Selasa, 11 Oktober 2011

Seri Memimpin Diri; Menjadi Cantik di MataNYA (2)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_____
"Pengembangan kepemimpinan adalah perjalanan seumur hidup, bukan perjalanan singkat". (John C. Maxwell)

Dear pembelajar,____
“Perempuan yang bersedia belajar terus menerus, mengisi dirinya dengan ilmu, merendahkan dirinya di bawah luas dan tingginya keilmuan, kecantikannya akan terbentuk dengan sendirinya dari waktu ke waktu. Ketika ilmu dan pengetahuan diterima sebagai sebuah cahaya, maka cahaya itupun akan bergerak bersama dirinya. Cahaya keilmuan, mengikuti setiap gerakan perempuan-perempuan “cantik” yang selalu jatuh cinta pada aktivitas berbagi keilmuan yang ia tahu, tanpa syarat. Ya! Tanpa syarat.” Ini adalah cuplikan sebelumnya dalam rangkaian tulisan saya bertajuk Cantik di MataNya.

Saya memang perempuan, tetapi pengetahuan tentang keseluruhan pribadi dan jiwa perempuan, serasa masih saja belum sempurna. Saya seperti selalu saja ingin menjelajah apa yang ada di dalamnya, apa yang sesungguhnya terdapat dalam dirinya sehingga ia dapat diandalkan menjadi cahaya yang hangat dan teduh bagi siapapun

Dan...., “Cantik” adalah salah satu ilmu yang terus menerus berusaha saya gali, sebab dari sanalah dunia mampu bangkit sekaligus runtuh.
Jika dalam tulisan sebelumnya saya bicara bahwa menjadi cantik di mataNya adalah memenuhi diri dengan cahaya keilmuan, maka hari ini saya ingin menulis bahwa cantik adalah tunduk dan patuh terhadap rencanaNya. Cantik adalah tunduk dan patuh pada jalan yang dipilihkanNya.

Jujur saja bahwa sebelum-sebelumnya saya tidak begitu  tertarik soal Siti Maryam (yang oleh kaum Kristiani dikenal sebagai Maria). Setahu saya, Maryam adalah bunda Nabi Isa AS, titik.  Tidak pernah dibahas secara heboh dalam perjalanan hidup dan pembelajaran saya. Saya baru paham ketika mencoba masuk ke dalam penderitaannya. Ya! Penderitaan seorang perempuan bernama Maryam.

Pagi tadi, usai sembahyang subuh, tangan saya tergerak untuk menggapai sebuah buku yang berjudul "Quiet Moments for Busy Moms", karya Page&Mulvaney. Saya belum membaca semuanya. Saya hanya memilih bagian-bagian halaman yang menarik dan dapat menginspirasi dalam perjalanan menulis saya. Mata saya tertuju pada sebuah bab yang mengajak saya untuk merenungkan kisah perempuan yang selama ini saya kenal bernama Siti Maryam.

Selama ini saya memang mendapati berbagai kasus terkait dengan perempuan dan jalan hidupnya, tetapi saya lupa bahwa perempuan Maryam adalah sosok yang sangat layak dijadikan contoh/tauladan bagi perempuan, dalam hal bagaimana seharusnya mengatasi jalan hidup yang dirasa tidak membahagiakan. Kita hanya perlu tunduk dan patuh.

Mari saya ajak anda untuk masuk dalam kehidupan Maryam yang penderitaan dan luka batinnya, sungguh jauh lebih dalam dari saya dan anda. Ia adalah gadis yang cantik, bahkan sangat cantik. Maryam sangat gemar tersenyum dan hidupnya selalu ceria. Kemanapun Maryam pergi, senyumnya selalu menghiasi bibirnya. Siapapun yang berjumpa dengan Maryam, seperti tak ada pilihan lain kecuali harus “membalas senyumnya”.

Ia sedang menunggu saat-saat bahagianya, yaitu menikah dengan Yusuf, kekasihnya. Impian Maryam, mereka akan menjadi suami istri yang berbahagia, membangun rumah tangga yang bahagia dan menjadi orang tua yang berbahagia dikaruniai anak-anak yang membahagiakan.

Ketika dalam suka citanya menanti hari yang indah, tiba-tiba saja Malaikat Jibril datang menghadirkan sebuah “kekacauan illahiah”. Sang Malaikat, membisikkan sesuatu wahyu kepada Maryam. Sebuah wahyu yang mengejutkan, yaitu “Tuhan ingin Maryam menjadi ibu bagi seorang bayi yang kelak akan menjadi Nabi besar”.

Sebagai perempuan, Anda dapat bayangkan perasaan Maryam waktu itu. Sedang ia tak boleh mengatakan hal ini pada siapapun. Kegembiraannya berubah menjadi kegelisahan. Ia mengahadapi ancaman yang besar, menjadi ibu tanpa ayah. Ia harus melahirkan bayi tanpa suami, mengasuh, mendidik dan melindunginya hingga dewasa. Satu sisi ia bahagia menjadi perempuan “terpilih”, sisi lain ia mengalami duka yang mendalam. Siapa yang akan percaya bahwa itu adalah wahyu dan perintah Tuhan? Yusuf pasti membatalkan pertunangannya. Ini membuat Maryam sempat bersedih.

Menjadi perempuan yang hamil tanpa suami pasti bakal merubah keadaan. Hidupnya akan penuh dengan luka batin yang mendalam. Senyum yang biasanya ia terima berubah menjadi cibiran dan bisikan-bisikan yang sinis. Hari-hari yang mestinya dihabiskan untuk menjahit baju pengantin berubah menjadi diisi dengan menjahit baju hamil. Tetapi Maryam tidak mengeluh.

Maryam tetap tunduk dan patuh pada jalan hidup yang dipilihkan Tuhan untuknya. Kepedihan Maryam dan luka batinnya yang mendalam cukup diselesaikan bersama Tuhan. Yang perlu ia lakukan hanyalah senantiasa menjaga dirinya agar selalu terhubung denganNya. Satu-satunya hal yang dipercayai adalah Tuhan akan selalu menjaga dan melindunginya. Dan benar saja. Tuhan memberikan hadiah diluar jangkauan mimpinya. Ia bahkan sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa Tuhan akan menobatkannya menjadi seorang wanita yang sangat hebat. Seorang wanita yang Cantik di MataNya, yang “terpuji diantara wanita”.

Nah maukah anda menjadi perempuan yang Cantik di MataNya ? Renungkan bagaimana Maryam menyikapi penderitaannya.

Salam bahagia

5 komentar:

  1. pernyataan yg sangat sangat-sangat hampir tak lepas dari mulut saya tentang Dia yg selalu saya sebut sana, Dia itu Perawan dan Bunda, terpujilah Dia diantara wanita....
    maka saya sangat lagi sangat senang sekaligus terharu atas tulisan anda.... tentang Siti Maryam ini..
    kepada Maria orang katholik menghormati secara khusus di bulan Mei dan Oktober.
    tulisan yang tulisan inspiratip ini.

    BalasHapus
  2. Selalu dapat sesuatu yang baru dari karya-karya ibu.
    Menjadi cantik di mata-Nya memang perlu kerja keras dan pengorbanan.
    Seperti emas yang harus melewati proses pemanasan, harus ditempa, untuk menjadi emas yang murni.
    Demikian juga qta ketika melewati penderitaan hidup, percaya bahwa qta dibentuk untuk menjadi cantik di mata-Nya (seperti emas yg murni).

    BalasHapus
  3. @pak Datu,
    terima kasih banyak telah menginspirasi saya dalam banyak hal, salam hormat untuk bapak, moga sehat, bahagia dan terus berkarya!

    @Lusiana Rayani,
    terima kasih telah hadir, setiap sesuatu perlu bersabar dan berkorban untuk sampai kepada "menjadi dirinya", menjadi "karya indahNYA".
    salam bahagia dan sukses selalu untuk Rayani...

    BalasHapus
  4. Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita

    BalasHapus
  5. halo mbak arie... saya hadir di sini.. andai saya bisa baca bukunya... pasti sangat senang sekali...

    ada lagi contoh atau teladan ketegaran wanita... memberikan cinta yang tulus untuk seorang anak yang lahir bukan dari rahimnya...

    salaam... :)

    BalasHapus