Jumat, 23 Desember 2011

Performance Optimizing

Bacalah dengan nama Tuhanmu,______
“Yang berpandangan jauh ke depan, selalu diganggu oleh yang berpandangan pendek” (Anonimus)

Dear pembelajar,___
Tidak ada hal yang menggembirakan dan menarik untuk dibahas bagi pimpinan sebuah organisasi selain performance yang bagus dari organisasi yang dipimpinnya. Performace, dalam bahasa kita disebut sebagai kinerja. Kinerja. Dalam kamus beberapa “pakar” teoritis, didoktrinkan sebagai hal yang berbeda (tidak sama) dengan produktivitas. Kinerja berbeda dengan produktivitas, produktivitas itu bersifat kuantitatif, sedang kinerja itu capaian kualitatif, katanya.


Saya menghargai pendapat para “guru” itu, sebab dari mereka saya beroleh pengetahuan, meskipun pada akhirnya saya berpendapat bahwa kinerja, secara praktis adalah hasil kerja (ada pula yang mengistilahkan sebagai unjuk kerja). Hasil/unjuk kerja itu bisa berupa produktivitas, prestasi, capaian, hasil dan sebagainya.

Masih dalam gagasan Robbins, dalam The Truth about Managing people. Ia menyempurnakan fungsi yang pernah ada sebelumnya. Dahulu, diyakini bahwa kinerja merupakan fungsi dari kemampuan dan motivasi.

P = f (AxM) dimana P = Performance, A = Ability, dan M= Motivation;
Artinya bahwa, kemampuan dan motivasi karyawan merupakan variable yang berpengaruh terhadap kinerja.

Dalam perkembangannya, Robbins kemudian menambahkan satu variable lain, yaitu O (opportunity/peluang), sehingga fungsi itu kemudian menjadi:

P = f (AxMxO) ; 
dimana P=Performance; A=Ability; M=Motivation; O= Opportunity

Dibaca:
Kinerja merupakan fungsi dari ability, motivation dan opportunity. 
Perubahan pada AMO, mempengaruhi perubahan P (kinerja),
Jika AMO terganggu/diganggu, maka Peformance juga akan terganggu.
 
Meskipun seorang individu/karyawan memiliki kemampuan (able) dan mau (willing/motivation), namun ada variabel lain yang merupakan penghalang (constraint) pencapaian kinerja, yaitu peluang opportunity).

Ketika pimpinan dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa karyawan mereka tak dapat mencapai kinerja yang seharusnya mampu mereka capai, maka beberapa hal berikut perlu dipertanyakan:

  1. apakah karyawan mendapatkan peralatan, perlengkapan, material dan bekal yang memadai?
  2. apakah karyawan telah mendapatkan kondisi kerja yang menyenangkan, didukung oleh rekan kerja yang selalu support dan siap membantu, didukung oleh aturan dan prosedur yang baik, didukung informasi dan waktu yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik?
Tidak peduli bagaimana kuatnya kemauan karyawan, performance (kinerja) mereka akan tetap memprihatinkan, sepanjang organisasi tidak mampu menyediakan supportive work environment (lingkungan kerja yang mendukung). Mendapat Supportive work environment itulah yang dimaksud sebagai “mendapat peluang” (dari organisasi).

Salam bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar