Jumat, 21 Oktober 2011

Seri Memimpin Diri; Menjadi Cantik di MataNYA (4)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_____
"Hidup adalah pembelajaran tanpa batas. Agar tak cedera akut, diperlukan keberanian dan kelenturan" (Aridha Prassetya)

Dear pembelajar,
Perempuan CANTIK, ia pintar memilih cara pandang. Ini adalah tulisan ke empat saya dalam seri Menjadi Cantik di MataNya. Seminggu terakhir, ada dua pesan masuk. Satu melalui seluler dan satu melalui alamat email saya. Pesan dari seluler berbunyi : “ Selamat sore mbak..., saya mau cerita. Tadi pagi habis ngomelin putri remaja saya karena dia ngga mau sholat subuh.
Sudah itu, saya masak. Setelah memasak, saya baca Being a Natural Mother. Saya kaget ternyata ada cerita yang sama soal anak anda. Alhamdulillah, jadi ketemu solusinya. Terima kasih telah berbagi, saya sangat menyukai tulisan anda…” (IP, Jakarta)

Pesan yang dikirim via email, berbunyi :

Assalamualaikum,
Salam kenal ya mbak Aridha,
Saya ingin mengucapkan terima kasih, dan semoga banyak manfaat yang bisa didapat dari buku mbak, " Being a Natural Mother". Saya memperoleh buku mbak Aridha, secara free dari ikutan workshop pak Dodi Mawardi. 

Terus terang, saya masih punya banyak buku di rumah yang belum sempat dibuka segelnya, sehingga buku mbak pun masih belum terbaca hingga minggu lalu. Minggu lalu itulah saya putuskan untuk membaca buku mbak Aridh. Saya baca buat menemani saya selama di angkutan umum.

Begitu baca.. saya langsung mengucap syukur, Alhamdulilah.. semoga mbak diberikan kelapangan rejeki, kesehatan dan kebaikan yang tak putus2..Aamiin..

Dalam buku itu, banyak hal yang membuat saya berfikir dan membuka mata saya. Selama ini, saya sering hanya marah2 kalau ketemu anak2 saya di rumah. Saya sebagai ibu bekerja ( suami saya sudah pensiun dini dan di rumah saja), setiap hari bertemu anak hanya beberapa jam. Itulah sebabnya anak2 juga tidak begitu dekat dgn saya.. ( usia anak 5 th dan 3 th).

Sering saya sedih dan ingin berhenti bekerja agar bisa lebih dekat dengan anak2.. tetapi keadaan belum bisa memungkinkan, sebab penghasilan suami dari hasil kontrakan belum bisa mencukupi kebutuhan saya, dan saya juga belum menemukan pengganti dari gaji saya yang sekarang.

Tulisan mbak Aridha sangat mengena dan pas untuk ibu-ibu jaman sekarang yang sering tidak sabaran dalam menghadapi anak-anaknya, saya benar-benar terinspirasi.Sekali lagi terima kasih ya mbak.. dan oh ya saya mau tanya, apakah saya bisa mendapatkan buku mbak? karena saya mau berikan untuk adik-adik saya.
(Wass, AY, Jakarta)

Saya mensyukuri setiap berita soal buku saya Being a Natural Mother. Saya sama sekali tidak menduga bahwa apa yang saya tulis bisa menjangkau hati banyak wanita. Mendengar kabar soal kemanfaatan adalah kebahagiaan yang tiada terkira. Saya ingin setiap perempuan yang pernah membaca tulisan-tulisan saya, menjadi tersenyum cantik ketika dia bangun pagi untuk berdoa, menjadi cantik ketika harus mengurusi rumah, anak-anak dan keluarga yang dikasihinya, saya ingin mereka menjadi makin cantik setiap harinya dan dimuliakan oleh orang-orang sekelilingnya. Untuk itu semua, saya ingin setiap perempuan atau wanita selalu berusa menjadi cantik di MataNya, agar cahaya kecantikan anugerahNya itu senantiasa terpancar selama ia menjalankan tugas-tugas hidupnya. Saya ingin melihat wanita-wanita cantik menginspirasi dunia sekelilingnya.

Dan hari ini, terhadap kegelisahan-kegelisahan yang dialami para perempuan terkait soal beban hidup yang harus mereka tanggung, saya hanya ingin memberikan alternative yang menyejukkan. Cara ini betul-betul telah saya uji efektivitasnya dalam kehidupan saya pribadi yang tidak jauh berbeda dengan anda.

Ini adalah soal “Memilih Cara Pandang”. Perempuan cantik, ia pintar memilih cara pandang. Perempuan cantik, mencoba menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruknya memberondong Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan bernada protes dan menuntut. Pertanyaan-pertanyaan itu biasanya berbunyi, “Tuhan, mengapa aku harus mengalami hal seperti ini? Mengapa dia dan atau mereka begitu jahat kepadaku, mengapa aku menanggung beban seperti ini? Mengapa hal buruk selalu menimpaku, mengapa kok begini…mengapa kok begitu…???”

Ketika saya sangat terpuruk, berada pada titik terendah dalam kehidupan saya, saya tidak tahu kenapa saya tiba-tiba saja menjadi “sangat bersahabat” dengan Tuhan. Saya merasa bahwa tidak satupun sosok yang dapat saya percayai untuk menolong kehidupan saya yang sangat sulit, selain DIA. Saya mengambil keputusan untuk “mengubah” cara pandang saya terhadap Tuhan. Saya mengajari diri saya untuk “memilih” cara pandang atas sesuatu yang saya alami. Saya “berhenti” bertanya-tanya. Saya memilih untuk bercerita saja kepada Tuhan, “sahabat baik” saya yang paling setia mendengarkan cerita-cerita saya hingga tuntas.

Tidak terasa, hari-hari saya berisi kerinduan-kerinduan dan keadaan batin yang tidak saya pahami. Di kantor, saya menjadi lebih tidak sabar menunggu saat pulang. Saya ingin cepat-cepat pulang agar saya bisa “bertemu” dengan Tuhan dan berbincang tentang apa saja denganNya. Saya gemar sekali berwudhu, agar saya bersih, terlihat lebih segar dan cantik di hadapanNYa. Lalu saya duduk bersimpuh atas hamparan sajadah merah tempat perjumpaan dan bincang-bincang saya denganNya.

Saya telah lama mengganti pertanyaan menjadi pernyataan kesyukuran. Dan hasilnya selalu meneduhkan keseluruhan pribadi saya. Inilah perbincangan saya denganNya. Inilah perbincangan yang menyembuhkan dan meneduhkan keadaan jiwa saya yang terpuruk. Saya ingin membaginya kepada anda sebagai alternative yang mungkin bisa anda pertimbangkan.

“Tuhan, terima kasih aku boleh menemui Engkau dalam keadaan apapun...ampuni aku yang tidak mampu menghitung kebaikanMU. Ampuni aku yang lupa berterima kasih atas kepercayaanMU kepadaku. Sekarang aku paham mengapa Engkau memilih aku. 

Terima kasih Engkau telah mempercayaiku menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak lelakiku, menjadi guru bagi jumlah ratusan murid dan mahasiswaku, menjadi tempat bertanya bagi ratusan murid dan mahasiswaku, menjadi sahabat mereka, menjadi “ibu” bagi mereka, Engkau bahkan mempercayakan pendidikan dan pengetahuan mereka kepadaku, menjadi harapan bagi kedua orang tuaku, menjadi sahabat baik bagi sahabat-sahabatku, menjadi sumber pembelajaran dalam setiap diskusi masalah keluargaku, menjadi seorang kepala lembaga yang sangat besar kemanfaatannya, menjadi pribadi yang kuat dari tahun ke tahun, menjadi perempuan yang bisa baca tulis sehingga tak lagi perlu takut dalam berjalan, ….menjadi apa saja yang tak mampu aku sebutkan satu persatu… 

Rasanya tidak percaya bahwa Engkau Tuhanku, mempercayakan semua itu kepadaku, padahal aku mengira bahwa aku adalah perempuan lemah yang tidak berdaya, tetapi penglihanMU mampu melampaui itu semua.  

Engkau dengan segala keyakinanMU, justru mempercayakan semua itu kepadaku. Sekarang aku mengerti. Aku mengerti Engkau pasti punya pertimbangan sehingga memutuskan bahwa akulah perempuan yang layak Engkau percaya untuk tugas-tugas besar dan mulia ini. Terima kasih atas semua kebaikanMU dan ampuni aku yang sungguh tidak tahu diri. Ampuni aku yang tidak pandai menghitung kebaikan-kebaikanMU….Amin.”

Seolah dalam bimbinganNYa, Dia, Tuhan, terus menerus membimbing aku untuk mengingat satu per satu kebaikanNYA. DIA sadarkan aku, bahwa aku adalah perempuan "terpilih" yang Dia cintai dengan penuh kasih sayang. DIA sadarkan aku, bahwa jika DIA tidak melihatku mampu, maka tiada mungkin DIA percayakan segala tugas besar dan berat itu kepadaku.

Itulah yang saya maksud dengan “mengubah dan memilih cara pandang”. Saya sangat yakin bahwa pilihan cara pandang yang positif terhadap anugerahNya, akan menjadikan perempuan-perempuan dapat menjalani hidupnya dengan cara yang cantik pula. Perempuan Cantik? Ia pintar MEMILIH CARA PANDANG, Ia senantiasa mencahayai dirinya dengan ilmu pengetahuan, hidup dalam kepatuhan, dan ia mengerti perasaan Tuhan.

Salam bahagia

4 komentar: