Kamis, 22 September 2011

Seri Memimpin Diri; Menjadi Terpelajar BUKAN Mengejar Ijasah

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_________
“Berapa banyak orang yang anda dengar mempunyai begitu banyak gagasan? Berapa banyak yang merealisasikan gagasan itu? Keberhasilan adalah praktik. Keberhasilan adalah bermula dari menciptakan kebiasaan-kebiasaan”. (Anonim)

Dear pembelajar
Hingga hari ini, telah ribuan mahasiswa berhasil diswisuda. Dan tahukah anda telah ribuan pula judul skripsi, tesis dan desertasi telah dihasilkan oleh mereka? Ragam karya itu terpajang di hampir seluruh perpustakaan di negeri ini. Lalu mengapa persoalan dalam negeri ini tak kunjung selesai?
Perhatikan persoalan-persoalan kesejahteraan rakyat, kemiskinan, kebodohan, korupsi, perkelahian, pertengkaran, pertikaian, perusakan dan kerusakan lingkungan, kesehatan, ideologi dan pandangan hidup. Setiap hari, silih berganti persoalan-persoalan tersebut menjadi pokok pembicaraan yang ditayangkan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Bagai benang kusut.

Butuh waktu dan kesadaran diri untuk mendapatkan jawaban dari sebuah pertanyaan tentang “mengapa ini semua ini dapat terjadi..?”

Saya pikir, tidak ada alasan untuk selalu menyalahkan orang lain, pihak lain, sistem dan prosedur, meskipun saya adalah bagian yang tidak berdaya, tak mampu terlepas dari sebuah sistem besar yang telah dibangun/terbangun. 

Saya sendiri juga ternyata ikut memainkan peran dan terlibat langsung di dalamnya, karena saya merupakan salah sedikit bagian dari sistem  besar itu. 

Cukup lama saya merenungkan jawabannya. Ternyata, faktor penyebab dari semua itu bermuara pada satu hal, yaitu kegagalan ATAU salah urus dalam dunia pendidikan.

Pendidikan adalah akar dari semuanya. 
Sebab, pendidikan merupakan upaya untuk membina manusia. Manusia adalah penggerak utama (prime mover) dari semua hal dan kejadian di muka bumi ini. (jangan salah!, saya tak bermaksud mengatakan bahwa manusia adalah Tuhan).

Pandangan saya terbatas pada sebuah pemahaman, bahwa manusia adalah khalifah, wakil Allah. Manusia terlahir karena ada sebuah misi besar, menjadi khalifah/pemimpin di muka bumi ini. Dan menjalankan misi dari Allah menjadi pemimpin, bukanlah tugas yang mudah.

Kekhalifahan/kepemimpinan itu mempunyai jangkauan yang sangat luas, bergerak dari untuk ukuran yang paling terbatas pada diri sendiri hingga yang paling luas tak terbatas pada seluruh muka bumi. 

Rasanya, ‘memulai dari diri sendiri’, sebuah kalimat sederhana yang bermakna sangat dalam itu, menjadi sebuah keniscayaan untuk segera dipraktekkan dalam kehidupan dunia yang semakin chaos (kacau) saja dari hari ke hari.

Oleh sebab itu, perlu belajar dan pembelajaran. Belajar dan pembelajaran yang tidak boleh terbatas oleh ruang dan waktu, tidak boleh terbelenggu dan dibelenggu oleh rigiditas (kekakukan) teori. Belajar dan pembelajaran itu harus berproses terus menerus, sehingga dengan demikian proses bertumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya, akan dapat dicapai.

Karena begitu pentingnya pendidikan dan pembinaan manusia inilah, maka pendidikan dalam setiap negara menjadi perlu untuk dilembagakan. Selanjutnya, mereka dikenal sebagai lembaga pendidikan.

Saya menjadi sadar ketika Billi Lim, salah seorang guru pembelajaran saya, penulis “Dare to Fail” (Berani Gagal), mengatakan bahwa sekarang ini, orang telah keliru memaknai sebuah pendidikan. Orang telah memaknai pendidikan sebagai pergi sekolah.

Harus dibedakan antara menjadi terdidik/terpelajar dengan pergi sekolah. Jika pendidikan dimaknai sebagai pergi sekolah, maka tujuan utama pendidikan hanyalah sebatas pengejaran ijasah dan pencapaian gelar , bukan ‘menjadi orang yang terpelajar’ (educated people)

Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa belajar di sekolah itu tidak penting. Saya pun tidak menyalahkan pilihan anda. Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa sekolah atau kampus hanyalah salah satu cara untuk menjadi orang terdidik/terpelajar. Menjadi manusia bergelar dan berijasah, tidak bermakna apa-apa, jika tidak sama sekali berbuat sesuatu yang juga bermakna.

Negeri ini, begitu banyak sarjana, begitu banyak master dan juga doktor yang telah menyelesaikan ribuan judul riset, tapi mengapa menjadi sebuah negeri yang tentram, aman, makmur, sentosa di tengah kelimpahan kekayaan alam dan SDM, masih saja merupakan sebuah cita-cita yang kian sulit dicapai?

Keinginan saya untuk pengunjung www.papanputih.com , keluar dari kampus ini, jangan hanya menjadi manusia yang begelar dan berijasah, tetapi jauh lebih dari itu, jadilah manusia terpelajar ( become educated people). Praktekkan kesantunan dan kejujuran sebagai budi pekerti yang dijunjung tinggi. Ini merupakan indikasi terpelajar.

Ukuran penting lain dari educated people adalah hidup bermakna. Apakah yang dimaksud dengan bermakna? Yaitu, dapat membuat orang lain berbuat lebih baik, lebih bebas berkreasi, bertumbuh, berkembang dan juga menjadi pribadi yang lebih bermakna. 

Pendidikan tak boleh membelenggu, pendidikan adalah memberi kesempatan kepada pembelajar untuk bebas berkreasi, menumbuhkembangkan ide/gagasan baru, lalu merealisasi ide/gagasan dalam koridor penciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia lain. Sudahkah anda berbuat sesuatu yang bermanfaat hari ini? Berlombalah untuk menjadi orang yang terpelajar. Fight to be educated people! I love you.

Salam bahagia

5 komentar:

  1. I agree!!!
    Giving more motivation for being educated people.
    Tapi buk sayangnya kontras sekali dengan keadaan saat ini dimana sebagian besar perusahaan menjadikan gelar untuk penentuan gaji. Keahlian sudah bukan sesuatu yang paling penting. Jadi menurut saya, kemungkinan besar hal ini yang menjadi faktor banyak orang hanya mengejar gelar saja.

    BalasHapus
  2. Selamat pagi bu Aridha,,,

    saya sangat setuju dengan pendapat ibu yang mana kita harus menjdi seorang yang terpelajar dan tidak hanya mengejar ijazah, ijazah yang sebenarnya akan dapat kita peroleh apabila kita mampu menjadi pelajar sejati,

    tapi sayangnya saat ini ijazah juga dibutuhkan demi menunjang karir, namun ijazah tidak ada gunanya apabila tidak sertai dengan skill dan iptek yang memedai, kita akan diremehkan didalam organisasi.
    berbeda dengan pelajar yang memiliki ijazah, skill, iptek dan perilaku yang baik, akan lebih dihargai dan dicari oleh beberapa organisasi

    didalam perusahaan tempat saya bekerja, keahlian lebih diutamakan, ijazah tidak begitu dipikirkan. namun tidak dipungkiri ijazah juga dibutuhkan.

    oleh karena itu kejar ijazah dengan niat menjadi pelajar yang baik. gaji dan peluang akan kita dapat secara bersamaan.

    BalasHapus
  3. Selamat pagi bu Aridha,,,

    saya sangat setuju dengan pendapat ibu yang mana kita harus menjdi seorang yang terpelajar dan tidak hanya mengejar ijazah, ijazah yang sebenarnya akan dapat kita peroleh apabila kita mampu menjadi pelajar sejati,

    tapi sayangnya saat ini ijazah juga dibutuhkan demi menunjang karir, namun ijazah tidak ada gunanya apabila tidak sertai dengan skill dan iptek yang memedai, kita akan diremehkan didalam organisasi.
    berbeda dengan pelajar yang memiliki ijazah, skill, iptek dan perilaku yang baik, akan lebih dihargai dan dicari oleh beberapa organisasi

    didalam perusahaan tempat saya bekerja, keahlian lebih diutamakan, ijazah tidak begitu dipikirkan. namun tidak dipungkiri ijazah juga dibutuhkan.

    oleh karena itu kejar ijazah dengan niat menjadi pelajar yang baik. gaji dan peluang akan kita dapat secara bersamaan.

    BalasHapus
  4. saya setuju dgn apa yg ibu tulis, menjadi seorang manusia terpelajar bkn hanya dgn sebuah ilmu atopun gelar yang dimiliki, mungkin sekarang ini banyak lembaga pendidikan yg mengajarkan pelajar hanya dgn ilmu pendidikan saja tapi nilai2 moral kedisiplinan dan kejujuran jarang sekali diterapkan dalam lembaga pendidikan,buat apa ilmu yang tinggi atopun gelar yg merentet klo digunakan untuk hal-hal yang negatif, korupsi misalnya, jadi alangkah indahnya dunia lembaga pendidikan apabila disertai dengan ilmu kejujuran&keimanan yang tinggi.

    BalasHapus
  5. Artikel yang sangat menarik Bu Aridha. Banyak sekali pelajar memiliki mindset bahwa hasil akhir itu jauh lebih penting daripada proses-nya sendiri. Saya melihat bahwa menyontek sudah menjadi tradisi yang melekat dengan pelajar kita. Bahkan, menyontek tidak hanya terjadi di bangku SD saja, di perguruan tinggi baik S1 maupun S2 pun masih sering terjadi. Kebetulan saya seorang mahasiswa S2, dan saya sempat kaget melihat teman" saya yang sangat santai menyontek. Bahkan di era digital ini, sangat mudah sekali untuk melakukannya; BBM, camera phone, iPad. Menyontek merupakan kebiasaan yang telah terdidik dari kecil, sungguh sulit untuk menghilangkannya. Mengapa mereka menyontek? Supaya mendapatkan nilai akhir yang baik.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa di banyak perusahaan, ijasah itu merupakan entry requirement. Tetapi menurut saya, dengan modal ijasah saja, seseorang tidak akan bisa bertahan lama di perusahaan itu. Maka, utamakanlah proses pembelajaran ketimbang hasil akhir.

    BalasHapus