Kamis, 10 November 2011

Seri Memimpin Diri; Menjadi Cantik di MataNYA (5)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,__________
"Siapa yang mau cantik? Belajarlah pada SANG AKAR" (Aridha Prassetya)

Dear pembelajar,
Cantik itu Berakar ke “DALAM”. Ini adalah tulisan ke lima dalam seri Cantik di MataNYA. Cantik, selalu saja menarik untuk dibicarakan. Kata Cantik, memiliki daya stimulasi yang hebat pada diriku. Cantik menggerakkan hati dan pikiranku, untuk terus menggali lebih jauh, sampai dimana kedalaman ilmunya.


Dan, kata Cantik, nyatanya memiliki energi yang tidak biasa bagi tumbuh kembang pribadiku. Ia, kata Cantik itu, sanggup menginspirasiku pagi dan petang, mewarnai gerakan-gerakan jalan hidupku setiap saat, setiap waktu.

Pagi ini sepuluh November. Sejak kemarin, aliran listrik padam di rumah kami, mulai pukul enam pagi hingga dua jam ke depan. Tidak adanya aliran listrik di rumah, semula membuat kami menjadi “mati gaya”. Tetapi lama-lama gaya kami menjadi tak lagi mati. Bagiku ini adalah kesempatan untuk "bertamasya" berkeliling luasnya "samudra jiwa". Aku, pada akhirnya, tidak berkeinginan manja dan menjadi “tergantung”. Aliran listrik hanyalah sesuatu yang bersifat “kebendaan”, yang tentu saja bisa datang sekaligus juga bisa menghilang.

Aku adalah perempuan yang berusaha patuh mengikuti “ajaran” guruku. Hingga hari ini, berusaha terus-menerus belajar menghilangkan segala bentuk negativisme. Melenyapkan semua bentuk pemikiran dan prasangka buruk. 

Masih dingin rasa udara pagi. Persis di depan mata, di atas meja kristal bundar depan kursi tempat ku duduk, aku menyaksikan tumpukan ilmu. Aku raih sebuah buku karya Gede Prama. Buku indah itu berjudul Hidup Sejahtera Selamanya. Seperti biasanya. Ada saja yang menarik, lalu kemudian  “kubuat” lebih menarik. Aku tertegun ketika membaca salah satu chapter_nya. Kali ini soal “AKAR CEMARA”.

Guru Prama mengisahkan pengalamannya memperhatikan tumbuhan dan akar cemara. Akar cemara begitu kuatnya, tumbuh dan masuk ke dalam tanah, menguatkan tegak pohonnya.


Daun cemara, tidak terlihat indah apabila tidak ada kerelaan akar untuk bekerja tanpa pamrih. Yang ditahu sang akar cemara, hanyalah bekerja mencari makan. Agar daun-daunnya terlihat subur dan indah. Bayangkan jika tidak ada kerelaan sang akar untuk terus menerus bekerja ke arah dalam. Daun-daun cemara tidaklah nampak begitu indahnya.

Aku menarik nafas panjang, terusik oleh apa yang guru Prama tuliskan soal “akar cemara”.  


Di depan mataku, tidak ada tumbuh cemara ataupun pinus. Sejauh dan sedekat mataku memandang, aku hanya melihat jajaran pohon palma. Tidak berhenti di sana, mataku terus menyelidik apa-apa yang tumbuh di taman kecilku.  


Aku mengamati bamboo yang teduh, mangga yang usai berbuah lebat dan manis, pandan yang berdaun harum semerbak, puring yang hijau indah, Sri Rejeki yang kecantikannya abadi, Sansevieraku yang sanggup menyerap racun, kolbanda berdaun luas nan hijau, peninggalan almarhum ibuku. Semua kulihat begitu indahnya. Semuanya “berakar” dan semua akarnya “berjalan ke dalam” tidak “keluar”.

Akar-akar itu. Yang diketahuinya hanya berjalan. Bahkan ia tidak mengenali beda antara sedang “berjalan” dan “bekerja” mencari asupan. Asupan yang diperoleh, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk seluruh tubuh, dahan, ranting, daun, buah dan bunganya. ISang akar tak butuh penampilan. Baginya, tak ada yang perlu ia pamerkan dan tak ada siapapun yang perlu ia pameri. Ia tak memerlukan puji-pujian.

Akar-akar. Ia berjalan ke dalam, berfokus melaksanakan dengan baik tugas-tugas illahiahnya. Akar-akar berjalan ke dalam. Ia melahirkan keindahan. Bukan hanya keindahan dirinya, tetapi juga keindahan untuk semesta raya.  


Dahan, ranting, dan daunnya merindangi tanpa pamrih. Meneduhi tanpa memilih. Buahnya mengobati dan menyembuhkan dahaga. Bunganya mewarnai dunia.

Siapa yang mau cantik? Belajarlah dari akar-akar. Kecantikan dan keindahan yang dilahirkannya menyebar ke seluruh alam semesta.  


Yang cantik itu, ia berusaha membangun dirinya, melalui menguatkan akarnya. Dan “akar” itu berjalan “ke dalam”. Bukan ke "luar"...

salam bahagia

2 komentar:

  1. dan cantik yang sesungguhnyapun berada di"dalam" bukan di"luar" yang sering kia lihat..

    BalasHapus
  2. cantik itu relatif (wajah)....
    Walaupun kelihatan'a jelek wajah seseoranng tapi hati'a begitu mulia akan terpancar juga dari wajah'a itu kecantikan yang hakiki.. :D

    BalasHapus