Kamis, 20 Oktober 2011

Seri Memimpin Diri; Menjadi Cantik di MataNYA (3)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,___

"Cahaya keilmuan, mengikuti setiap gerakan perempuan-perempuan “cantik” yang selalu jatuh cinta pada aktivitas berbagi keilmuan yang ia tahu, tanpa syarat" (Aridha Prassetya)

Dear pembelajar,_____
Ini adalah seri 3 Menjadi Cantik di MataNya. Setelah cahaya keilmuan dan kepatuhan, kali ini saya berani berkata bahwa perempuan Cantik itu adalah mereka yang hidupnya penuh kesyukuran. Cantik itu ....bersedia “Mengerti Perasaan Tuhan”.

Semalam sebelum memulai kelas, aku bertemu dengan seorang sahabat.

“Hai…!” , begitu kami saling menyapa, ketika dia datang berkunjung ke ruanganku. Kami saling berpeluk dan bercium pipi. Aku berucap berulang-ulang, “maafkan aku ya…!, aku minta maaf ya…!, maafkan aku ya…!”

Ia hanya tersenyum dan bahkan tertawa bersamaku sembari kami menuju mejaku untuk bercerita. Aku mengulangi semua kalimat pentingku yang sebenarnya siang tadi telah aku ucapkan melalui telepon. 

Aku katakan padanya bahwa aku meminta maaf karena pernah menyakitinya dengan kata-kata keras. Aku telah bersikap tidak bagus ketika suatu saat dalam penglihatan dan pikiranku, ia  kuanggap telah bertindak sangat bodoh . Dalam pandanganku waktu itu, ia tidak mampu mengambil keputusan yang tepat. Ia perempuan "bodoh".

Sahabatku ini, tak pernah sekalipun marah atas apa yang kulakukan. Ia hanya tersenyum. Setahuku ia memang hanya bisa tersenyum. Ia adalah salah satu dari sedikit perempuan yang kukenal, yang tidak pernah memiliki rasa sakit dalam hatinya.

Usianya sudah 44 tahun, tetapi Tuhan belum menganugerahkan seorang anak pun dalam sepanjang perjalanan rumah tangganya. Tuhan memang belum menganugerahkan anak, tetapi DIA telah menganugerahkan seorang suami yang sepanjang rumah tangganya hanya menyakiti hidupnya. Berapa kali ia berikan modal usaha kepada suaminya, namun yang terjadi bukan keuntungan usaha, melainkan kerugian yang terus menerus dan hutang yang menumpuk. Kabar terakhir yang sangat mengusik aku adalah sahabatku ini telah menguras habis seluruh tabungan sepanjang hidupnya. Ia telah menutup rekening bank nya. Bahkan sahabatku sudah melibatkan orang tuanya untuk “menolong” suaminya yang selalu saja terjerat  masalah hutang bunga berbunga.

Dalam “ketidaksabaran”ku melihat dia yang begitu baik hatinya, tetapi hidupnya “penuh disakiti”, aku seperti “tidak terima”. Sempat aku meminta agar ia meninggalkan  saja suaminya. Kusarankan untuk memutuskan bercerai dan tinggal saja bersama ibunya yang memang juga sudah dibuat jengkel oleh ulah suaminya. Ia bilang ia mungkin saja bercerai tetapi tetap “tak bisa meninggalkan” suaminya. Ia tetap saja ingin menolong suaminya dengan cara semampu-mampu dia.

Jauh lebih mengagetkan adalah ia berkata padaku “…bahkan aku berharap, kamu dan orang-orang yang membenci dia, bisa memaafkan dia”.

Bagiku ini adalah permintaan “gila”. Sahabatku tahu persis bahwa aku pasti marah jika ada seseorang yang menyakiti dia. Itulah sebabnya, maka dengan hati-hati sekali ia berharap aku memaafkan orang yang menyakitinya.

Lama aku berfikir soal permintaanya yang sungguh tidak masuk akal. Jalan pikirannya “mengganggu” aku. Hingga suatu saat aku sempat berkirim pesan ke halaman face booknya. “Jika kamu meminta aku memaafkan dia yang sudah menyakiti kamu, mungkin aku bisa, tetapi jika kamu meminta orang tua kamu berbaik-baik padanya dan memaafkannya, itu sungguh permintaan yang sudah keterlaluan”.

Sahabatku itu tak menjawab message aku. Meskipun demikian, aku sangat yakin bahwa ia tak marah dengan kata-kataku itu. Sejenak kemudian ia hanya menjawab, ia bisa mengerti perasaanku dan ia juga mengerti kata-kataku. Namun sekali lagi, ia tak mampu untuk “memusuhi” suaminya. Ia tetap akan menolong dengan caranya dengan semampu-mampunya. Ia tetap saja mengasihi suaminya.

Waktu berjalan seperti biasa. Aku “berfikir dalam-dalam” tentang anugerah. Tentang anugerah yang tidak selalu berupa kebahagiaan tetapi justru berwujud ketidakbahagiaan.

Aku ingat pernah membuka sebuah buku kecil  pemberian seorang guru. Ada satu  chapter menarik yang  mengajariku tentang satu hal. Sebuah bahasan yang bukan hanya sangat-sangat penting tetapi juga luar biasa indah. Ini adalah soal memberi dan menerima. Ini adalah soal pemberiaan dan penerimaan. Ini soal “perasaan Tuhan”.

Aku menjadi berkaca soal diriku. Soal sikap penerimaanku terhadap pemberian siapapun. Aku ingat kelakuanku. Aku gemar memberikan "hadiah" terbagus untuk orang yang aku kasihi. Tetapi aku kecewa ketika balasannya tak sepadan dengan apa yang telah kuberikan.

Jika aku ingin memberikan hadiah, maka aku perlu waktu untuk memikirkan hadiah apa yang paling bagus untuk orang-orang yang kukasihi. Tetapi jika aku menerima sesuatu yang tidak seperti yang kuharapkan, aku menjadi kecewa dan tidak bahagia.

Buku kecil dan guru itu, diluar dugaanku, sungguh berperan menyadarkanku. Jika seorang manusia saja memilih hadiah yang terbaik untuk diberikan kepada seseorang yang dikasihinya, bagaimana mungkin Tuhan tidak berbuat demikian?

Tuhan pun pasti telah memikirkan masak-masak, lalu memilih dan kemudian memberikan yang terbaik untukku. Aku lantas jadi berimajinasi tentang bagaimana perasaan  si pemberi hadiah, ketika mendapatiku sedang kecewa dengan pemberiannya. Aku pun larut dalam ajaran guruku yang mengajakku berfikir tentang Tuhan, lalu kemudian masuk ke dalam “perasaan Tuhan”. Bagaimana “perasaan Tuhan”, jika aku tidak menyukai pemberianNya, jika aku tak menyukai hadiah yang sudah dipilihkanNya yang terbagus untukku....???

Buku itu menajdaikanku terpahamkan. Aku mengerti sekarang, mengapa sahabatku itu begitu khidmat “menikmati” anugerahNya, meskipun aku memandang bahwa itu bukan anugerah atau....anugerah itu tidak membahagiakan. Dan itulah sebabnya aku menjadi tidak sabar untuk meminta maaf atas sikapku kepadanya selama ini.

Kami berbincang malam itu, saling menghibur dan memilih menjadi sosok yang saling memaafkan tanpa berfikir terlalu panjang soal pemberian Tuhan. Kami sepakat bahwa Pemberian Tuhan harus diterima dengan lapang dada. 

Tanpa direncanakan air mata kami menjadi tiba-tiba saja menetes bersamaan larut dengan perdebatan mendalam soal “kesyukuran”. Aku sungguh mendapatkan pelajaran baru. Aku berguru kepada sahabatku malam itu. Aku berguru soal kecantikan hati. Dan inilah sesuatu yang dapat kusimpulkan dari pelajaran baru itu.  

"Cara sahabatku menerima dan menyikapi anugerahNya yang tidak membahagiakannya adalah contoh praktik sebuah pelajaran Cantik di MataNya. Dan itu pula yang membuatnya selalu cantik dan baik-baik saja. Jadi? Aku kini mengerti bahwa Cantik itu adalah Mengerti Perasaan Tuhan.

Salam bahagia

1 komentar: