Selasa, 24 Januari 2012

Formula Kepemimpinan (30/30/20/20)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,---------
"Hidup bagai sebuah buku, setiap babnya mengandung pelajaran-pelajaran yang harus dipelajari, terdapat pula soal-soal yang harus dikerjakan. Kadang kunci jawaban diberikan, kadang pula tidak" (Aridha Prassetya)

Ditulis sangat khusus untuk yang ingin mendalami spiritual leadership
Dear pembelajar,
Foto-foto reaksi dan tangisan rakyat Korea utara ketika mendengar berita kematian pemimpin kharismatik mereka, Kim Jong Il, sang pemimpin yang dicinta (The Dear Leader), menginspirasi saya menuliskan ini.

Kata orang, tidak gampang menjadi pemimpin. Itulah sebabnya, banyak pemimpin gagal (merasa gagal memimpin).  Bagi yang hari ini memimpin, dari top hingga lowest level management, inilah formula kepemimpinan praktis, yang sangat menarik. Apa beda leader dan spiritual leader?
Seorang leader, ketika dia pergi ke rumah ibadah, ia memikirkan pergi memancing, pergi belanja, dan pergi kemana-mana. Di dalam rumah ibadah, pikirannya mengembara kemana-mana dipenuhi kebendaan.

Sementara spiritual leader, ketika ia pergi memancing, ia menyelaraskan pikirannya dengan Tuhan dan ciptaanNya. Apapun aktivitasnya, dipilihnya Tuhan sebagai pimpinan dan tujuan bagi kepemimpinannya. (Kira-kira, diantara kedua jenis pemimpin tersebut, mana yang dilihatNYA sebagai pemujaan yang paling asli?)

Adalah Ian Percy, dalam bukunya, “Going Deep”, menggagas bahwa kepemimpinan dapat dijalankan dengan formula 30/30/20/20.

30% pertama adalah brain trust

Spiritual leader, menghabiskan 30% waktunya untuk berfikir. Ia memercayai dan mengembangkan kemampuan otaknya. Jika ia memiliki 40 jam kerja/minggu, maka 12 jamnya (2,5 jam/hari), digunakan untuk kegiatan berfikir. Berfikir adalah bagian aktif dari serangkaian keahlian kepemimpinan.

Banyak senior yang ketika mempunyai lebih banyak lagi tanggung jawab, justru lebih sedikit punya waktu berfikir. Padahal, berfikir akan mengembangkan kemampuan intuitif, membuat lebih terbuka, aktif, kreatif dan berkembang secara berkesinambungan..

Mungkin ada yang protes. Pemimpin, harusnya “mengetahui”, bukan hanya refleksi/berfikir. Betul! Tetapi untuk berfikir, kita tak perlu berhenti melihat/mengetahui. Berfikir menjembatani apa yang kita ketahui sekarang, dengan masa depan organisasi.

Berfikir dapat dirangsang melalui membaca. Sangat penting memperluas rentang pengetahuan dan mencoba tidak terlalu membatasi buku-buku bacaan. Sesekali diperlukan keluar dari zona nyaman intelektualitas. Contoh ekstrim dari kegiatan berfikir adalah berani menyeberang sejenak mendalami al kitab agama lain dan mengetahui isinya. Jangan ragu membaca buku-buku yang menggelisahkan atau bahkan membosankan. Muhammad SAW, Kristus, Gandhi, Dalai Lama, Konfusius, adalah contoh bacaan yang dapat melatih kepekaan pikir.

30% ke dua adalah Komunikasi

Spiritual leader menghabiskan 2,5 jam sehari, untuk memastikan bahwa komunikasi di dalam dan di luar organisasi berjalan dengan efektiv.

Ketika mengunjungi bagian produksi, ia membawa berita dari bagian R&D dan bagian Marketing. Saat mengunjungi bagian expedisi, ia membawa berita dari bagian penjualan. Saat mengunjungi bagian administrasi, ia membawa kabar tentang “perjuangan” dan “kemenangan”, yang harus dicatat.

Apapun yang ia bawa, pesan spiritualnya adalah “kita adalah satu”, “kita adalah tunggal”, “kita adalah tak terbagi”. Indikasi bahwa komunikasi berjalan efektiv adalah bahwa setiap bagian mengetahui kegiatan organisasinya secara utuh.

Siapa contoh komunikator yang baik itu? 

“Layaknya seorang kapten pesawat. Ia mengenalkan dirinya dan memberitahu bahwa ada seorang yang lain yang duduk disampingnya. Suaranya penuh percaya diri dan mengalir lancar, memberitahu progress penerbangan.

Ia memberitahu dimana kita berada, dipandang dari titik tujuan. Ia memberitahu perkiraan tiba di bandara tujuan. Kadang ia memperlihatkan hal-hal yang dapat kita saksikan sepanjang perjalanan, yang mungkin tidak pernah kita sadari, jika kita tidak diberitahu.

Kita bahkan mengetahui bagaimana laporan cuaca terkini di tempat tujuan. Jika ada masalah yang akan mempengaruhi kenyamanan perjalanan, kita diberitahu sebelum benar-benar terjadi. Ia mengajari kita bagaimana menjaga keselamatan diri sendiri selama turbulensi udara.

Ia memastikan bahwa kita tahu kapan semua itu akan berakhir. Terkadang ia mengunjungi kabin penumpang, untuk bertatap muka dengan orang-orang yang telah mempercayainya. Ia berharap mendapat penghormatan ini di masa-masa yang akan datang. Sebuah model komunikasi yang layak diteladani!”, Demikian saya merujuk apa yang disampaikan Ian.

20% pertama adalah Mentoring dan Perencanaan Suksesi,

Spiritual leader mengalokasikan 1,5 jam/hari untuk konsultasi internal, pendampingan, mentoring/pelatihan, dan perencanaan suksesi.

Bagi pemimpin biasa, perencanaan suksesi dianggap tabu, sama halnya dengan bunuh diri. Ini mengancam perjalanan karirnya.

Namun hasilnya, semata hanya menaikkan karir dirinya. Pemimpin biasa, sepanjang hari memerintah orang-orangnya agar menyelesaikan detail pekerjaan dengan bagus, sambil berucap “do your best”.

Banyak pemimpin biasa memang terlihat seperti pemimpin berkualitas. Mereka berhasil naik ke puncak. Namun mereka tidak mampu membawa siapapun kemana-mana. Prestasi maksimal mereka adalah, berhasil menciptakan sikap keteraturan, ketundukan dan kepatuhan karyawan mereka.

Seorang spiritual leader, membantu orang-orangnya melakukan berbagai hal untuk diri mereka sendiri. Ia melakukan pembimbingan kuat dan bijaksana, ia juga menyerah-terimakan prosedur.

20% terakhir adalah Operasional!

Spiritual leader, mengalokasikan 20% waktunya untuk membaca/memahami laporan administrasi/keuangan perusahaan. Ia paham bagaimana kegiatan proses produksi berjalan dengan baik. Ia menemui konsumennya baik secara samar maupun terang-terangan untuk mendengarkan keluhan dan saran mereka.

Finally, dalam praktik, formula ini mengalami proses. Awalnya bisa saja 10/10/10/70, tetapi semakin senior seorang pemimpin, mereka akan bergerak menuju peran spiritual leader.

Spiritual leader tak kan terlalu lama terbelenggu dalam kompleksitas persoalan-persoalan masa lalu. Ini hanyalah gagasan. Keputusan ada di tangan pembaca. Semoga bermanfaat.
(Inspired by Ian Percy, in “Going Deep”)

Salam bahagia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar