya” yang sedang dalam keraguan, kemudian dengan tersenyum, meminta dia memperhatikan saya.

“Hey..! coba pandang ibu ...., perhatikan dengan seksama. Adakah kamu dapati ibu ‘cacat’, bekas terluka? Adakah kamu melihat sisa kesedihan pada wajah ibu akibat deraan persoalan-persoalan hidup yang setiap orang pasti memilikinya? Apakah sekarang ini, kamu mendapati ibu tak lagi tegak berdiri, tak lagi mampu berkata-kata, tak lagi mempunyai prestasi, tak lagi sanggup menemani kalian belajar? Jika kamu melihat kesedihan terpancar di wajah ibu, maka ibu pastikan, kamu tak kan datang kepada ibu, bukan? Jika kamu tak melihat ibu cukup kokoh untuk diajak bicara tentang masalah-masalahmu, kamu tak kan datang pada ibu, kan?"

Ia “mengangguk” dan saya melanjutkan kata-kata saya. “Nah, apa yang perlu kamu khawatirkan? Tidak ada! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua akan baik-baik saja."

Jadi bagaimana formulanya? 
Latihan! 
Latihan? 

Ya...!, Latihan! Latihan “memeluk” persoalan.

Semua persoalan adalah latihan menjadi dewasa. Semua permasalahan adalah latihan menjadi problem solver. Makin sering dihadapkan pada pernik-pernik masalah, maka makin menjadi lihai seseorang, makin handal ia sebagai seorang problem solver.

Latihan melenturkan jiwa, tidak beda jauh dengan latihan fisik. Sakit? Pasti! Tetapi ini hanya sementara. Seiring berjalannya waktu, sakit ini akan berkurang, dan kelenturan itu bisa dicapai. Saya tidak memaksa siapapun untuk memercayai, tetapi yang percaya, boleh mempraktikkannya. Butuh waktu untuk menjadi lentur, baik fisik maupun jiwa. Dan saya, tidak sedang menulis apa yang tidak saya praktikkan...

Salam bahagia

1 komentar:

  1. Salam Bu Aridha..

    saya teman di kompasiana

    Kali ini mau salam perkenalan pertemuan saja di web ibu,permisi saya ikut menyimak dan mendalami materi disini.

    salam.

    Aang Suherman/Wierodjampang

    BalasHapus